Detail Berita


Komoditas Logam Kritis Apa Saja yang Dibutuhkan untuk EBT?


"Ilustrasi Energi Baru Terbarukan"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 19-04-2021

duniatambang.co.id - Peningkatan tren sekaligus kebutuhan untuk menmasok energi yang ramah lingkungan dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) mengantarkan kepada rencana pengembangan EBT yang masif digencarkan oleh berbagai sektor swasta maupun pemerintah di seluruh dunia. Wacana pembangunan pembangkit listrik EBT sendiri dihadapi oleh berbagai macam tantangan, salah satunya bahan atau material pembangkit listrik.

Pemilihan material termasuk salah satu yang krusial karena akan mempengaruhi durabilitas dan efisiensi pembangkitan energi nantinya. Sebuah infografik yang diterbitkan oleh United States Geological Survey (USGS) merangkum komoditas-komoditas logam yang dianggap vital untuk infrastruktur EBT yang terdiri dari panel surya, turbin angin, dan baterai.

Sebanyak 35 komoditas mineral kritis yang ditentukan oleh Departemen Dalam Negeri AS dianggap memegang peran penting sebagai bahan baku panel surya, di mana energi dari radiasi matahari dikonversi ke listrik.

Unsur logam yang dibutuhkan terdiri dari arsenik, gallium, germanium, indium, dan tellurium. Arsenik dan gallium umumnya digunakan sebagai bahan baku semikonduktor untuk sel surya, sementara gallium, indium, dan tellurium umumnya digunakan dalam campuran bersama tembaga sebagai pelat tipis dalam sel surya.

Sementara kincir angin yang memanfaatkan aliran angin untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan tenaga listrik, membutuhkan komoditas mineral yang supainya dianggap kritis. Mineral tersebut terdiri dari aluminum dan logam tanah jarang (rare earth elements/ REE).

Aluminum memegang peran dominan dalam sebuah badan turbin angin, terutama pada suatu komponen yang bernama nasel, di mana terjadi konversi tenaga angin ke listrik. Selain itu, logam tanah jarang yang dianggap memiliki sifat kemagnetan paling efisien dan kuat juga dimanfaatkan supaya mampu menciptakan generator yang lebih kecil dan ringan dalam turbin kincir.

Selain pembangkit listrik berbasis EBT, infrastruktur baterai berskala besar juga tak kalah penting untuk menyimpan cadangan listrik ramah lingkungan. Baterai berskala besar ini berfungsi untuk menyimpan kelebihan suplai listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga surya atau angin. Suplai listrik dari baterai dapat digunakan ketika pembangkit tidak mampu menghasilkan tenaga listrik secara langsung karena menyesuaikan kondisi alam.

Komoditas penting komponen baterai terdiri dari kobalt, grafit, lithium, dan mangan. Litium sendiri sudah lama dijadikan bahan andalan dalam komponen baterai modern seperti pada telepon genggam, sementara kobalt, grafit, dan mangan berperan sebagai elektroda dalam baterai litium.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam sebuah liputan yang dilakukan CNBC Indonesia dengan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono, mineral yang terkait bahan baku energi ramah lingkungan menjadi fokus eksplorasi mineral di Indonesia.

Beliau memaparkan adanya beberapa golongan dalam eksplorasi mineral bahan baku EBT. Salah satu golongan yang disebutkan adalah mineral kritis seperti kobalt, litium, vanadium, titanium, gallium, krom, serta logam tanah jarang. Beliau menjelaskan definisi mineral kritis yang tak ada bahan pengganti sesuai teknologi terkini, sulit didapatkan, umumnya dimiliki segelintir produsen saja, dan sulit diekstraksi dalam jumlah ekonomis.

Indonesia sendiri tengah serius membidik industri hijau, seperti baterai, pembangkit listrik EBT, dan mobil listrik. Sehingga selain mineral strategis seperti bauksit, nikel, dll dan non-logam, mineral kritis menjadi prioritas untuk pasokan komoditas tambang di Tanah Air.

 

Penulis: Dzaky Irfansyah

Editor: Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !