Detail Berita


Mulai 2025, Tak Akan Ada Lagi PLTU Baru di Indonesia?


"PLTU"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 15-06-2021

duniatambang.co.id - Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengeluarkan draft terbaru Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2021 – 2030. Dalam draft tersebut tertuang rencana pemerintah untuk menghentikan pemberian izin untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis batu-bara. Selain itu, RUPTL 2021 – 2030 menunjukkan ambisi pemerintah maupun pemangku kepentingan lain untuk meningkatkan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Tanah Air. Hal ini terlihat dalam peningkatan porsi pembangkit listrik berbasis EBT menjadi 48% atau kurang dari sekitar 20 Megawatt (MW), dari total penambahan kapasitas 41 Gigawatt.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengungkapkan bahwa pemerintah memang niat menyusun rencana pengembangan tenaga listrik yang lebih hijau.

“Perbandingannya, RUPTL saat ini (2019-2028) hanya merencanakan 30% EBT, sementara yang saat ini disusun minimum (porsi EBT) 48%.”

Upaya-upaya tersebut direncanakan demi mencapai target bauran EBT yang semakin dominan hingga mencapai emisi karbon net zero pada tahun 2050. Meskipun porsi tenaga listrik berbasis bahan bakar fosil masih lebih besar 4% dari EBT di draft, Rida menuturkan bahwa EBT akan menjadi perhatian utama dalam RUPTL yang sedang digarap.

Selain program penambahan kapasitas EBT, persoalan harga jual listrik juga menjadi perhatian seiring pengembangan EBT sesuai RUPTL. Tarif listrik akan diselesaikan melalui Perpres yang masih dalam proses pembuatan. Draft Perpres harga listrik EBT dapat rampung jika RUPTL 2021 – 2030 telah dituntaskan. Lebih tepatnya, RUPTL nanti akan menjadi referensi dalam membahas rancangan Perpres harga listrik, yang menjadi pekerjaan dari Kementerian Keuangan.

Terkait upaya terminasi peningkatan kapasitas listrik dari batu bara, RUPTL yang masih dikonsepkan tersebut menyebutkan bahwa PLTU akan disubstitusi menjadi pembangkit berbasis kombinasi antar EBT seperti berbasis hidro, panas bumi, tenaga surya, bioenergy, dan lain-lain. Dengan sistem base load atau mampu beroperasi 24 jam. Mengacu kepada draf RUPTL, substitusi PLTU dengan PLT kombinasi antar EBT ini diperkirakan akan menghasilkan nilai ekonomis yang sebanding dengan PLTU dan dengan syarat bahwa pembangkit dapat beroperasi secara kontinu selama 24 jam serta dapat dilengkapi dengan sistem energy storage.

Selaras dengan RUPTL yang berorientasi pada energi bersih dan emisi karbon minimum, Ketenagalistrikan juga merancang konsep Net Zero Emission (NZE) sebagai perwujudan komitmen Presiden Joko Widodo pada perhelatan Conference of Parties (COP) 2015 di Paris, Perancis waktu itu. Rida menjelaskan bahwa di dalam RUPTL, para pihak terkait menyusun program, seperti metode dan regulasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil secara alami. Kemudian, RUPTL juga mengatur strategi untuk secara bersamaan menghadapi permintaan yang bisa dipastikan selalu meningkat, serta merencanakan substitusi batu bara untuk melepas ketergantungan terhadap sumber energi kotor tersebut.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !