Detail Berita


Ambisi Indonesia untuk Baterai Mobil Listrik



Tanggal terbit: 28-04-2021

duniatambang.co.id - Program webinar bertajuk “Mining Talk Series” pada Kamis, 22 April 2021 mengangkat tema industri baterai tanah air yang berjudul “The Role of Mining Commodities in the Development of Indonesia Battery Industry”. Acara yang diselenggarakan oleh Dunia Tambang dan Pamerindo tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang. Narasumber tersebut terdiri dari Agus Tjahajana Wirakusumah dari MIND.ID, sebuah holding perusahaan tambang di Indonesia; Yoseph. C.A. Swardhana dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI); dan Prof. Johnny Wahyuadi, guru besar Metalurgi Universitas Indonesia. Acara tersebut dibagi menjadi tiga sesi sesuai dengan jumlah pembicara.

Sesi pertama membahas mengenai hilirisasi nikel, tepatnya mengenai riwayat hingga rencana pembangunan proyek baterai EV (electric vehicle) BUMN. Agus selaku narasumber pada sesi ini menceritakan latar belakang ambisi Indonesia dalam berekspansi ke industri baterai EV. Industri EV yang dilirik Indonesia ini tentunya searah dengan perubahan tren dunia, sebagai upaya mitigasi perubahan iklim yang tentunya memberikan dampak signifikan terhadap Tanah Air. Selain itu, upaya ini juga diseriuskan dengan Paris Agreement yang diratifikasi oleh berbagai negara termasuk Indonesia.

Perjanjian ini turut memicu Indonesia dalam usaha menurunkan emisi karbon dan menekan laju peningkatan suhu bumi. Salah satu perwujudan upaya ini ditampilkan terhadap industri otomotif, tepatnya kendaraan bertenaga listrik atau EV. Negara-negara maju seperti AS, China, serta Uni Eropa sudah mengembangkan EV cukup signifikan. Dengan seluruh dunia merambah ke industri ini, diperkirakan industri EV akan meningkat 40 – 50%, sementara kendaraan berbahan bakar fosil akan mengalami penurunan dengan angka laju yang sama.

Dalam industri otomotif, Indonesia menempati urutan 13 dengan produksi 1.2 juta unit pada 2019 serta pangsa pasar relatif besar yakni 1.1 juta. Di Asia Tenggara pun Indonesia menempati urutan kedua di bidang ini setelah Thailand. Diprediksi bahwa pada tahun 2035, Indonesia mampu menembus laju penetrasi pasar untuk EV sebesar 29% lebih besar dari saat ini. Namun perkembangan industri serta pasar EV tak ayal dihadapi tantangan yang cukup signifikan. Baterai EV yang relatif baru masuk dalam industri akan memakan 35% produksi otomotif  dengan biaya yang tinggi.

Baterai EV sejatinya terdiri dari berbagai jenis, salah satunya Nickel Manganese Cobalt (NMC). Penggunaan baterai jenis NMC ini terus meningkat karena lebih ringan sekaligus berukuran lebih kecil sehingga lebih efisien. Tren dari baterai NMC ini mengakibatkan permintaan komoditas nikel dan kobalt yang meroket. Indonesia sendiri dianugerahi cadangan nikel terbesar di dunia, selain komoditas lain dalam jumlah besar seperti alumunium, tembaga, dan mangan, yang masing-masing masuk ke dalam 10 besar cadangan terbesar dunia.

Agus menjelaskan bahwa potensi dan tantangan yang ada mendorong BUMN untuk menaruh ambisi yakni sebagai 1) Pemain global material hulu baterai, 2) Pemain global material antar-katoda dalam baterai, dan 3) Pemain hilir regional dan domestik di baterai dan xEV. Nama-nama terkemuka di industri EV pun diharapkan untuk bermitra dengan konsorsium BUMN seperti Pertamina, Antam, dan PLN. Sehingga jika upaya dan ambisi dapat terealisasikan, target berupa rentang produksi baterai EV antara 30 dan 140 GWh diharapkan dapat terwujud.

Sesi kedua yang diisi oleh Yoseph membahas mengenai pertambangan mineral Indonesia dan global untuk bahan baku baterai. Yoseph memaparkan bahwa total permintaan baterai global untuk sektor transportasi mencapai 10000 GWh pada 2020 (Kane, M). Lebih lanjut lagi, permintaan EV naik sebesar 123% di Eropa. Bahkan, Tesla menungkapkan bahwa akan dibutuhkan tenaga 10 TWh untuk baterai saja. Permintaan baterai yang meningkat tentunya menyebabkan permintaan nikel yang meningkat dari 2300 kiloton saat ini menjadi 4000 kiloton pada 2040.

Dengan karakteristik baterai seperti siklus hidup yang relatif rendah sekitar 10000 jam, grafit sebagai material anoda aktif, ketersediaan material-material tambang yang dibutuhkan pun turut menjadi tantangan. Beberapa material, terutama grafit dan litium dianggap memiliki keterbatasan suplai mengingat jumlah cadangan yang relatif rendah sementara permintaan terus meningkat.

Meskipun begitu, komoditas-komoditas lain seperti besi baja, alumunium, dan tembaga dianggap masih memiliki stok yang “aman” dengan angka produksi yang besar dan terdistribusi cukup baik dalam skala global. Dalam skala nasional, Yoseph menungkapkan bahwa produksi tembaga dan alumunium Indonesia cukup baik dan melimpah, sedangkan produksi besi dan baja membutuhkan strategi yang baik untuk menjaga keseimbangan suplai meskipun masih dalam aman.

Di luar itu, baik Indonesia maupun dunia dianggap harus mensiasati pasokan grafit. Produksi grafit saat ini hanya 1 juta ton, sementara kebutuhan grafit untuk baterai mencapai 16 juta ton dan cadangan total dunia 30 juta ton. Hal ini memicu inovasi berupa silicon metal sebagai substitusi grafit dalam anoda.

Mengulik tentang nikel, Yoseph memaparkan bahwa dibalik melimpahya cadangan nikel dalam negeri, Indonesia hanya memiliki cadangan nikel laterit saja. Namun, sumberdaya nikel Indonesia mencakup 11.24% dunia. Tak hanya sumberdaya, cadangan nikel Indonesia pun mencakup kurang dari seperempat cadangan dunia. Lebih lanjut lagi, Yoseph menutup sesinya dengan mengatakan bahwa inventarisasi nikel Indonesia sangat besar tetapi Indonesia menghadapi tantangan peningkatan permintaan yang sangat tinggi. Secara geologi, saprolite dan limonite berkadar rendah akan menjadi target utama baik dalam eksplorasi, produksi, maupun litbang.

Sesi terakhir yang diisi oleh Profesor Johny membahas pengolahan mineral-mineral dalam mengembagkan industri baterai di Indonesia. Johny membuka sesinya dengan memaparkan baterai jenis tertentu seperti lithium nickel dan manganese cobalt oxide memiliki densitas energi dan tegangan sel yang lebih tinggi, sehingga lebih optimal. Mengamini pemaparan-pemaparan sebelumnya, Johny juga menjelaskan tantangan suplai grafit serta litium dalam skala global maupun tanah air sebagai bahan baku baterai. Menilik komposisi baterai Li-ion dengan Nikel-Mangan-Kobalt (NMC) atau Nikel-Kobalt-Alumunium (NCA) sebagai bahan baku katoda, kuantitas nikel yang tinggi akan menghasilkan densitas energi yang lebih tinggi pula.

Industri nikel pun didukung oleh kestabilan, bahkan kenaikan harga di tengah pandemic COVID-19. Produk nickel pig iron (NPI) pada 2019 mencapai 419 ribu ton, sehingga hampir melampaui China sebagai produsen NPI nomor satu. Selain produksi, Indonesia telah memiliki 22 unit smelter nikel di masa pandemic, dari total rencana 29 unit pada 2022/2023.

Tidak hanya membahas nikel, Profesor Johny pun memaparkan potensi Indonesia dalam ektraksi metalurgi berbagai logam-logam yang dipercaya memiliki ketersediaan langka di bumi. Melalui sebuah diagram yang bernama “interconnected carrier metal cycles”, Johny menjelaskan bahwa bijih nikel umumnya memiliki unsur “pengikut” seperti perak, emas, tembaga, kobalt, dsb. Dari terak atau sisa pengolahan logam utama sebesar 6.1 juta ton per tahun, terak mengandung banyak logam-logam yang prospektif sebagai bahan baku baterai listrik.

Johny memberikan contoh pada kasus bahan baku nikel, studi kasus berdasarkan disertasi mahasiswanya, seperti terak timah yang mengandung jumlah logam tanah jarang yang relatif lebih besar daripada suplai dari kegiatan eksplorasi yang dapat ditemukan di Indonesia. Tak hanya itu, bahkan terak dari pengolahan emas yang ditambang dari suatu lokasi di Pulau Jawa mengandung litium dengan kandungan sebesar 130 ppm, jumlah yang dianggap cukup besar untuk digunakan pada industri. Berbicara dengan basis data, Profesor Johny pun menghimbau kepada pemerintah untuk memanfaatkan limbah-limbah industri logam yang berpotensi.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !