Loading...
image

"Ilustrasi pekerja mengamati mineral pada tambang bawah tanah"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 30 August 2021 / 0 Komentar

Mineral LTJ 

Mulai Kembangkan Teknologi Untuk LTJ, Indonesia Siap Lakukan Eksplorasi?

duniatambang.co.id - Logam Tanah Jarang (LTJ) atau juga disebut dengan Rare Earth Element baru-baru ini kembali menyita banyak perhatian. Hal tersebut dikarenakan LTJ adalah salah satu potensi yang dimiliki Afghanistan yang jika dikembangkan akan menjadi salah satu komoditas penopang ekonomi negara yang sedang dilanda konfilk tersebut. Namun dikarenakan beberapa faktor seperti faktor keamanan, krisis politik, infrastruktur dan kekeringan berkepanjangan, membuat LTJ dan cadangan mineral lainnya menjadi sulit untuk di eksploitasi. Walaupun LTJ tersebut sulit untuk dieksploitasi, namun potensi sumber ekonomi tersebut memiliki banyak manfaat sebagai sumber energi, baik dalam kemajuan teknologi, industri, maupun kehidupan sehari-hari.

Sama dengan Afghanistan, ternyata Indonesia juga memiliki potensi LTJ yang berlimpah.Badan Geologi Kementerian ESDM telah rutin melakukan pengkajian untuk menemukan adanya indikasi sumber daya hipotesis Logam Tanah Jarang. Sumber daya hipotesis tersebut ditemukan di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi per Tahun 2019. Sumber daya hipotetik di wilayah Pulau Sumatera sebesar 23 juta ton untuk tipe endapan LTJ Laterit dan 5 juta ton tipe tailings, wilayah Kalimantan sebesar 7 juta ton untuk tipe tailings, dan wilayah Sulawesi sebesar 1,5 juta tpn untuk tipe Laterit. Namun besaran angka tersebut belum dapat dipastikan dan dibutuhkan eksplorasi lanjutan.

PT Timah Tbk, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara, yang dalam beberapa tahun terakhir sudah melirik potensi LTJ ini, memberikan sinyal positif untuk siap mengeksplorasi LTJ. Seperti dilansir cnbcindonesia.com, Sekretaris Perusahaan PT Timah, Abdullah Umar Baswedan, dalam kesempatannya pada Rabu (25/08/2021), mengatakan bahwa pihaknya sedang mencari calon mitra untuk mengembangkan proyek ini. Mereka membutuhkan perusahaan yang memiliki teknologi canggih yang terbukti dapat mengolah bijih LTJ tersebut menjadi Logam, dimana diketahui bahwa LTJ ini merupakan mineral ikutan timah. "Kita saat ini sedang mencari partner dan menjajaki beberapa perusahaan yang memiliki teknologi proven untuk pengolahannya menjadi logam," ujarnya.

Sebagai informasi, PT Timah Tbk, memiliki IUP yang terdapat LTJ dengan kandungan cukup tinggi, yaitu seperti monasit = 25,7 gr/m3 , xenotime = 3 gr/m3 , dan zircon 17,5 gr/m3. Namun potensi tersebut masih belum dapat dikelola, mengingat adanya kendala dalam teknologi dan infrastruktur yang dapat mendukung dalam pengelolaan bijih itu sendiri.

Walaupun pengembangan teknologi secara komersial masih terlihat pasif, sebenarnya Indonesia telah lama mempersiapkan rancangan dalam mengelola LTJ agar dapat berskala industri. Seperti melansir ruangenergi (29/01/2021), Sejak tahun 2017, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah membangun prototype fasilitas pemisahan uranium, torium, dan  logam tanah jarang yang diberi nama PLUTHO. Teknologi tersebut berfungsi untuk memisahkan mineral radioaktif seperti uranium dan torium dari pasir monasit. Selain itu, dari proses pemisahan tersebut juga dihasilkan LTJ sebagai potensi yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ditambah lagi dengan adanya dukungan dari PT Rekayasa Industri (Rekind) yang merupakan perusahaan yang bergerak dibidang rancang bangun industri Engineering, procurement, construction, dan commissioning (EPCC). PT Rekind dan BATAN telah menjalin kerjasama dalam rangka menyusun studi kelayakan pengelolaan mineral radioaktif berbasis LTJ. Namun kerjasama tersebut masih skala engineering dan belum sampai ke skala investasi. Walaupun begitu, rancangan studi perekayasaan ini bertujuan untuk mengembangkan pengelolaan LTJ yang semula hanya berbentuk prototype menjadi skala komersial yang siap menjadi sumber ekonomi nasional.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar