Detail Berita


PLN stop Bangun PLTU?


"PLTU Indramayu"
Sumber gambar: Dokumen PLTU


Tanggal terbit: 30-03-2021

duniatambang.co.id - Batubara menjadi primadona bahan bakar pembangkit energi listrik di dunia. Harganya yang terjangkau membuatnya jadi andalan bahan baku listrik yang murah di berbagai negara raksasa ekonomi dunia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, Australia, hingga Indonesia. Namun seiring perkembangan waktu dan zaman menuntut penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan.

PT PLN (Persero) bakal memperbanyak pembangkit listrik yang menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan. Perseroan pun menyetop pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru. Hal ini untuk mengejar target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 23 persen pada 2025 dalam bauran energi nasional. Saat ini bauran EBT baru mencapai 12 persen.

"Kami sebagai BUMN yang ditugasi menghidupi listrik 270 juta penduduk Indonesia tentu sangat dukung pengembangan EBT. Kami sampaikan bahwa PLN tidak lagi bangun PLTU," kata Direktur Mega Proyek PLN Ikhsan Asaad dalam diskusi National Energy Week.

Saat ini, total pembangkit PLN mencapai 63.305 megawatt (MW). Sebanyak 50 persen atau 31.925 MW adalah PLTU. Sementara kapasitas terpasang dari pembangkit berbasis EBT hanya 7.955 MW atau 13,8 persen.

Untuk bisa mengejar target bauran EBT di 2025, PLN menyusun banyak rencana. Pertama, melakukan co-firing biomassa sebagai substitusi batu bara di PLTU.

"Ini kita dorong. Butuh 8 juta ton biomassa setahun. Lahan-lahan kosong di PLTU bisa kita tanami pohon kaliandra (salah satu bahan biomassa)," kata Iksan.

Kedua, melakukan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan baterai yang bisa menyimpan listrik yang dihasilkan untuk mengatasi intermiten karena matahari tidak selalu muncul. Untuk tahap awal, Ikhsan menyebut 200 lokasi. Tahun kedua, sebanyak 500 lokasi dan tahun ketiga sekitar 1.300 lokasi. "Kita harap semua (konversi) bisa operasi di 2025. Tapi Tahap 2 dan 3 tidak semuanya dikonversi menjadi PLTS, tergantung potensi EBT daerah masing-masing. Jadi kalau ada air ya berarti mini hidro," ujarnya.

PLN juga akan menggunakan DAM hydro milik Kementerian PUPR. Sementara dari sisi transformasi energi hijau, PLN akan bangun hydro REBID, PLTS Terapung di Cirata yang ditargetkan rampung 2023. Apalagi, tarif listrik di PLTS Cirata bisa murah. Jika 10 tahun lalu biayanya USD 20 cent per kWh, sekarang bisa USD 5,7 cent per kWh.

"Kita semua ke depan satu visi untuk ketahanan EBT agar bisa gerakkan ekonomi kita, ekonomi masyarakat kita, sehingga kami sangat komit dukung pengembangannya agar sasaran 2025 ini capai 23 persen dan kami optimistis," ucapnya.

 

Penulis : Annisa Octavianie

Editor  : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !