Detail Berita


Akan Dunia Kehabisan Logam Strategis?


"Ferrosilicon"
Sumber gambar: shutterstock.com


Tanggal terbit: 16-07-2021

duniatambang.co.id - Logam strategis adalah logam penting bagi perekonomian suatu negara, termasuk dalam keamanan nasional dan juga inisiatif energi hijau. Setidaknya ada 35 mineral yang dianggap menjadi bagian dari logam strategis tersebut.

Daftar 35 mineral itu mencakup logam dan semi-logam antara lain seperti aluminium, antimon, arsenik, barit, beryllium, bismut, sesium, kromium, kobalt, gallium, germanium, hafnium, indium, lithium, magnesium, mangan, niobium, platinum, kalium, rhenium, rubidium, skandium, strontium, tantalum, tellurium, timah, titanium, tungsten, uranium, vanadium dan zirconium.

Banyak dari logam ini termasuk dalam daftar pertama logam strategis yang dibuat oleh Survei Geologi Amerika Serikat di tahun 1973. Kemudian, logam tersebut dibutuhkan untuk penyulingan minyak bumi dan juga pembuatan kaca. Sementara daftar hari ini mencakup logam yang diperlukan untuk penggerak kendaraan listrik, sistem persenjataan dan satelit.

Cina saat ini telah menguasai 80 persen bahan baterai lithium-ion dunia, 77 persen baterai dunia, dan 60 persen komponen baterai dunia. Cina juga mempertahankan cadangan nasional dan pada 16 Juni 2021, mereka mengumumkan rencana untuk melepaskan beberapa cadangan logam tembaga, aluminium dan seng. Tujuan Cina melakukan ini adalah untuk menjaga harga komoditas agar tetap terkendali.

Cina merupakan konsumen logam terbesar di dunia, dan pelepasan beberapa cadangannya bisa berdampak cukup signifikan pada penawaran dan permintaan global. Cina diperkirakan akan melepaskan 150 ribu ton seng, 200 ribu ton tembaga, dan 500 ribu ton aluminium dalam beberapa kloter. Terakhir kali Cina menjual sebagian dari cadangannya adalah pada tahun 2010, dan itu termasuk aluminium, seng, timbal, magnesium, baja, dan karet.

Dalam upaya untuk mengurangi ketergantungannya pada logam Cina, sejumlah negara membentuk konsorsium pertambangan yang bertujuan menemukan dan mengembangan cadangan logam. Adapun negara-negara itu adalah Amerika, Australia, Botswana, Peru, Argentina, Brasil, Republik Demokratik Kongo, Namibia, Filipina dan Zambia.

Ketika sumber daya semakin menipis di Bumi, gagasan untuk menambang asteroid semakin menguntungkan. Ketika Bumi terbentuk lebih dari 4 miliar tahun yang lalu, gravitasi menarik banyak elemen menjauh dari kerak bumi dan kemudian turun ke inti, di mana mereka menjadi sangat sulit untuk dijangkau. Kemudian tumbukan asteroid membawa logam yang sangat dibutuhkan itu lebih dekat ke permukaan.

Hingga kini setidaknya ada tiga proyek penambangan asteroid yang telah dijalankan. Hayabusa yang dikembangkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency berhasil mendarat di asteroid Itokawa pada tahun 2005 silam dan membawa ke bumi sejumlah material pada tahun 2010. Hayabusa 2 kemudian diluncurkan pada 2018, dan kembali ke Bumi pada Desember 2020.

Lalu, pada September 2016, NASA meluncurkan misi OSIRIS-REX ke asteroid 101955 Bennu dan berhasil mendarat untuk mengumpulkan sampel di tahun 2018. Misi tersebut diperkirakan akan selesai pada tahun 2023 mendatang.

 

Penulis: Edo Fernando

Ediitor: Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !