image

"Tahuna, Kepulauan Sangihe"
Sumber gambar: shutterstock.com

Dunia Tambang / 17 June 2021 / 0 Komentar

Sangihe Komoditas 

Pertambangan dan Keanekaragaman Hayati di Sangihe

duniatambang.co.id - Rencana pertambangan emas di Pulau Sangihe oleh PT Tambang Mas Sangihe (TMS) tengah menjadi sorotan media dan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan berbagai isu yang mengelilingi rencana pembukaan lahan tambang di pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina tersebut. Isu-isu tersebut meliputi aspek penolakan dari masyarakat lokal serta kekhawatiran terhadap keutuhan lingkungan dan keanekaragaman hayati, baik dalam cakupan wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah dikantongi perusahaan maupun dalam skala satu pulau.

Rencana pertambangan PT TMS didasarkan atas Kontrak Karya (KK) yang telah ditandatangani pada 1997. Seperti yang telah diberitakan, PT TMS telah mendapatkan wilayah konsesi sebesar 42000 Ha, yang mencakup hampir setengah dari Pulau Sangihe.

Kementerian ESDM, diwakili oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Ridwan Djamaluddin menyampaikan beberapa klarifikasi dengan poin-poin yang mencakup: 1) Kegiatan pertambangan TMS didasarkan atas Kontrak Karya tahun 1997, 2) Izin Lingkungan yang telah diterbitkan Pemda Sulut untuk PT TMS yang menyebutkan bahwa lokasi yang akan digunakan TMS hanya 65.48 Ha dari total 42 ribu, 3) Total luas wilayah TMS yang prospektif kurang lebih sebesar 4500 Ha atau 10% dari total area IUP, 4) Pemerintah akan mengevaluasi luas wilayah KK TMS dan dapat meminta pengurangan wilayah KK yang tidak digunakan/tidak prospek, dan 5) Pemerintah akan terus melakukan pengawasan ketat di lapangan untuk memastikan kegiatan pertambangan TMS dilakukan sesuai aturan sehingga tidak menimbulkan kerusakan lingkungan dan membahayakan masyarakat.

Meskipun telah dikeluarkan klarifikasi yang menyatakan pengurangan wilayah izin pertambangan dan pengawasan pertambangan yang lebih ketat, ada baiknya menilik aspek yang berpotensi tersdirupsi dari kegiatan pertambangan TMS ini.

Dari aspek geografis dan lingkungan, pulau Sangihe. Wilayah IUP PT TMS mencakup bagian selatan pulau Sangihe. Dilansir dari artikel BBC Indonesia, wilayah IUP tersebut mencakup Gunung Sahendaruman, gunung purba dengan dengan luas kurang lebih 3500 hektar dan menjadi benteng perlindungan terakhir dari burung-burung endemik Sangihe. Gunung Sahendaruman juga berperan sebagai area resapan air masyakarat Sangihe yang mencakup 70 sungai dan anak sungai yang mengalir ke desa-desa.

Terlepas dari segala kontroversi, pertambangan di Pulau Sangihe melibatkan wilayah yang sangat sensitif dari berbagai dimensi, salah satunya keanekaragaman hayati. Pulau Sangihe merupakan satu-satunya habitat dari seriwang sangihe, atau yang dalam Bahasa lokal disebut manu’ niu. Eksistensi burung ini tergolong “kritis” dan berpotensi terancam dengan disrupsi habitat seperti pembukaan lahan yang besar. Selain seriwang sangihe, terdapat sembilan burung endemik lain – empat berstatus kritis dan lima rentan – yang hidup di hutan Sahendaruman.

Dikutip dari artikel bbc.com, seriwang sangihe hidup di lembah-lembah curam hutan primer pada ketinggian sekitar 450 – 750 meter di atas permukaan laut. Burung ini hanya dapat ditemukan di lembah dan puncak Gunung Sahendaruman. Hal ini menyebabkan spesies tersebut cukup sensitive dengan perubahan habitat.

Rencana pertambangan di Sangihe bisa dikatakan dapat memberikan dampak dengan ketidakpastian yang besar, mengingat area tambang mencakup porsi yang cukup signifikan di pulau kecil, dan akan memengaruhi ekosistem yang sejauh ini hanya ditemukan di pulau Sangihe. Jika melihat sensitivitas ekosistem Pulau Sangihe berdasarkan ukurannya, maka dapat disimpulkan sementara bahwa keanekaragaman hayatinya tergolong rentan terhadap perubahan. Akan tetapi, studi lebih lanjut perlu dilakukan di Sangihe. Mengacu pada paper berjudul Mining and Critical Ecosystem yang dipublikasikan World Research Institute, perusahaan tambang atau pihak terkait harus menciptakan dan menggunakan indikator untuk identifikasi area dalam wilayah KK yang dianggap sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan, hingga mengidentifikasi area yang seutuhnya “terlarang” untuk ditambang demi konservasi hayati. Selain itu, perusahaan juga harus berkomitmen untuk menjaga keutuhan ekosistem.

Masih berdasarkan publikasi yang sama, kerentanan ekosistem terhadap bukaan lahan tambang dapat dilihat dari kerangka indikator yang mencakup area hutan lindung, area dengan nilai konservasi tinggi, dan keutuhan ekosistem. Sehingga tidak hanya sekedar penelitian ilmiah terkait ekosistem saja, pemangku kebijakan lingkungan hidup juga perlu melakukan analisis terhadap ekosistem-ekosistem berskala kecil yang ada di Sangihe serta pulau-pulau lain di Indonesia hingga memperbarui kebijakan supaya keutuhan ekosistem dapat terjaga, baik itu dalam cakupan wilayah satu pulau kecil hingga area multi-provinsi.

Sementara itu, publikasi lain mengenai tambang dan biodiversitas yang ditulis oleh Sonter dkk. pada tahun 2018 menyatakan bahwa hubungan antara aktivitas tambang dan keanekaragaman hayati dapat dibilang kompleks. Meskipun umumnya aktivitas tambang mengganggu habitat fauna, tetapi pertambangan mampu meningkatkan konservasi lingkungan di area sekitar. Akan tetapi, segala studi mengenai hubungan keduanya harus dilakukan secara hati-hati dan komprehensif. Selain itu, dialog yang melibatkan organisasi konservasi lingkungan juga dirasa perlu untuk mendapatkan perspektif lebih luas.

Sensitivitas keanekaragaman hayati dan lingkungan terhadap aktivitas pertambangan selayaknya menjadi perhatian utama industri utama untuk mewujudkan good mining practice (GMP) yang sedang digalakkan. Perhatian industri tambang terhadap aspek lingkungan serta sosial menjadi langkah awal pengaplikasian GMP. Terutama dalam kasus pulau Sangihe, segala potensi dan kerentanan haruslah dipelajari hingga diinformasikan ke public untuk mewujudkan praktis tambang yang bertanggung jawab.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar