Detail Berita


Fokus Energi Terbarukan, Bukit Asam Kejar Proyek DME dan PLTS


"PT Bukit Asam Tbk"
Sumber gambar: ptba.co.id


Tanggal terbit: 19-07-2021

duniatambang.co.id - Adanya kebijakan negara-negara di dunia yang mendorong terjadinya transisi energi dari energi fosil ke energi bersih terbarukan mendapat respon positif oleh sejumlah perusahaan tambang, khususnya batu bara di dalam negeri. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terkait adanya transisi energi itu berupaya merambah bisnis ke energi hijau.

Bukit Asam mengatakan bahwa sebelum seluruh dunia ramai soal masalah lingkungan, pihaknya selama ini telah memiliki sejumlah hal yang menjadi fokus utama dalam operasional perusahaan. Adapun fokus utama itu adalah pengembangan sarana distribusi batu bara, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang, dan juga proyek hilirisasi batu bara.

Seperti yang sudah diketahui, proyek hilirisasi batu bara yang sedang dikerjakan oleh Bukit Asam yakni mengolah batu bara untuk kemudian dijadikan sebagai Dimethyl Ether (DME). Lebih lanjut, DME itu nantinya akan diperuntukkan sebagai pengganti dari gas LPG yang selama ini keberadaannya merupakan hasil impor dari luar negeri.

Saat masalah lingkungan semakin mendapatkan sorotan dari banyak pihak internasional, Bukit Asam pun menambah lagi sejumlah proyek yang bertujuan untuk menurunkan emisi karbon. Proyek tersebut dijelaskan perusahaan ada dua, yakni meningkatkan energi baru terbarukan dan juga pengelolaan karbon.

Bukit Asam akan sangat serius dalam proyek energi baru terbarukan dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Untuk mewujudkan proyek PLTS yang nantinya memiliki kapasitas sebesar 241 kilo Watt peak, Bukit Asam menggandeng Angkasa Pura yang nilai investasinya mencapai USD194 ribu. Ini merupakan proyek uji coba, oleh karena itu dijelaskan oleh perusahaan nilai investasi yang dipakai tidak terlalu besar.

Secara terperinci Bukit Asam menjelaskan untuk lahan seluas 1 hektar akan bisa menghasilkan sebanyak 1 MW listrik. Biaya konstruksi dan pembuatan panelnya bisa mencapai sekitar Rp10 miliar, dan jumlah tersebut belum termasuk biaya tanah yang dibutuhkan. Hal ini akan berbeda, jika memiliki lahan bekas tambang.

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !