Detail Berita


MGEI dan IAGI Sukses Selenggarakan Webinar Good Mining Practice


"Pekerja tambang melakukan proses pengamatan di area tambang"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 09-06-2021

duniatambang.co.id - Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) kembali menghadirkan acara webinar pada Rabu 2 Juni 2021. Webinar yang juga diselenggarakan bersama dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengangkat tema good mining practice (GMP), dengan judul “Good Mining Practices from the Regulator, Industry, and its Main Stakeholder Perspective”. Rangkaian acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai organisasi dan latar belakang. Salah satu narasumber adalah Sukmandaru Prihatmoko, seorang geologis yang saat ini memegang posisi sebagai Dewan Pengawas IAGI dan Dewan Penasihat MGEI.

Sukmandaru mengawali sesi pemaparannya dengan menekankan pentingnya Good Mining Practice akibat peningkatan kebutuhan masyarakat seiring kenaikan populasi global. Tren tersebut tak lepas dari tuntutan terhadap pertambangan sebagai suatu kegiatan yang telah ada dari zaman prasejarah untuk memenuhi kebutuhan umat manusia. Terlebih lagi, Sukmandaru menjelaskan bahwa ahli geologi sebagai aktor yang berperan di sektor hulu pertambangan merasakan tuntutan untuk menemukan cadangan bahan tambang yang semakin besar. Di samping tuntutan pasokan barang tambang, pertambangan juga menghadapi isu lingkungan, dimana sebagian besar aktivitas tambang memberikan efek destruktif terhadap lingkungan, sehingga mampu mengancam keseimbangan ekologi dan memberikan stigma negatif terhadap tambang sebagai “perusak lingkungan”. Berangkat dari tren dan isu tersebutlah inisiatif GMP harus mulai diimplementasikan dari sekarang.

GMP sendiri juga berangkat dari, dan dianggap selaras terhadap, konsep Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). SDGs sendiri mencakup 17 poin yang ditujukan kepada negara anggota PBB supaya menjadi acuan target untuk tahun 2030 dalam menyelesaikan isu-isu multidimensional seperti sosial, iklim, dan kesehatan. Sukmandaru menyampaikan bahwa sebagian besar poin SDGs menjadi aspek yang melibatkan sektor pertambangan supaya tambang bisa masuk ke era baru. Sukmandaru menjelaskan lima isu besar yang mendorong transformasi industri pertambangan ke era baru, dengan istilah: Green Revolution, Critical Raw Material, Transparency Initiative, Circular Economy, dan Urban Mining.

Lima isu besar yang dipaparkan oleh Sukmandaru tersebut sekaligus menjadi panduan supaya industri tambang mampu melakukan aktivitas terbaik terkait dengan pembangunan berkelanjutan, keterbukaan, kesetaraan, pengelolaan & perbaikan lingkungan (alam dan sosial), concern perubahan iklim, serta cerdas dalam hal pakai buang.

Green Revolution dalam tambang merupakan prinsip transisi energi yang fundamental. Transisi ini bertujuan mengubah industri tambang dari ekonomi berbasis “energi coklat” menjadi “energi hijau”. Apa yang dimaksud dengan coklat dan hijau? Coklat sendiri berasosiasi dengan energi berbasis fosil yang kotor dan menyumbang emisi karbon secara signifikan. Sementara energi hijau berkaitan dengan energi terbarukan yang ramah lingkungan. “Untuk menuju ke green technology dan energy, tambang membutuhkan material yang lebih banyak dan beragam seperti cobalt dan lithium” ujar Sukmandaru. Kebutuhan akan keberagaman dan kuantitas material lebih besar menuntut suplai dari critical raw materials.

Critical Raw Material (CRM) didefinisikan sebagai bahan tambang yang dianggap penting dan strategis dibutuhkan oleh suatu negara tetapi dengan keterdapatan rendah sehingga dianggap beresiko tinggi. CRM dianggap sebagai kunci untuk membangun energi, teknologi, dan infrastruktur bebas karbon. Uni Eropa mengklasifikan berbagai macam komoditas sebagai CRM dengan tingkatan level dari satu hingga enam, dengan level yang semakin besar mengindikasikan kerentanan suplai dari suatu komoditas. Komoditas logam tanah jarang masuk dalam CRM dengan level tertinggi, disusul puluhan jenis yang lain. Dalam kancah internasional, umumnya pasokan REE dunia bergantung pada China. Sedangkan Indonesia turut memasok komoditas karet alam untuk Uni Eropa.

Isu transparansi inisiatif dalam industri ekstraktif (migas dan tambang) umumnya dinaungi oleh badan standardisasi global bernama Extractive Industries Transparency Initiative (EITI). Mengutip dari materi webinar, standar EITI mengatur keterbukaan informasi industri ekstraktif mulai dari proses ekstraksi, pemasukan ke pemerintah, dan pemanfaatan terhadap public. EITI sendiri telah diterapkan oleh 55 negara termasuk Indonesia.

Isu lain yang perlu diperhatikan industri tambang untuk mewujudkan GMP adalah circular economy (ekonomi bersiklus). Ekonomi bersiklus mengacu kepada alur manufaktur untuk mewujudkan proses dan hasil yang menguntungkan bisnis/industri, ekonomi, dan lingkungan. Akan tetapi, fokus utama ekonomi bersiklus lebih kepada upaya efisiensi dan konservasi lingkungan sekaligus untuk menerapkan praktis “zero waste”. Alur ekonomi bersiklus menitikberatkan kepada penggunaan ulang (reuse), kreasi ulang (remake), dan daur ulang (recycle) dari produk sisa pakai. Alur ekonomi bersiklus ini berkebalikan dari alur ekonomi linier yang hanya berfokus semata pada penghasilan produk sehingga limbah ataupun produk sisa tidak dikendalikan dengan baik. Sukmandaru mengatakan bahwa industri pertambangan haruslah mampu meminimalkan bahan buangan untuk mencapai ekonomi siklus. Di lain hal, beliau juga mengakui bahwa perwujudan alur siklus di pertambangan tidaklah mudah.

Tantangan terakhir yang tidak bisa terpisahkan dari ekonomi siklus adalah urban mining. Konsep dari urban mining adalah “menambang” sampah-sampah seperti sampah elektronik (e-waste) dengan bahan-bahan dominan logamnya dapat diolah kembali menjadi suatu produk yang bermanfaat. Sukmandaru mencontohkan Jepang yang sudah mulai mengeksploitasi e-waste dalam manufaktur.

Kelima konsep tantangan dalam perwujudan GMP tersebut sejatinya berangkat dari prinsip-prinsip yang telah disepakati yang menjunjung tinggi praktik etis, keberlanjutan, dan konservasi lingkungan. Namun kelima konsep tersebut jangan sampai hanya sebatas di ide revolusioner saja, melainkan terus diimplementasikan dengan skala yang semakin besar dari waktu ke waktu.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !