Loading...
image

"Emas putih"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 29 July 2021 / 0 Komentar

Mineral Emas Bukit Selindungan 

Mengenal Bukit Selindungan, Tambang Emas Putih Ekstrem di Pulau Lombok

duniatambang.co.id - Nusa Tenggara Barat (NTB) memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil emas terbesar di Indonesia, mengingat terdapat beberapa tambang emas berskala besar seperti tambang Batu Hijau Sumbawa Barat milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dan calon tambang emas raksasa di wilayah Hu’u Kabupaten Dompu dengan perizinan eksplorasi yang dimiliki PT Sumbawa Timur Mining (STM) yang diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2028 mendatang.

Tidak hanya itu, logam mulia tersebut juga banyak ditambang oleh masyarakat lokal, atau biasanya disebut dengan tambang rakyat. Pada umumnya tambang rakyat ini memiliki banyak kemudahan dalam proses perizinan, karena memiliki skala tambang dengan luasan terbatas dan diproduksi dengan alat-alat sederhana, sehingga dalam eksploitasinya sendiri lebih mengandalkan kekuatan fisik para pekerja. Dan salah satu tambang rakyat ini berada di Bukit Selindungan yang berlokasi di sisi barat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Seperti dilansir dari portal 20.detik.com, Bukit Selindungan, diketahui memiliki kandungan emas putih yang cukup potensial. Bukit dengan luas sekitar 500 meter2 tersebut dimanfaatkan warga sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tambang emas putih tradisional ini dibangun dengan peralataan yang sangat terbatas. Untuk mendapatkan batuan yang memiliki kandungan logam mulia ini pun, para pemburu emas putih ini harus melubangi bukit secara manual, yaitu dengan menggunakan pahat dan palu. Lubang tersebut dibuat mengikuti alur ditemukannya batuan yang mengandung emas putih.  Untuk penerangannya sendiri, para pekerja hanya menggunakan lampu kuning biasa dan senter kepala untuk menemani mereka di lubang yang sempit dan gelap tersebut.

Dalam operasi penambangannya sendiri, para pekerja harus melubangi bukit, baik secara vertikal maupun horizontal dengan memahat batuan yang cukup keras tersebut sedalam puluhan hingga ratusan meter. Hal ini tentunya sangat berisiko, karena para pekerja sendiri tidak dilengkapi dengan alat pengaman. Tidak hanya itu, konstruksi ala kadarnya, yaitu hanya mengandalkan bambu dan kayu-kayu yang tidak cukup kuat untuk menopang lubang tersebut juga dapat mengancam nyawa kapan saja. Ditambah lagi dinding lubang yang mudah runtuh tanpa adanya lapisan penguat dinding bisa memungkinkan para pekerja tertimbun hidup-hidup.

Selain resiko dari konstruksi tambang yang menjadi momok menakutkan bagi para penambang, resiko lainnya adalah kurangnya pasokan udara sebagai syarat vital dalam penambangan bawah tanah. Untuk sirkulasi udara sendiri, mereka hanya mengandalkan kompresor yang harus dipastikan tetap hidup selama proses penambangan berlangsung. Kompresor tersebut berfungsi untuk menyalurkan udara hingga ujung lorong dengan menggunakan saluran plastik yang sangat rentan.

Asep Mulayan, salah satu pemburu emas putih Bukit Selindungan tersebut mengaku pekerjaan penambangan tradisional ini sangat berisiko dan berat. Ia menjelaskan bahwa tidak ada kepastian dirinya dan para pemburu emas lainnya untuk selalu mendapatkan batuan dengan kandungan emas putih tersebut. Jika sedang tidak beruntung, ia bisa pulang dengan tangan kosong setelah menggali lebih dari 50 meter selama berhari-hari.

Pekerjaan yang sangat ekstrem ini pun tidak hanya dilakukan oleh warga laki-laki saja. Para perempuan tangguh di daerah tersebut juga ikut memanfaatkan peluang ini untuk mendapatkan penghasilan. Dari yang muda hingga tua, para perempuan tersebut ikut berkontribusi dalam pengangkutan pecahan-pecahan batu berharga itu. Awalnya, pecahan-pecahan batu yang dihasilkan para penambang dimasukkan ke dalam karung, yang kemudian ditarik keluar lubang melalui tali yang diikat di bibir lubang. Kemudian para pemikul yang berjumlah sekitar 40 – 50 orang tersebut membawa karung-karung dengan berat minimal 20 kg itu menuruni bukit yang terjal tanpa menggunakan alas kaki, mengingat jalur penurunan dipenuhi pecahan-pecahan batu yang berserakan. Mereka memikul karung tersebut dengan menggunakan kepala maupun punggung mereka demi mendapatkan upah 5 – 10 ribu rupiah.

Kemudian untuk menambah penghasilan, sebagian pemikul tersebut membawa pulang karung berisi pecahan batu untuk dijual ke tempat pengolahan. Namun sebelumnya, mereka harus menumbuk batu-batu tersebut menjadi halus, dan lagi-lagi secara manual, yaitu ditumbuk dengan menggunakan batu sedikit demi sedikit. Untuk satu karung batu yang telah ditumbuk tersebut, mereka mendapatkan bayaran sebesar 25 ribu rupiah.

Lalu proses selanjutnya, di tempat pengolahan, batu tersebut digiling kembali dengan mesin penghancur. Proses ini dilakukan untuk memisahkan kandungan emas dan batu. Lalu untuk mengikat kandungan emas putihnya, mereka menggunakan air raksa yang kemudian disaring dengan kain, sehingga akan menghasilkan gumpalan emas putih yang akan dipanaskan agar menjadi keras dan solid.

Emas putih memang cenderung lebih mudah dibentuk, sehingga memudahkan para pengrajin untuk mengolah cikal bakal perhiasan indah itu. Gumpalan emas putih tadi dibentuk menjadi cincin, gelang, dan kalung, yang kemudian diberi hiasan berupa mutiara ataupun berlian. Di NTB sendiri, salah satu pusat perdagangan emas putih sendiri terletak di kota besar seperti Mataram. Di pusat perdagangan emas putih ini, harga gelang yang telah dipadankan dengan mutiara dapat dibanderol hingga 8,5 juta rupiah.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar