Loading...
image

"Gold Vein"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 2 August 2021 / 0 Komentar

Mineral Emas 

Miliki Cadangan Emas 2.600 Ton Au, Indonesia Duduki Peringkat Ke-5 Dunia

duniatambang.co.id - Emas merupakan salah satu bahan galian tambang yang memiliki nilai jual yang tinggi. Nilai yang terdapat dalam emas, terutama emas batangan pun tidak akan pernah habis, seiring penggunaannya sebagai investasi yang sangat menjanjikan, emas juga menjadi salah satu penyokong perekonomian bangsa.

Seperti informasi yang didapat dari Booklet Tambang Emas Perak 2020 yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia tercatat sebagai peringkat Ke-5 sebagai negara dengan cadangan emas terbesar didunia. Indonesia memiliki 2.600 Ton Au, atau sekitar 5% dari total cadangan emas dunia yang mencapai 50.300 Ton Au. Sedangkan negara yang memiliki cadangan emas terbesar secara berturut-turut adalah Australia (20%), Rusia (11%), Afrika Selatan (6%), Amerika (6%), dan Brazil (5%).

Sementara itu, negara dengan produksi pertambangan emas dan konsumsi emas terbesar didunia adalah China, yaitu mencapai 13% dari total produksi emas global dan 32% dari total konsumsi emas global.

Komoditas emas global sendiri didominasi untuk pembuatan perhiasan dan investasi. Menurut data dari Resources and Energy Quaterly Tembaga per Juni 2020, sebanyak 49% emas global atau hampir setengahnya digunakan sebagai pembuatan perhiasan, 29% digunakan sebagai investasi berupa bar dan koin, 15% untuk Bank Sentral dan instansi yang berkaitan lainnya, dan 7% digunakan sebagai penyokong teknologi. Besaran ini tentunya sangat dipengaruhi oleh naik turunnya harga emas dunia, sehingga memengaruhi naik turunnya permintaan konsumen. Misalnya pada tahun 2019, harga emas dunia lebih tinggi sehinga berdampak pada penurunan permintaan konsumen di sektor perhiasan.

Berdasarkan data Badan Geologi pada Tahun 2019, total cadangan emas nasional tersebar di seluruh wilayah Indonesia, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia, PT Freeport Indonesia (PTFI) yang menguasai Izin Usaha Pertambangan (IUP) di dataran Papua. Papua sendiri juga merupakan daerah dengan penyokong cadangan bijih emas terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 1.869,00 juta ton atau sekitar 52% dari cadangan bijih nasional.

Menurut data Ditjen Minerba, DBM dan RKAB Antam LM Tahun 2020, Indonesia memiliki 142 Izin Usaha Pertambangan (IUP/IUPK), dan Kontrak Karya (KK), dan 1 pabrik pemurnian emas dan perak. Sehingga total produksi emas nasional pada tahun 2019 mencapai 109,02 Ton. Adapun perusahaan yang menduduki peringkat dengan produksi terbesar yaitu PT Antam (Persero) Tbk, UBPP Logam, PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Agincourt Resources.

Adapun secara umum industri disektor ini dimulai dari penambangan bijih yang mengandung emas, kemudian diolah menjadi Dore Bullion yang merupakan batangan logam yang belum murni karena masih mengandung campuran mineral lain seperti perak dan tembaga. Kemudian batangan ini diproses untuk memisahkan kandungan mineral lainnya dengan mineral utama yaitu emas, sehingga menghasilkan emas murni. Di Indonesia, penggunaan logam mulia masih berkutat di sektor perhiasan dan investasi.

Pemerintah sendiri terus mendorong peningkatan industri pertambangan ini, di mana salah satu usahanya adalah dengan menghapuskan Pajak Penambahan Nilai (PPN) granula sebagai bahan baku emas yang tertuang di Peraturan Pemerintah (PP) No. 70 Tahun 2021 tentang Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Tidak  Dipungut Pajak Pertambahan Nilai. Hal tersebut juga didasari karena bahan tambang ini menjadi salah satu penyokong pendapatan negara. Setidaknya pada Tahun 2020, menurut Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2020, negara menerima pajak dari perusahaan emas dan perak sebesar Rp. 3,5 Triliun dan Penghasilan Negara Bukan Pajak sebesar RP. 1,9 Triliun dengan persentase Iuran Tetap sebesar 3% dan Royalti sebesar 97% dengan asumsi keuangan 1 USD sebesar Rp. 15.000.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Faris Primayudha

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar