Detail Berita


Mengenal Metan Hidrat, Harta Karun Migas Non Konvensional Indonesia


"pompa minyak, mesin rig"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 30-06-2021

duniatambang.co.id - Metan hidrat dan gas hidrat yang sekarang digadang-gadang menjadi Energi Baru dan Terbarukan yang sangat berpotensi di Indonesia merupakan metana (CH4) yang terperangkap dalam struktur kristal air.

Doddy Abdasah, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), pada kesempatannya di Webinar “Legal and Policy Framework for the Development of Offshore Methane Hydrate as the Indonesia’s Future Transitional Clean Energy” selasa (8/6/2021) lalu menjelaskan bahwa metan hidrat merupakan gas hidrat berbentuk kristal es yang memiliki rongga yang dapat terisi oleh molekul gas. Hal ini dikarenakan molekul air pada kristal es tersebut membentuk struktur seperti kurungan atau clathrate yang kemudian dapat menjebak molekul hidrokarbon seperti metana, C2, C3 dan CO2. Karena itulah gas hidrat ini juga disebut sebagai “Fire Ice” karena bentuknya yang menyerupai es tapi bisa terbakar.

Selanjutnya ia juga menyatakan bahwa gas hidrat ini merupakan sumber energi hidrokarbon non – konvensional terbesar karena diperkiran lebih dari setengah deposit hidrokarbon bumi tersimpan dalam bentuk metan hidrat.dan dapat diproduksi secara aman. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan deposit gas alam yang mencapai 13.000 Trillion Cubic Feet (Tcf), sedangkan deposit gas hidrat mencapai 5.000 – 12.000.000 Tcf di darat dan 30.000 – 49.000.000 Tcf di bawah laut.

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2004, menyatakan bahwa sumber daya spekulatif energi baru nasional ini diperkirakan mencapai 850 Tcf. Sementara menurut data PT Pertamina jumlah potensinya mencapai 3.000 Tcf, 3 kali lipat lebih besar dari data Litbang ESDM. Namun nilai tersebut masih diperdebatkan, mengingat belum ada penelitian komprenhensif terkait gas hidrat di Indonesia.

Merujuk kepada peta topografi dasar laut Indonesia, banyak sea beds pada area laut dalam Indonesia diperkirakan memiliki akumulasi gas hidrat dengan nilai volumetrik yang sangat besar. Analisis berdasarkan data seismik menunjukkan bahwa gas hidrat tersebar di daerah lepas pantai Simeuleu, Palung Mentawai, Selat Sunda, Busur Depan Jawa, Lombok Utara, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Aru, Misool, Kumawa, Wigeo, Wokam dan Salawati. Daerah lain yang dianggap memiliki potensi gas hidrat adalah Laut Flores, Teluk Bone, Laut Sawu, Laut Timor, lepas pantai selatan Banggai, Laut Banda, Laut Seram, Laut Maluku, dan lepas pantai utara Papua” Tulis Litbang ESDM pada website resminya, selasa (23/6/2020).

Dalam webinar yang sama, Doddy juga menambahkan bahwa analisis yang komprehensif dan terintegrasi dalam eksplorasi dan produksi, serta riset dan pengembangan teknologi produksi potensi energi baru ini sangat diperlukan. Hal ini ia tuturkan mengingat peluang pemanfataan potensi gas metan hidrat untuk menuju energi fosil yang “green energy” terbuka lebar.

Sementara itu, menurut Andrew Partain, Professor of International and Comparative Law, School of Law, University of Aberdeen, Indonesia harus segera menyiapkan kebijakan dan persiapan untuk mengembangkan industri offshore hydrate, mengingat sudah terdapat beberapa negara telah mempersiapkan diri agar industri ini dapat direalisasikan pada tahun 2030 nanti.

Namun menurut Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Indonesia memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan industri energi baru ini, seperti:

1. kurangnya penelitian mengenai gas hidrat yang membuat Indonesia harus mengejar penelitian sehingga peluang besar tersebut dapat digapai.

2. Potensi bahaya akan adanya efek pemanasan global yang ekstrem, jika gas tersebut tidak di eksplorasi. Hal ini karena gas metan yang berada di dasar laut berpotensi terlepas ke atmosfer dalam jumlah yang banyak jika terjadi kenaikan suhu. Terlebih lagi efek rumah kaca yang akan ditimbulkan adalah 25 kali lebih kuat daripada CO2.

3. Belum ditemukannya teknologi untuk memproduksi gas hidrat secara komersial.

4. Kegiatan eksplorasi sangat berisiko, biaya operasional yang tinggi dan ketidakstabilan pada tekanan gas.

5. Diperlukan riset yang lebih dalam untuk menjadi dasar regulasi baru ataupun untuk melengkapi regulasi yang telah dibua sebelumnya.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !