Loading...
image

"Dokumentasi Forum Grup Diskusi Micromine Virtual Conference 2021"
Sumber gambar: Dokumen Dunia Tambang

Dunia Tambang / 2 July 2021 / 0 Komentar

Saham IPO Micromine 

Micromine Conference 2021:  Bagaimana Perusahaan Tambang Debut di Bursa Saham

duniatambang.co.id - Micromine bekerja sama dengan Dunia Tambang menyelenggarakan webinar yang berjudul “Road to IPO for Mining Industry” pada Selasa (29/06) sebagai momentum bagi Micromine untuk mulai melantai di bursa saham IDX sekaligus menciptakan wadah diskusi untuk komunitas perusahaan pertambangan yang ingin merilis saham perusahaan ke publik.

Salah satu rangkaian acara ini adalah Focus Group Discussion (FGD) yang mengundang Ambroise Nanquette, yakni Chief Commercial Officer (CCO) Micromine. Selain itu juga hadir tiga narasumber yaitu Yogi Brilliana Gahara (Head of Potential Issuer Development Strategy di Bursa Efek Indonesia), David Wyllie (Principal Mining Engineer at PT SMG Consultants Indonesia), dan Lufi Irwan Rachmad (Principal and Director at GEOMINE Mining and Geotechnical Indonesia). Turut memoderasi rangkaian FGD ini adalah Umar Rivaldy Pulukadang, Chief Operational Officer sekaligus co-founder dari Dunia Tambang.

Yogi memberikan pengetahuan seputar IPO sekaligus geliat perusahaan-perusahaan tambang yang telah mendaftarkan saham ke IDX. Yogi menggarisbawahi bahwa IPO dan pasar modal tentu menyediakan solusi alternatif bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan dan sumber daya terbaru, tak terkecuali pertambangan. Lebih lanjut lagi, Yogi menjelaskan bahwa perusahaan tambang sebenarnya tidak perlu khawatir untuk mulai IPO karena dalam proses IPO sendiri, akan ada banyak pihak yang turut membantu dan mendukung.

“Mendaftar untuk IPO sendiri sebenarnya tidak susah karena tidak sedikit pihak yang akan membantu perusahaan seperti dari tim hukum, auditor, konsultan, dan masih banyak lagi.” Ujar Yogi.

Yogi menunjukkan tren IPO yang ada di IDX selama tiga tahun terakhir. Meskipun dalam kondisi pandemik, tetapi IDX masih melihat jumlah perusahaan yang melakukan IPO di tahun 2020 cukup banyak sekitar 51, dengan hanya selisih empat perusahaan lebih sedikit daripada tahun 2019.

“Jumlah IPO kita juga merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara”, tambah Yogi.

Terkait perjalanan perusahaan tambang yang sudah memiliki eksistensi di IDX, beliau memaparkan bahwa perusahaan minerba mencakup 5% dari total perusahaan yang terdaftar. Lebih tepatnya 36 perusahaan minerba saat ini terdaftar di bursa saham IDX dari total 732 prusahaan. Meskipun hanya mencakup porsi kecil, market cap dari sektor minerba mencapai 188.5 Triliun rupiah. Dari index 45 perusahaan teratas di IDX yang dianggap paling likuid (LQ45), enam di antaranya merupakan perusahaan minerba.

Selanjutnya, David yang mewakili aspek teknis dunia pertambangan memberikan wawasan mengenai valuasi perusahaan minerba. David membuka sesi dengan memperlihatkan siklus valuasi perusahaan-perusahaan tambang yang secara umum berfluktuasi. David melihat bahwa masa terbaik bagi perusahaan tambang untuk IPO adalah 2 tahun terakhir setelah tahap pengembangan, di mana valuasi perusahaan umumnya meningkat secara signifikan. Akan tetapi, David memperingatkan penurunan valuasi yang umum terjadi selama tahap pengembangan, yang disebut dengan orphan period. Orphan period ini terjadi setelah perusahaan mengalami kenaikan valuasi setelah tahap eksplorasi. Kenaikan ini biasanya dicirikan dengan potensi tinggi yang dibarengi dengan risiko tinggi.

Penentuan valuasi perusahaan telah ditetapkan melalui beberapa badan standardisasi. Dalam lingkup internasional, acuan valuasi dibuat oleh International Valuation Standards Council (IVSC). Untuk perusahaan tambang sendiri valuasi distandardisasi dengan kode IMVAL yang dibuat oleh Committee for Mineral Reserves International Reporting Standard (CRIRSCO). Selain itu, beberapa negara juga sudah menetapkan standar valuasi, seperti Australia dengan kode VALMIN. Sedangkan kode valuasi untuk Indonesia sendiri masih dikembangkan oleh KCMI (Komite Cadangan Mineral Indonesia) yang diprakarsai oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI).

David pun menjelaskan prinsip-prinsip yang harus dijunjung dalam kode valuasi, seperti misalkan VALMIN yang berpegang pada asas kompetensi, transparasni, materialitas atau kelengkapan informasi, rasional, dan bebas dari segala bias. Pendekatan valuasi pun terdiri dari beberapa metode, yakni market-based, income-based, dan cost-based. David menyarankan lebih lanjut supaya perusahaan tambang setidaknya mempertimbangkan minimal dua metode pendekatan valuasi, dan dibutuhkan pengawasan dalam lima tahun proses valuasi terhadap perusahaan tambang yang telah bergerak lebih dari 10 tahun.

Sesi ketiga yang diisi oleh Lufi juga menjelaskan mengenai IPO. Lufi mengatakan bahwa dengan siklus bisnis pertambangan yang tidak singkat, IPO menjadi salah satu sumber modal yang turut diimpikan pelaku usaha tambang demi meningkatkan brand visibility dan likuiditas. Dengan IPO yang memakan total waktu antara 12 hingga 24 bulan, dibutuhkan keterlibatan dari banyak pihak seperti regulator, akuntan publik, konsultan hukum, penilai aset, serta spesifik untuk perusahaan tambang membutuhkan pihak kompeten. Pihak kompeten ini dapat berasal dari salah satu organisasi di bawah CRIRSCO. Pihak kompeten umumnya berperan dalam mempersiapkan laporan estimasi cadangan dan memastikan validitas dan relevansi dari segala informasi dalam Studi Kelayakan.

Selanjutnya, sesi narasumber terakhir diisi oleh Ambroise selaku CCO Micromine. Ambroise menjelaskan bahwa IPO sendiri merupakan kesempatan yang bagus untuk perusahaan tambang seperti Micromine untuk mengumpulkan modal. Meskipun Ambroise mengakui volatilitas dalam siklus bisnis tambang, ditambah dengan tren penurunan harga beberapa komoditas tambang seperti emas atau tembaga, beliau meyakinkan pelaku tambang untuk tetap optimis. Beliau juga menjelaskan bahwa segala tekanan dan tantangan yang datang ketika mempersiapkan IPO akan membuahkan hasil yang signifikan setelahnya selama ditangani oleh orang-orang yang berkompeten. Ambroise juga menekankan bahwa sejatinya IPO bukan dan jangan dijadikan tujuan dalam perjalanan hidup perusahaan, akan tetapi menjadikan IPO sebagai transisi dalam kehidupan perusahaan untuk meraih tujuan-tujuan jangka panjang yang lebih hebat.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar