image

"Ilustrasi Covid gelombang ke-2"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 8 July 2021 / 0 Komentar

Tambang Covid-19 

Gelombang Kedua COVID-19 di Indonesia, Ini Reaksi Perusahaan Tambang

duniatambang.co.id – Varian baru COVID-19 yang sudah masuk ke Indonesia, terutama varian Delta yang pertama diidentifikasi di India, menjadi penyebab lonjakan angka kasus COVID-19 di Indonesia dari bulan Juni lalu hingga saat ini. Menanggapi gelombang kedua COVID-19, pemerintah segera memberlakukan PPKM Darurat di seluruh Pulau Jawa dan Bali, mulai Sabtu (3/7) lalu. Pemberlakuan PPKM Darurat ini tentu harus disikapi dengan kedisiplinan dan gaya hidup higienis yang tidak hanya diterapkan untuk masyarakat umum, tetapi juga untuk badan-badan usaha, tak terkecuali dalam industri pertambangan. Terdampak oleh lonjakan COVID-19, dunia pertambangan Indonesia menghadirkan kabar yang beragam.

Sayangnya, beberapa lokasi pertambangan turut menyumbang kenaikan kasus COVID-19 di Indonesia. Seperti yang terjadi di lokasi pertambangan emas di Halmahera Utara (Halut) milik PT Nusa Halmahera Mineral (NHM), 251 karyawan perusahaan terindikasi positif COVID-19. Dikutip dari detiknews, menurut Kadin Kesehatan Halut Muhammad Tapi-Tapi, kasus COVID-19 yang masih aktif di Halut sebanyak 307, sehingga klaster pertambangan di sana menyusun hampir 85% dari kasus aktif COVID-19. Karyawan-karyawan yang terindikasi positif pun menjalani karantina di berbagai hotel di Maluku Utara. Selain itu, klaster tambang juga muncul di Bulungan, Kalimantan Utara. Dikutip dari republika, sebanyak 24 pekerja tambang batu bara di Desa Klubir terkonfirmasi positif. Menurut Kepala Bagian Humas Dinas Kesehatan Bulungan Heriyadi Suranta, klaster tambang ini disebabkan karena kontak erat.

Di sisi lain, tidak sedikit kabar baik yang datang dari industri pertambangan dalam upaya pencegahan dan pengobatan COVID-19. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia saat ini sedang menggalakkan penyebarluasan vaksinasi demi mencegah penyebaran serta menurunkan angka COVID-19. Upaya ini dilakukan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta, tak terkecuali perusahaan-perusahaan tambang.

Seperti program Vaksin Gotong Royong yang dilakukan oleh perusahaan seperti PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) yang bekerja sama dengan pemerintah untuk melakukan vaksinasi terhadap 1400 karyawan dan warga di Kolaka. Dalam program vaksin yang sama, Antam juga melaksanakan vaksinasi untuk pekerja dan keluarga mereka, dengan target vaksinasi hingga 3100 orang. Selain itu, PT Bukit Asam juga melakukan vaksinasi terhadap pegawai PTBA maupun perusahaan anak buahnya melaui program vaksinasi yang diselenggarakan Kementerian BUMN. Dan tentu masih banyak perusahaan tambang yang telah maupun akan melaksanakan vaksinasi baik terhadap pekerja maupun masyarakat umum.

Sementara itu, lonjakan angka COVID-19 saat ini juga mengakibatkan krisis oksigen sebagai suplai vital yang dibutuhkan dalam perawatan. PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyumbang iso tank oksigen sebanyak 21 unit, dengan masing-masing unit berkapasitas 25.8 ton. Menurut CEO IMIP Alexander Barus, perusahaannya memang memiliki fasilitas produksi oksigen. IMIP menyumbang 21 ISO Tank kepada Kementerian Kesehatan untuk digunakan di berbagai rumah sakit di Jawa dan Bali. Tank oksigen tersebut diambil dari pabrik oksigen sebagai bagian dari fasilitas smelter.

“Kami dari IMIP akan selalu siap membantu pemerintah sesuai kemampuan dan kapasitas kami terutama dalam misi penanganan kemanusiaan”, tuturnya.

Upaya-upaya seperti vaksinasi dan bantuan pengobatan pun menunjukkan salah satu aspek penting perusahaan pertambangan, yakni memperhatikan kesehatan pekerja dan kontribusi masyarakat umum. Sehingga dalam waktu kritis seperti ini, walaupun produksi perusahaan menghadapi ketidakpastian yang sangat besar, upaya perusahaan dalam turut menanggulangi pandemi patut diapresiasi.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah 

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar