Detail Berita


30 Smelter Jalan, Produksi Bijih Nikel RI Melonjak 3x di 2024


"Pembakaran di dalam furnace"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 04-05-2021

duniatambang.co.id - Pemerintah Indonesia terus menggencarkan hilirisasi mineral dan batubara agar memperoleh keuntungan lebih banyak dibandingkan hanya menggali dan menjual tambang mentah. Salah satu komoditas mineral yang pesat kemajuan industri hilirnya yaitu nikel.

Melansir dari CNBC Indonesia, kini sebanyak 30 fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel baru sedang dibangun. Istilah smelter yang sering dikenal dengan furnace, tanur, atau tungku merupakan wadah bata tahan api (refaktori) dengan desain tertentu yang berbasis pada teknologi pirometalurgi yang berfungsi untuk mengekstraksi logam. Adapun yang sedang dibangun tak hanya smelter bijih nikel saja, namun pabrik turunan lainnya seperti stainless steel hingga komponen baterai juga tengah dibangun.

Banyaknya fasilitas smelter yang sedang dibangun tentunya membutuhkan lebih banyak bijih nikel yang harus diproduksi. Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.16 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024, produksi bijih nikel diperkirakan naik hampir tiga kali lipat menjadi 71,40 juta ton pada 2024 dari produksi tahun ini yang sekitar 19,31 juta ton. Peningkatan produksi bijih nikel mulai terlihat pada 2021 menjadi 30,10 juta ton, lalu naik lagi menjadi 59,94 juta ton pada 2022, dan 71,74 juta ton pada 2023.

Sejalan dengan peningkatan produksi bijih nikel, bijih yang diolah di dalam negeri pun mengalami peningkatan. Bijih yang diolah di dalam negeri ditargetkan naik menjadi 52,14 juta ton pada 2024 dari target tahun ini yang sekitar 12,77 juta ton. Meskipun belum sepenuhnya bijih nikel yang diproduksi itu diolah di smelter dalam negeri, namun terjadi peningkatan rasionya menjadi 73% pada 2024 dari rasio tahun ini yang sekitar 66%.

Berdasarkan data dari Permen ESDM tersebut, bijih yang diolah di dalam negeri ditargetkan naik menjadi 21,32 juta ton pada 2021, lalu 43,58 juta ton pada 2022, dan 52,61 juta ton pada 2023. Angka-angka tersebut merupakan indikator dalam rangka mengukur optimalnya ketersediaan mineral untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan industri turunan lainnya. Adapun utilisasi smelter nikel olahan seperti feronikel dan Nickel Pig Iron (NPI) pada 2024 ditargetkan naik menjadi 75% dari tahun ini 70%, dan nickel matte menjadi 95% dari tahun ini 90%.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan dari 48 smelter yang tengah dibangun saat ini dan ditargetkan beroperasi pada 2024 mendatang, sebanyak 30 smelter merupakan smelter nikel. Dari 30 smelter nikel yang tengah dibangun, 13 smelter kemajuannya lebih dari 90%, lalu sembilan smelter capaiannya 30%-90%, dan delapan smelter kemajuannya kurang dari 30%.

 

Penulis: Iqlima Nur Annisa

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !