Detail Berita


Memberantas Merkuri demi Keamanan pada Tambang Emas Rakyat


"Aktivitas mendulang emas"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 06-05-2021

duniatambang.co.id – Indonesia memiliki banyak area penambangan skala kecil yang dimiliki oleh penduduk lokal. Penambangan emas ini tersebar di beberapa wilayah dan masih mengandalkan teknologi yang terbatas. Teknologi yang terbatas ini juga menyebabkan para pekerja tambang yang umumnya masyarakat sekitar rentan terhadap risiko-risiko dalam beraktivitas di area penambangan. Salah satu risiko yang paling jelas terlihat adalah tereksposnya para pekerja terhadap unsur merkuri.

Dalam praktik penambangan, merkuri dibutuhkan untuk mengekstraksi emas dari material seperti bijih atau pasir. Padahal, World Health Organization (WHO) telah menetapkan merkuri sebagai suatu zat kimia yang paling mematikan. Merkuri pun masuk ke dalam kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) menurut Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 dengan penggunaan yang harus dikontrol dan dibatasi. Penambangan emas skala kecil, atau PESK, menjadi salah satu sumber keluaran polusi merkuri terbesar di dunia. Berdasarkan data United Nations Development Program (UNDP), dikutip dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi DIY, setiap tahun PESK seluruh dunia melepaskan 195 ton merkuri ke lingkungan. Pencemaran merkuri akan menetap karena sifat merkuri yang tidak dapat terurai dan mampu berakumulasi dalam tubuh makhluk hidup.

Untuk menghapus risiko terkait merkuri, baik terhadap pekerja tambang ataupun lingkungan, UNDP bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam suatu proyek bernama Global Opportunities for Long-term Development of Artisanal Small-Scale Gold Mining atau disingkat sebagai GOLD-ISMIA. GOLD-ISMIA merupakan bagian dari program global planetGOLD dan mendapatkan pendanaan melalui badan di bawah UNDP yang bernama Global Environment Facility (GEF).

Tidak lama ini proyek GOLD-ISMIA telah mengembangkan teknologi dengan tangki leaching berskala mikro dan sianida yang mampu meningkatkan keamanan penambang kecil dalam melakukan proses ekstraksi tanpa menggunakan merkuri. Meskipun masih dalam proyek pilot, teknologi ini mampu mengurangi efek berbahaya dari tambang berskala kecil terhadap kesehatan pekerja serta lingkungan.

Proyek yang dikembangkan di desa Hulawa, Gorontalo dengan periode eksperimentasi proyek pada Februari 2021 ini menggunakan bahan sianida sebagai substitusi merkuri yang relative lebih aman terhadap manusia (pekerja tambang) sekaligus lingkungan. Menurut Gugum Gumelar, peneliti BPPT, sekalipun sianida masih termasuk unsur berbahaya, tingkat toksisitasnya dapat dikurangi secara signifikan melalui pengolahan limbah B3 yang tepat. Penggunaan sianida pun lebih ekonomis dengan tangki yang lebih murah dan mudah digunakan. Sebagai contoh, sebuah tangka berkapasitas 650 liter mampu diisi oleh batuan kecil hingga sebesar 250 kg.

Proyek GOLD-ISMIA ini akan dilakukan percobaan lapangan di tiga daerah terlebih dahulu di tiga lokasi, yakni Hulawa-Gorontalo, Obi-Maluku Utara, dan Kulonprogo-Yogyakarta. Kegiatan percobaan lapangan ini diharapkan mampu membantu menentukan takaran-takaran bahan kimia secara presisi yang dibutuhkan dalam penambangan hingga mengawasi pengembangan lebih lanjut pengolahan emas bebas-merkuri yang direncanakan akan diperluas aplikasinya.

Dalam keberjalanannya, proyek ini menargetkan beberapa parameter. Pertama, proyek ini diharapkan mampu menggaet setidaknya 10 grup PESK untuk diberikan kapasitas mengajukan pinjaman untuk peralatan pemurnian emas bebas merkuri. Kedua, diharapkan emisi merkuri dari PESK ini dapat ditekan hingga 15 ton melalui praktik penambangan emas yang telah dikembangkan ini. Ketiga, 60 grup PESK dapat didukung dalam proses formalisasi sehingga memperbesar peluang pendapatan yang berkelanjutan dan konidisi kerja lebih aman. Dan yang keempat, 20.000 orang telah meningkatkan kesadaran terhadap bahaya merkuri dan mengurangi penggunaannya dalam PESK.

Indonesia sendiri merupakan salah satu dari sembilan negara yang berpartisipasi dalam proyek di bawah program planetGOLD tersebut. Jika GOLD-ISMIA dapat diterapkan dalam skala nasional, emisi merkuri nasional dapat dikurangi hingga sebesar 15 ton.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !