Detail Berita


Tesla Batal Investasi Baterai Listrik di Indonesia, Bagaimana Kabar Saham Tambang?


"Mobil Listrik Tesla"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 01-04-2021

duniatambang.co.id - Tesla awalnya dikabarkan ingin berinvestasi mengembangkan kendaraan listrik di Indonesia. Namun, keputusan Tesla tidak sejalan dengan harapan masyarakat Indonesia. Pada awal tahun ini, perusahaan yang dikepalai oleh Elon Musk tersebut memilih untuk mendirikan lokasi manufaktur mobil listrik yang terbarunya di India, tepatnya di bagian negara Karnataka.

Selain menurunkan antusiasme Indonesia, kabar ini pun mengundang tanda tanya terkait negosiasi antara Tesla dan pemerintah RI yang dikabarkan telah berlangsung. Hal ini didasarkan bahwa Tesla sebenarnya pernah mengirimkan proposal investasi ke pemerintah melalui Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan. Meskipun begitu, belum ada publik yang tahu pasti karena jikapun terdapat kesepakatan, kesepakatan tersebut masih bersifat rahasia.

Kelanjutan cerita antara investasi Tesla dan Indonesia pun belum dapat dikatakan berakhir begitu saja karena belum ada kata batal. Meskipun begitu, keputusan Tesla untuk membangun pabrik di India cukup memberikan dampak yang jelas terlihat terhadap pasar saham, khususnya emiten penghasil nikel terbesar RI, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Namun, sebelum membahas kejatuhan relatif harga saham dari emiten-emiten yang terdampak, tidak ada salahnya kita mengilas balik dahulu bagaimana awal mula kabar investasi Tesla di Indonesia.

Berawal dari Tweet sang CEO

Mungkin Sobat Tambang yang aktif berselancar di media sosial tahu bahwa sang CEO Tesla, Elon Musk, cukup aktif di menge-tweet di platform Twitter. Umumnya Elon Musk memberikan update seputar perusahaan, bisnis hingga meme. Pada 27 Juli 2020, Elon Musk mencuit informasi seputar nikel dan menyebutkan Indonesia di tweet itu.

Cuitan Elon Musk yang menyebutkan mengenai nikel Indonesia (sumber: twitter.com)
Cuitan Elon Musk yang menyebutkan mengenai nikel Indonesia (sumber: twitter.com)

Dari cuplikan tersebut, Elon Musk menyebutkan nikel sebagai salah satu “tantangan” untuk membuat baterai yang mumpuni. Ia pun juga secara tidak langsung menyebutkan Indonesia sebagai negara dengan produksi nikel terbesar sembari menautkan sebuah website referensi.

Cuitan tersebut mencuri perhatian netizen Indonesia hingga muncul kabar mengenai kemungkinan investasi mobil listrik di RI. Nikel sebagai komoditas tambang andalan Indonesia sekaligus bahan baku utama dalam manufaktur mobil listrik tentunya mendapat antisipasi manis.

Tidak hanya dari kemungkinan Tesla yang berinvestasi di Indonesia saja, nikel pun mendapat perlakuan spesial dari pemerintah sebagai upaya hilirisasi bahan tambang. Upaya ini pun sudah terlihat dari kebijakan untuk melarang ekspor bijih nikel resmi melalui Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2019 yang diresmikan pada 1 Januari 2020.

Presiden Joko Widodo, dalam sidang tahunan MPR pada 14 Agustus 2020, menunjukkan ambisi hilirisasi nikel untuk meletakkan Indonesia dalam posisi strategis dalam pengembangan baterai lithium, mobil listrik, dan produsen teknologi di masa depan. Penggalakkan hilirisasi nikel tersebut bertujuan untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan, meningkatkan peluang kerja, dan mengurangi dominasi energi fosil (dikutip dari cnnindonesia.com). Lebih lanjut lagi, pemerintah meminta badan usaha untuk meningkatkan kapasitas smelter nikel.

Hingga di penghujung tahun 2020, tepatnya pada tanggal 11 Desember, Jokowi didampingi Luhut berbincang bersama Elon Musk via telepon. Mereka membahas mengenai peluang investasi Tesla di Indonesia, termasuk mengenai industri mobil listrik dan komponen baterai. Selain itu, Jokowi juga mengajak Tesla untuk melihat peluang investasi landasan peluncuran roket di Indonesia.

Berdasarkan keterangan tertulis yang disampaikan Juru Bicara Luhut, Jodi Mahardi, pada tanggal 12 Desember 2020, CEO Tesla tersebut menanggapi undangan Jokowi dengan wacana mengirimkan timnya ke Indonesia pada Januari 2021. Tetapi kunjungan tersebut belum terealisasikan akibat pelarangan kunjungan WNA ke Indonesia untuk menurunkan angka COVID-19.

Kendati begitu, Jodi mengatakan bahwa komunikasi tetap terjalin dengan pihak Tesla. Dikutip dari artikel tempo.co, menurut Jodi, tim Tesla saat itu sedang mempelajari berbagai peluang investasi di Indonesia, mulai dari pertambangan, produksi baterai, hingga peluang kerjasama lain seperti starlink dan hyperlink

Pada tanggal 5 Februari 2021, pemerintah RI telah menerima proposal investasi dari Tesla. Luhut mengatakan bahwa pemerintah telah mengadakan setidaknya enam video call dengan pihak Tesla sebelum proposal investasi dikirimkan.

Selain Indonesia, India dilirik oleh sang CEO

Dalam akun twitter Elon Musk yang rutin mengeluarkan cuitan, CEO Tesla tersebut juga menanggapi sebuah akun yang menautkan berita tentang Tesla yang akan memasuki pasar India. Cuitan yang diterbitkan pada 31 Januari 2020 pun ditanggapi oleh Elon Musk pada hari yang sama dengan dua kata “as promised”

Cuitan Elon Musk yang mengonfirmasi ekspansi Tesla ke India (sumber: twitter.com)

Hingga sekitar pertengahan Februari 2021, beredar luas berita yang terverifikasi bahwa Tesla sedang berada di tahap final dalam kesepakatan membangun pabrik baterai dan kendaraan listrik di negara bagian Karnataka, India.

Menurut Direktur INDEF Tauhid Ahmad, Tesla lebih melirik India dibandingkan Indonesia dalam hal produksi mobil listrik dari beberapa aspek, yakni pajak India yang lebih murah, sumber daya manusia (SDM) India lebih banyak dan kompeten, serta ekonomi India lebih cepat pulih daripada Indonesia terkait COVID-19.

Melihat Ceritanya, Bagaimana Perkembangan Saham di Indonesia?

Grafik saham emiten nikel INCO setahun kebelakang terhitung dari 17 Maret 2021

Jika melihat perkembangan harga saham selama setahun terakhir, dapat dikatakan bahwa saham ANTM dan INCO memiliki pola yang mirip. Sebagai dua emiten tambang nikel terbesar di Indonesia, upaya hilirisasi nikel yang diganyang-ganyang pemerintah dan kenaikan harga nikel global memberikan harapan. Apalagi dalam situasi pandemi COVID-19 yang menyebabkan kelesuan hingga resesi ekonomi di berbagai sektor industri, ANTM dan INCO mampu menunjukkan ketahanan, bahkan perkembangan yang relatif signifikan.

Dapat dilihat bahwa pada Maret hingga April 2020, COVID-19 masuk ke Indonesia dan PSBB mulai diterapkan. Grafik saham ANTM dan INCO pada rentang waktu tersebut menunjukkan penurunan dan fluktuasi sebagai dampak dari penyebaran COVID-19.

Akan tetapi saham ANTM dan INCO berada dalam warna merah tidak terlalu lama. Hilirisasi yang dilatarbelakangi oleh impian Indonesia dalam mengembangkan teknologi hijau dan produksi nikel yang mumpuni menyebabkan tren saham ANTM dan INCO naik hingga akhir 2020. Tidak hanya sekedar naik, bahkan terjadi peningkatan tren sepanjang bulan hingga Januari 2021.

Cuitan Elon Musk mengenai nikel Indonesia, serta rencana investasi Tesla di Indonesia yang diperkuat oleh berita perbincangan pemerintah dan Elon Musk mungkin menjadi salah satu faktor yang memperkuat harga saham emiten nikel. Sosialisasi tentang potensi nikel Indonesia serta popularitas Tesla mempopulerkan nikel hingga menjadi hot issue di pasar saham. Saham ANTM dan INCO pun relatif befluktuasi di puncak seiring santernya pemberitaan investasi Tesla di RI.

Kemudian, pada pertengahan Februari Tesla dikabarkan telah mencapai kesepakatan final untuk berinvestasi di India. Kabar tersebut sepertinya menyebabkan penurunan antusiasme terhadap masyarakat RI, khususnya terhadap para pecinta mobil listrik sebagai produk Tesla yang paling populer. Hal ini dapat terlihat dari pergerakan grafik saham ANTM dan INCO dalam rentang waktu pertengahan Februari hingga memasuki Maret, yang menunjukkan tren penurunan meskipun sebenarnya kedua harga saham masih dalam fase fluktuasi.

Investasi mobil listrik yang diputuskan di India turut menimbulkan beberapa dugaan tentang kiprah Tesla di Indonesia. Namun, dugaan yang beredar serta detail kesepakatan antara Tesla dan pemerintah RI yang belum dibocorkan ke public sepertinya mempengaruhi pasar saham nikel. Dalam grafik INCO dan ANTM, terlihat penurunan harga saham dimulai dari pertengahan Februari, waktu di mana Tesla sedang dalam finalisasi investasi di India.

Pola yang sama juga dapat diamati pada perubahan harga nikel global di London Metal Exchange (LME) selama setahun terakhir, dengan peningkatan harga pasar sepanjang tahun 2020 dan tren penurunan di tengah fluktuasi tinggi mulai dari pertengahan Februari. Meskipun begitu, ada keyakinan bahwa harga nikel global di dalam negeri akan kembali meningkat di sepanjang tahun 2021 seiring pertumbuhan industri nikel dalam negeri.

Perubahan harga nikel global London Metal Exchange (LME) selama setahun kebelakang

Lalu, Apakah Cerita Tesla di Indonesia Berakhir Di Sini?

Sekalipun Tesla sudah hendak mencapai kesepakatan untuk membangun lokasi manufaktur mobil listrik di India, kabar lebih lanjut terkait proposal investasi Tesla di Indonesia belum dapat diketahui lebih lanjut status maupun isinya.

Juru Bicara Luhut, Jodi Mahardi, mengatakan bahwa pemerintah akan tetap melobi Tesla Inc. “Dengan Tesla kan dari awal pembicataannya untuk bidang lain (selain mobil listrik)” klarifikasi Jodi seperti yang dikutip dari Tempo pada Minggu (21/2/2021). Namun, pembahasan lebih lanjut antara pemerintah RI dan Tesla belum dapat dipaparkan lebih lanjut ke publik.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan KemenkoMarves Septian Hario Seto juga mengatakan bahwa rincian proposal investasi belum dapat disebarkan secara detail. Selain dari confidentiality dari dokumen-dokumen itu sendiri, menurut Seto Tesla terbilang sebagai perusahaan yang sensitif dan cukup ketat terhadap hal-hal tersebut di publik.

Yang dapat diketahui sejauh ini oleh public yakni mengenai minat Tesla untuk mengembangkan Energy Storage System (ESS) di Indonesia. Secara kasar, ESS ibarat power bank atau baterai isi ulang dengan kapasitas besar mencapai puluhan hingga seratursan megawatt, dikutip dari Bisnis.com. Rencana pengembangan ESS oleh Tesla di Indonesia juga disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati. Nicke mengatakan bahwa Tesla justru berminat di energy storage, bukan di energy vehicle battery. Hal ini, menurut Nicke, dilatarbelakangi oleh pandangan Tesla dengan potensi ESS di Indonesia untuk menyimpan suplai energi yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sekaligus untuk menjaga keandalan suplai dari PLTS.

Selain ESS, pemerintah juga berniat menawarkan investasi untuk Starlink, yakni satelit berobit rendah dengan fungsi yang serupa dengan BTS dari jaringan seluler, serta SpaceX untuk membangun landasan peluncuran roket di Biak. Meskipun begitu, Seto mengatakan bahwa pemerintah RI masih berfokus terhadap ESS yang memang menjadi minat Tesla, sedangkan Starlink dan SpaceX masih menunggu kepastian Elon Musk dan tim.

Dari kabar yang sudah berhembus sejauh ini, setidaknya dari yang sudah diberitahukan oleh pihak resmi seperti pemerintah RI, belum ada kata batal kepada Tesla tetapi kisah cerita antara Tesla dan Indonesia pun juga belum diketahui kelanjutannya. Namun setidaknya kita telah mengetahui bahwa potensi Indonesia bukan hanya sekedar mobil listrik saja, tetapi juga pada industri lain yang membutuhkan sumberdaya nikel sebagai bahan baku dalam teknologi energi terbarukan.

 

Penulis : Dzaky Irfansyah

Editor  : Hazred Umar Fathan

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !