Detail Berita


Indonesia Produsen Nikel Terbesar di Dunia, Teknologi Masih Kalah dengan China



Tanggal terbit: 18-07-2019

duniatambang.co.id - Dalam perdagangan nikel dunia, Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. Data dari Pusat Sumber Daya Mineral dan Batubara, sumber daya bijih nikel di Indonesia sebanyak 6.853,85 juta ton. Sedangkan sumber daya logam nikel di Indonesia sebanyak 92,45 juta ton.

Baca juga: Harga Jual Nikel Rendah, Indeks Nikel Indonesia (INI) Segera Diresmikan

Data dari USGS pada tahun 2017, bahwa total produksi nikel dunia pada tahun 2017 adalah 1.943.000 ton. Indonesia menjadi produsen terbesar di dunia dengan kapasitas produksi sebesar 400.000 ton.  Sementara pada tahun 2016, Indonesia merupakan eksportir nikel nomor 6 terbesar di dunia.

Dibandingkan dengan Indonesia, China menempati urutan ke-8 sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan kapasitas produksi hanya 98.000 ton pada tahun 2017. Saat ini di Indonesia ada 31 smelter nikel yang existing maupun yang masih dalam tahap rencana.

Meydi Katrin Lengkey, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), dalam agenda Forum Grup Discussion mengungkapkan, smelter yang dibangun di Indonesia merupakan transfer teknologi dari negara luar, terutama China. Indonesia menggunakan teknologi yang sebenarnya sudah ditinggalkan seperti di negara China, tambahnya.

Smelter nikel dibangun di Kawasan Mega Industri Morosi di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). Perusahaan tersebut adalah milik investor asal China yang membangun smelter sejak tahun 2017.

Meski produksi nikel di Indonesia terbesar di dunia, harga acuan nikel dunia masih mengacu pada LME (London Metal Exchange). Saat ini harga nikel di Indonesia berpatokan pada HPM (Harga Patokan Mineral). Yang sangat disesalkan, harga nikel masih di bawah harga HPM membuat para penambang nikel menginginkan adanya harga acuan nikel yang akurat.

Harga nikel untuk ekspor lebih tinggi dibandingkan dengan harga nikel domestik. Hal ini membuat perusahaan pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi berusaha mendapatkan kuota ekspor lebih tinggi dengan kadar rendah.

APNI (Asosiasi Penambang Nikel Indonesia) menyarakan untuk segera membentuk Indeks Nikel Indonesia untuk mengontrol harga nikel. APNI juga berharap pemerintah mesti turut andil dalam penentuan harga penjualan nikel dalam negeri.

 

(MS)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !