image

"Ilustrasi uang kertas melambung di atas latar belakang putih"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 29 June 2021 / 0 Komentar

Timah 

Harga Timah Merosot Saat Permintaan Tengah Melonjak

duniatambang.co.id - Permintaan komoditas timah yang akan digunakan dalam produk-produk elektronik mengalami lonjakan ke rekor tertinggi di paruh pertama tahun 2021. Jumlah tersebut melampaui pasokan dan menopang reli harga lebih dari 52 persen di London Metals Exchange dalam kurun waktu enam bulan terakhir.

Kekurangan peti kemas telah menyebabkan adanya keterlambatan pengiriman dari Asia Tenggara dan Amerika Latin. Sementara pandemi telah mendorong penurunan ekspor timah mentah dari Indonesia.

Kedua faktor itu menyebabkan kelangkaan timah di pasar global. Akibatnya, hanya dalam kurun waktu enam bulan, harga logam tersebut tumbuh sebanyak 1,5 kali lipat di busa London dari USD20,540 per ton di Desember 2020 menjadi USD31,264 per ton di bulan Juni ini.

Analis IndexBox memperkirakan harga timah yang tinggi bisa mendorong aktivitas penambangan untuk meningkatkan jumlah produksi secara bertahap guna menyeimbangkan penawaran dan permintaan di pasar. Menurut Bank Dunia, harga tahunan rata-rata timah pada tahun 2022 akan turun menjadi USD23 ribu per ton dan stabil dalam jangka menengah.

Sebagai informasi, pada tahun 2020, produksi timah mengalami penurunan sebesar 6,4 persen menjadi 359 ribu ton. Penurunan tersebut terjadi untuk tahun ketiga secara berturut-turut setelah dalam dua tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan. Dari segi nilai, produksi timah berkurang menjadi USD5,2 miliar pada tahun 2020 yang diperkirakan dalam harga ekspor.

Cina terus mendominasi produksi, di mana terhitung mereka mampu memproduksi sebanyak 168 ribu ton, atau sekitar 47 persen dari total volume. Semua negara produsen kecuali Rusia, Kongo dan Nigeria, mengalami kontraksi yang signifikan di sektor pertambangan tahun lalu.

Di Indonesia, produksi bijih timah turun 15 persen secara year on year, di Cina sebesar 4 persen di Myanmar sebesar 21 persen dan di Peru sebesar 9 persen. Dalam hal nilai, Singapura dan Malaysia menjadi negara dengan tingkat impor tertinggi tahun 2020. Di tahun tersebut, harga impor timah rata-rata mencapai USD18,195 per ton, sekitar 9,7 persen lebih rendah dibandingkan pada tahun sebelumnya.

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar