image

"Proses pemuatan nickel ore ke dump truck"
Sumber gambar: shutterstock.com

Dunia Tambang / 15 March 2021 / 0 Komentar

Mineral Nikel LME 

Harga Nikel di Bursa LME Terjun Bebas pada Maret 2021

duniatambang.co.id - Nikel menjadi primadona dalam dunia pertambangan Indonesia dalam beberapa kurun wakatua terakhir. Berdasarkan data pemetaan badan geologi, Indonesia memiliki sumberdaya bijih nikel yang cukup melimpah. Sebanyak 11.887 juta ton dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton nikel bercokol di Indonesia.

Sementara untuk total sumberdaya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam. Dengan area sebaran nikel yang luas, Indonesia menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dengan menyumbang 27 % dari total produksi. Kini nikel tidak hanya pamornya saja yang melejit melainkan harganya sebagai komoditas yang mampu membuat pasaran tercengang.

Pada beberapa pekan lalu harga nikel terpantau kembali membaik. Namun harga nikel pada perdagangan bulan maret 2021 ini (9/3) melemah 1.2%.

Besaran harga nikel kontrak 3 bulan berdasarkan survei London Metal Exchange (LME) di akhiri dengan harga US$ 15.951/ton dari harga US$ 16.145/ton  (Kemerosotan sebesar 1.2 %). Harga tersebut terpantau yang paling anjlok sepanjang tahun 2021 ini. Penurunan pula tidak dapat dihindari terjadi pada nikel pembelian langsung dari harga US$ 16.115/ton menjadi US$ 15.907/ton, hal ini menunjukkan kemerosotan sebesar 1,29 %. Tercatat pula pada Maret tahun 2020 harga nikel juga sempat terjun bebas. Kemerosotan terjadi hingga di harga US$ 11.142/ton. Namun bulan berikutnya harga nikel perlahan pulih hingga menyentuh puncaknya sebesar US$ 19.722/ton.

Berdasarkan pantauan bursa Shanghai, harga nikel (10/3) juga mengalami kemerosotan sebesar 1.8% terhitung dari US$ 18.891/ton menjadi US$ 18.550/ton. Dikutip dari Reuters, penyebab terjunnya harga nikel adalah karena Tsingshan Holding Group, perusahaan raksasa nikel dan stainless stell asal China memutuskan untuk memproduksi nikel matte dalam jumlah yang cukup besar di Indonesia untuk menurunkan kekhawatiran investor terhadap suplai distribusi perdagaangan nikel untuk keperluan baterai dan menekan harga nikel di pasaran.

Dilansir dari The Sydney Morning Herald yang dikutip dari Reuters. Credit Sussie, bank dan penyedia jasa keuangan asal Swiss memperkirakan akan  terjadi kelebihan pasokan nikel setelah Tsingshan mengumumkan untuk meningkatkan produksi sebesar 700 kilo ton menjadi 1.1 juta ton per tahun per 2023. Tentunya ini akan mengakibatkan ekses (kelebihan) produksi hingga tahun 2025. Menurut analis Credit Suisse, Matthew Hope. “Walaupun sebagian nikel akan dipasok ke pasar baterai melalui jalur nikel matte, feronikel untuk baja tahan karat akan tetap dominan sampai pasar baterai menjadi konsumen yang signifikan pada paruh kedua dekade ini.”

 

Penulis : Annisa Octavianie

Editor  : Faris Primayudha

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar