Detail Berita


Yuk Intip Geliat EBT di Berbagai Provinsi di Indonesia


"Solar Panel"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 24-06-2021

duniatambang.co.id - Indonesia menjadi salah satu negara yang turut berkomitmen terhadap adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui transisi menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Paris Agreement yang turut diratifikasi oleh negara menjadi suatu titik keberangkatan untuk melakukan upaya-upaya pembangkitan EBT dengan menerapkan target dan parameter tertentu. Meskipun Indonesia masih harus mengejar segala ketertinggalan dari target terhadap bauran EBT serta bentuk mitigasi iklim lainnya, tetapi di beberapa provinsi, potensi EBT yang diprediksi menjadi suatu motivasi untuk mewujudkan perkembangan berkelanjutan Indonesia, setidaknya dalam skala regional.

Baca juga: Komoditas Logam Kritis Apa Saja yang Dibutuhkan untuk EBT?

Beberapa provinsi yang sudah dinilai memiliki potensi EBT menakjubkan dan/atau rencana pengembangan EBT yang signifikan dapat ditemukan di wilayah Sunda Kecil – daerah kepulauan di sebelah timur pulau Jawa yang mencakup provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Dilansir dari kontan.co.id, Bali tercatat memiliki potensi EBT yang melimpah. Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, potensi di Bali mencapai 1200 MW dari energi panel surya dan 1000 MW dari energi angin. Pengembangan PLTS paling mungkin dilakukan karena dapat panel surya dapat dipasang di atas tanah, perairan, hingga atap rumah. Selain itu, ujar Tumiwa, PLTS memiliki kemudahan dalam penambahan kapasitas serta aksesibilitas terhadap masyarakat umum.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Chrisnawan Aditya menyebutkan bahwa pemanfaatan PLTS di Bali masuk 10 Besar, kendati dengan realisasi yang lebih rendah. Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menargetkan Bali mandiri energi di tahun 2022.

Wayan menjelaskan bahwa transisi EBT di Bali selaras dengan konsep kearifan lokal masyarakat “Kami saat ini sedang menata pembangunan Bali sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, di mana pembangunannya harus ramah lingkungan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal”.

Lebih lanjut lagi, beliau menginginkan Bali menghentikan penggunaan energi kotor saat Bali mampu mandiri energi bersih. Program EBT yang akan diimplementasikan berskala besar di Bali meliputi PLTS Atap dan penggunaan kendaraan listrik.

Loncat ke provinsi paling timur, pengembangan EBT di Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat menjadi cara untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan energi sekaligus rasio elektrifikasi, menurut Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. Dikutip dari artikel kompas.com, beliau menyatakan bahwa NTT memiliki potensi sumber energi terbarukan seperti matahari, angin, serta arus laut yang besar hingga 25 gigawatt.

Menurut Suharso, strategi pengembangan EBT di NTT dilakukan dalam tiga jangkauan. Dalam jangka pendek, inisiasi EBT dapat dimulai dengan menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) selama tiga hingga empat tahun. Sementara upaya jangka menengah dapat dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama dengan meningkatan grid system ke wilayah yang berpotensi secara ekonomi. Sedangkan tahap kedua mencakup pemanfaatan masif energi non-listrik seperti bio-gas, bio-massa, dan bio-solar untuk sektor rumah tangga dan transportasi. Selain itu, perlu dilakukan integrasi transmisi antar pulau besar di NTT. Dan terakhir, rencana jangka panjang meliputi konsolidasi proyek EBT di NTT sehingga dapat terbentuk integrasi jaringan smart NTT-Jawa dan ekspor energi ke NTB, Bali, dan Jawa Timur.

Sementara itu, Nusa Tenggara Barat (NTB) juga selalu melakukan transformasi menuju bauran EBT yang lebih besar. Salah satu pembangkit listrik EBT yang telah beroperasi dan menjadi milestone di Pulau Lombok adalah pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). PLTMH memanfaatkan tenaga dari arus sungai dengan debit air yang melimpah sebagai penggerak turbin. Salah satu pembangkit mikro hidro adalah PLTMH Lembah Sempage di Narmada, Lombok Barat. Dikutip dari artikel kompas.id, PLTMH tersebut memiliki kapasitas 900 kilowatt (kW) dari total potensi 1300 kW yang akan dikembangkan.

Selain Lembah Sempage, terdapat tiga PLTMH lain yang beroperasi di daerah tersebut. Pembangkit lain tersebut terdiri dari PLTMH Sesaot, PLTMH Narmada, dan PTMH Batu Bedil. Total daya yang dibangkitkan keempat PLTMH tersebut mencapai 2.95 Megawatt.

Tidak hanya PLTMH, NTB juga telah memiliki tujuh PLTS komersial. Ketujuh PLTS tersebut tersebar di berbagai daerah di Pulau Lombok. Ada juga PLTS yang dibangun di rumah warga. PLTS berjenis ini tidak membutuhkan jaringan transmisi dan distribusi. Data dari dinas ESDM NTB mencatat terdapat 12598 unit PLTS berskala rumah dengan kapasitas terpasang 736.25 kilowatt-peak (kWp), per Desember 2020. Selain itu, NTB juga memiliki PLTS komunal (dipasang terpusat) dengan jumlah 742 unit dan kapasitas terpasang 59 kWp.

Secara keseluruhan, bauran EBT di NTB yang telah dimanfaatkan oleh PLN yang mencapai 5.72 persen bersumber dari tenaga surya dan air. Kepala Dinas ESDM Provinsi NTB, M Husni mengapresiasi kontribusi PLN dalam pengembangan EBT. Beliau berharap pengembangan dan peningkatan kapasitas listrik berbasis EBT yang lebih besar. Pemerintah daerah pun selalu memberikan dukungan.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !