Loading...
image

"Pekerja di lokasi kerja oil dan gas"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 2 August 2021 / 0 Komentar

Energi Migas 

Hasilkan Rp96,7 Triliun Untuk Negara, Industri Hulu Migas Tetap Optimal di Tengah Pandemi

duniatambang.co.id - Pandemi Covid-19 merupakan momok yang sangat menakutkan bagi semua industri, tak terkecuali di sektor pertambangan seperti Minyak dan Gas Bumi (Migas). Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat pemerintah serta pekerja yang terlibat didalamnya. Hal itu dapat dibuktikan dengan tercatatnya penerimaan negara dari sektor migas yang mencapai US$ 6,67 Miliar atau setara dengan Rp.96,7 Triliun pada Semester – 1 Tahun 2021 ini.

"Seperti juga dirasakan oleh sektor lain, pandemi Covid-19 memberikan tantangan yang cukup berat bagi industri hulu migas. Namun SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menghadapi pandemi ini dengan melakukan usaha-usaha yang kreatif. Syukur pada Semester - I tahun 2021 ini kami berhasil memberikan penerimaan negara yang optimal," Jelas Dwi Soetjipto, selaku Kepala Satuan Kerja Khusus MInyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam kegiatan Jumpa Pers Kinerja Hulu Migas Semester - I tahun 2021, Jumat (16/7).

Pencapaian yang terbilang tinggi ini tidak terlepas dari harga minyak yang berangsur membaik jika dibandingkan dengan tahun 2020 lalu yang sempat jatuh. Tercatat harga Indonesian Crude Price (ICP) per Juni 2021 mencapai US$ 70,23/barel, yang kemudian digunakan secara maksimal sehingga dapat membantu memulihkan perekonomian dalam negeri.

Seperti dilansir dari website resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat banyak cara yang dilakukan di sektor hulu migas dalam mengoptimalkan kegiatan industri ini, seperti melalui pemilihan prioritas kegiatan work order dan maintenance routine dan inspection, efisiensi general administration khususnya akibat adanya pembatasan kegiatan.

Selain adanya keberhasilan dalam pencapaian penerimaan negara sendiri, pencapaian lifting migas juga terbilang baik. Pada Semester – 1 Tahun 2021 ini, tercatat rata-rata 1,64 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD). Tercatat dari jumlah tersebut, lifting minyak mencapai 667 ribu barel per hari (BOPD) atau setara dengan 95% dari target APBN yang ditetapkan untuk tahun ini, yaitu sebesar 705 ribu BOPD. Sedangkan lifting gas yang mencapai 5.430 MMSCFD mencapai 96% dari target tahun ini yang ditargetkan sebesar 5.638 MMSCFD.

Dwi juga menambahkan bahwa dalam mengejar target lifting tersbeut, pihak SKK Migas dan KKKS sedang berupaya dalam merealisasikan program Filling The Gap (FTG) dan juga berupaya agar 3 insentif hulu migas, yang mencakup tax holiday untuk pajak penghasilan di semua wilayah kerja migas, penyesuaian biaya pemanfaatan Kilang LNG Badak sebesar US$0,22 per MMBTU, dan sukungan dari kementerian yang membina industri pendukung hulu migas terhadap pembahasan pajak bagi usaha menunjang kegiatan sektor ini dapat disetujui pemerintah. Dengan keberhasilan capaian ini, Dwi meyakini penerimaan negara dari sektor ini pada akhir Tahun 2021 dapat mencapai Rp. 154 Triliun. Hal tersebut tentunya akan digapai dengan peningkatan kerja dan kegiatan seperti saat ini.

"Melalui Program FTG, telah ada tambahan minyak rata-rata 1.900 BOPD. Tambahan ini diluar rencana tambahan yang direncanakan dalam WP&B (Work, Program, & Budget) 2021. Ke depan, kami akan meneruskan Program FTG dan juga mengajak KKKS untuk melakukan akselerasi WP&B-nya sehingga diharapkan target APBN 2021 dapat terpenuhi," jelas Dwi.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar