Loading...
image

"Mobil Listrik"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 29 June 2021 / 0 Komentar

Mobil Listrik Baterai 

Begini Metode Pemanfaatan Bakteri Dalam Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

duniatambang.co.id - Saat ini sudah ada lebih dari 1,4 miliar mobil di dunia dan jumlah itu akan berlipat ganda pada tahun 2036. Jika semua mobil itu menggunakan bensin atau solar, konsekuensi terhadap iklim akan mengerikan. Mobil listrik menghasilkan lebih sedikit polutan udara dan jika kendaraan itu ditenagai oleh energi terbarukan, mengendarainya tidak akan menambah gas rumah kaca yang berdampak buruk pada lingkungan.

Namun memproduksi begitu banyak kendaraan listrik akan menyebabkan lonjakan permintaan logam seperti lithium, kobalt, nikel dan mangan. Logam ini sangat penting untuk membuat baterai kendaraan listrik, tetapi ditemukan hanya di tempat tertentu saja.

Oleh karena produsen kendaraan listrik nantinya perlu menjaga biaya agar tetap rendah dan menemukan sumber bahan baku yang lebih bisa diandalkan. Menambang di laut dalam adalah salah satu pilihan, tetapi di sisi lain juga bisa berdampak pada habitat dan ekosistem yang ada di sana. Di saat yang sama, limbah elektronik berupa logam akan menumpuk di tempat pembuangan sampah dengan perkiraan 2,5 juta ton per tahun.

Baterai kendaraan listrik sendiri setidaknya akan memiliki usia delapan sampai sepuluh tahun. Baterai lithium-ion saat ini didaur ulang dengan progres yang kurang dari 5 persen di Uni Eropa. Alih-alih menambang sumber baru dari logam tersebut, mengapa tidak melakukan daur ulang?

Pabrik daur ulang baterai lithium-ion terbesar diketahui ada di Cina. Sementara daur ulang sering diperlakukan sebagai sebuah kewajiban perusahaan, terjadi persaingan yang sangat ketat, sehingga para pendaur ulang ini bersedia membayar lebih untuk mendapatkannya.

Sebagian besar baterai yang didaur ulang itu akan dicairkan dan logamnya diekstraksi. Hal ini sering dilakukan di fasilitas komersial besar yang menggunakan banyak energi dan ujungnya menghasilkan lebih banyak karbon. Pabrik tersebut sangat mahal untuk dibangun dan dioperasikan, dan membutuhkan peralatan canggih untuk menangani emisi berbahaya yang dihasilkan oleh proses peleburan. Meski biayanya tinggi, pabrik-pabrik itu jarang memulihkan semua bahan baterai yang berharga.

Namun, ada proses alami untuk mengekstraksi logam mulia dari limbah yang telah digunakan selama beberapa dekade itu.  Bioleaching juga disebut biomining, menggunakan mikroba yang dapat mengoksidasi logam sebagai bagian dari metabolisme mereka. Ini telah banyak digunakan dalam industri pertambangan, di mana mikroorganisme digunakan untuk mengekstrak logam berharga dari bijih. Baru-baru ini, teknik ini telah digunakan untuk membersihkan dan memulihkan material dari limbah elektronik, khususnya papan sirkuit cetak komputer, panel surya, air yang terkontaminasi, dan bahkan pembuangan uranium.

Peneliti telah menemukan bahwa semua logam yang ada di baterai kendaraan listrik bisa diambil kembali menggunakan bioleaching. Bakteri seperti Acidithiobacillus Ferrooxidans dan spesies tidak beracun lainnya bisa menargetkan dan memulihkan logam secara individual tanpa memerlukan suhu tinggi atau bahan kimia beracun. Logam murni ini merupakan unsur kimia, sehingga dapat didaur ulang tanpa batas ke dalam beberapa rantai pasokan.

Proses bioleaching melibatkan pertumbuhan bakteri dalam inkubator pada suhu 37 derajat celcius, seringkali menggunakan karbon dioksida. Tidak banyak energi yang dibutuhkan, sehingga prosesnya memiliki jejak karbon yang jauh lebih kecil ketimbang pabrik daur ulang biasa, sementara juga menyumbang lebih sedikit polusi.

Sambil mengurangi limbah baterai kendaraan listrik, dengan membangun fasilitas bioleaching berarti produsen dapat memulihkan logam mulia secara lokal, dan tidak terlalu bergantung pada beberapa negara produsen.

Nantinya, bioleaching bisa digabungkan dengan metode elektrokimia yang dapat mengeluarkan logam dan menjadikannya berguna untuk rantai pasokan. Sayangnya, metode yang ada dalam daur ulang logam yang melibatkan banyak energi dan bahan kimia beracun telah digunakan selama beberapa dekade. Industri tidak selalu mampu berinovasi, jadi semua kembali kepada kebijakan pemerintah untuk bisa mengamanatkan perubahan dan berinvestasi dalam metode alternatif yang lebih bersih.

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar