Detail Berita


Emiten yang Untung Atas Insentif Royalti 0 Persen pada Hilirisasi Batubara


"pertambangan batubara"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 25-03-2021

duniatambang.co.id - Pengenaan royalti batu bara sebesar 0 persen memberikan dampak yang signifikan terhadap perusahaan tambang yang melakukan penghiliran atau gasifikasi batu bara. Pemerintah baru saja mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, yang merupakan peraturan pelaksana UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja.

Beleid itu mengatur tentang pengenaan royalti batu bara sebesar 0 persen terhadap perusahaan tambang yang melakukan penghiliran atau gasifikasi batu bara. Salah satu tujuan dari kebijakan itu adalah program peningkatan nilai tambah batu bara atau hilirisasi. Dalam Bab II Pasal 3 beleid itu disebutkan bahwa pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi, izin usaha pertambangan khusus (IUPK) operasi produksi dan IUPK sebagai kelanjutan operasi kontrak/perjanjian untuk komoditas batu bara yang melakukan kegiatan peningkatan nilai tambah batu bara di dalam negeri dapat diberikan perlakuan tertentu berupa pengenaan royalti sebesar 0 persen. 

Perlakuan tertentu berupa pengenaan royalti sebesar 0 persen diberikan dengan mempertimbangkan kemandirian energi dan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri.

Adapun pengenaan royalti hingga 0 persen tidak berlaku terhadap seluruh batu bara yang diproduksi pelaku usaha. Namun, hanya dikenakan terhadap batubara yang digunakan dalam kegiatan peningkatan nilai tambah batu bara.

“Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan peningkatan nilai tambah batubara, besaran, persyaratan, dan tata cara pengenaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 diatur dalam peraturan menteri“ Demikian tertulis dalam PP No.25/2021.

Sebelumnya, direktur eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indoneisa (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, pengusaha menyambut baik adanya ketentuan pengenaan royalti 0 persen untuk batubara yang digunakan dalam kegiatan pengembangan atau pemanfaatan batubara. Beliau meyakini insentif mampu mendorong keekonomian proyek pengembangan atau pemanfaatan batubara.

“Kami sambut positif karena nanti akan mendorong keekonomian dari investasi untuk pengembangan dan atau pemanfaatan batubara,” katanya.

Adapun sentimen yang disahkannya kebijakan tersebut membuat sejumlah emiten batubara mengalami kenaikan harga saham. Para emiten tersebut adalah PT. Bukit Asam, Tbk (PTBA), PT. Indika Enrgy, Tbk (INDY), PT. Bumi Resources, Tbk (BUMI), PT. Adaro Energy, Tbk (ADRO). Harga saham PT. BA (PT. Bukit Asam, Tbk) pada penutupan perdagangan berhasil diakhiri pada level Rp 2.740, naik 7,45 persen secara harian. Senada saham PT. Indika Energy, Tbk berhasil melonjak 8,45 persen ke level  Rp 1.540. Kondisi serupa dirasakan oleh PT. Adaro Energy, Tbk yang harga sahamnya terkerek 2,54 persen ke level Rp 1.210 dan PT. Bumi Resources, Tbk yang naik 5.17 persen dari hari sebelumnya dan parkir di harga Rp 61.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Frankie W.P. mengatakan, kenaikan harga saham keempat emiten batubara tersebut merupakan hal yang wajar. Beliau tidak menampik bahwa dengan disahkannya kebijakan royalti gasifikasi batbara, berperan cukup signifikan terhadap kinerja keempat emiten tersebut (PT BA, INDY, BUMI, ADRO). Beliau juga menyebutkan bahwa, emiten yang diuntungkan dari kebijakan ini tentu adalah emiten yang telah memiliki lini bisnis atau dalam tahap pembangunan pabrik konversi batubara dan PLTU sendiri. Adapun beberapa emiten yang diuntungkan adalah PT BA, BUMI, dan ADRO yang tentunya telah memiliki PLTU sendiri. Beliau melanjutkan bahwa besaran insentif berupa persentase royalti dari program gasifikasi tersebut cukup besar. Dengan demikian apabila kewajiban royalti tersebut dihilangkan untuk batubara yang telah mengalami hilirisasi, tentu akan memberikan dampak ataupun sentimen positif bagi pendaptan perusahaan.

Seperti diketahui, PT. BA (PT. BUKIT ASAM, TBK) telah menekan kesepakatan terkait dengan pengembangan gasifikasi batubara di Mulut Tambang Batubara Peranap, Riau, untuk menjadi dimethyl ether (DME) dan syntheticnatural gas (SNG). PT. BA, PT Pertamina dan Air products rencananya akan membentuk join venture (JV). Belum lama ini direktur utama PT. BA (PT. BUKIT ASAM, TBK) Arviyan Arifin menyampaikan progres terkini proyek gasifikasi bersama air products dan pertamina. Beliau menjelaskan bahwa ketiga pihak memiliki peran masing-masing dalam kolaborasi tersebut. PT. BA (PT. BUKIT ASAM, TBK) menurutnya akan bertindak sebagai pemasok batubara, penyedia lahan pabrik di Tanjung Enim dan infrastruktur. Selanjutnya air products akan bertindak sebagai penyedia teknologi dan investor dalam proyek senilai 2,1 miliar USD. Adapun Pertamina akan bertindak sebagai offtaker dari produk DME yang dihasilkan dari pabrik tersebut.

Di lain pihak PT. Indika Energy, Tbk juga tengah mengejar proyek gasifikasi batubara. Perusahaan tersebut baru saja meneken nota kesepahaman dengan Pertamina pada desember 2020. Manajemen PT. Indika Energy, Tbk menjelaskan kolaborasi itu terkait pengembangan program gasifikasi batubara untuk diproses menjadi DME sebagai bahan bakar pengganti LPG. Direktur utama PT. Indika Energy, Tbk M. Arsjad Rasjid mengatakan, perseroan mendukung langkah Pertamina untuk mengembangkan gasifikasi batubara. Langkah itu sekaligus wujud sinergi dan gotong-royong antara pemerintah, BUMN, dan swasta yang sangat strategis. PT. Indika Energy, Tbk berharap inisiatif ini dapat mendorong pegembangan teknologi penghiliran batubara yang mumpuni, menciptaan investasi baru, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, PT. Bumi Resources, Tbk melalui anak usahanya PT. KPC (Kaltim Prima Coal) juga fokus menggarap proyek hilirisasi batubara melalui pengembangan gasifikasi. Direktur sekaligus Sekretaris perusahaan PT. Bumi Resources, Tbk Dileep Srivastava mengatakan bahwa perseroan akan ikut berkontribusi terhadap proyek gasifikasi batubara ke methanol. Hal tersebut akan dilakukan melalui anak perusahaanya PT. KPC dan PT Arutmin Indonesia.

Selanjutnya PT. Adaro Energy, Tbk juga tengah gencar mengembangkan proyek coal to methanol di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Proyek itu ditargetkan rampung pada 2027 dengan produksi 660.000 ton methanol per tahun dan akan menyerap 1,3 juta ton batubara per tahun.

 

Penulis : Annisa Octaviannie

Editor : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !