image

"Ilustrasi energi baru terbarukan"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 17 May 2021 / 0 Komentar

Energi EBT 

Bagaimana Posisi Transisi Energi Indonesia di Dunia?

duniatambang.co.id - Laporan transisi energi yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) pada tahun 2021 ini mengungkapkan perkembangan negara-negara dalam transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT). Laporan terbaru tersebut menunjukkan indeks negara dalam indeks transisi energi.

Indonesia mendapatkan skor indeks sebesar 56 dari total skor 100. Skor tersebut diperoleh dari perata-rataan indikator performa sistem 2021 dan kesiapan transisi 2021. Meskipun Indonesia memiliki skor sebesar 67,8 dalam performa sistem, yang dianggap relatif tinggi di antara negara-negara berkembang , tetapi dalam indeks kesiapan transisi Indonesia mendapatkan skor 44,8 yang relatif lebih rendah dari negara-negara lain.

Dalam segi peringkat, Indonesia menempati posisi 71 dari 115 negara. Indonesia mengalami penurunan peringkat dari tahun ke tahun, mulai dari peringkat 53 pada tahun 2018, merosot ke peringkat 63 pada tahun 2019, kemudian turun ke peringkat 70 pada tahun 2020, hingga berpindah satu peringkat di bawah pada tahunn 2021 ini.

Di Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan keenam dalam transisi energi, di bawah Singapura dengan skor 67, Malaysia dengan skor 64, Thailand dengan skor 60, Vietnam dan Filipina dengan skor 57.

Kesiapan Indonesia menuju pengembangan EBT mengalami kemunduran akibat subsidi bahan bakar fosil sekaligus penurunan permintaan energi dari pasar karena dampak pandemi COVID-19. Menurut WEF, penurunan permintaan energi dan harga bahan bakar menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih rentan dan sulit dalam energi transisi kecuali jika ada campur tangan serius dari pemerintah.

Kepala proyek untuk energi dan material masa depan WEF, Vijay Singh, mengungkapkan bahwa penurunan peringkat Indonesia dalam indeks transisi energi terutama disebabkan oleh kemunduran dalam pengembangan ekonomi, khususnya dari kebijakan subsidi. Beliau menjelaskan lebih lanjut mengenai kebijakan subsidi bahan bakar fosil di Indonesia seperti mengurangi insentif untuk pemakaian yang efisien dan memberikan insentif yang lebih menguntungkan kepada konsumen dengan pendapatan tinggi.

Menurut Vijay, Indonesia sendiri telah mengalami kemajuan dalam akses terhadap energi, sekalipun belum menunjukkan perkembangan yang serius dalam komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Dampak lingkungan pun perlu diperhatikan mengingat batu bara masih dan akan mendominasi produksi tenaga listrik nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut pakar ekonomi energi dari the Economic Research Institute for ASEAN and East Asia Alloysius Joko Purwanto, subsidi bahan bakar fosil seperti batubara dan migas menjadi penyebab utama dalam kemunduran transisi energi nasional. Di sisi lain, beliau juga mengungkapkan bahwa jatuhnya harga minyak dan realokasi dalam anggaran energi mampu membuka peluang untuk meningkatkan transisi EBT Indonesia.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar