Detail Berita


Ketahanan Perusahaan Tambang sebagai Kunci Menghadapi Berbagai Risiko


"Dumptruk di area pertambangan"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 04-03-2021

duniatambang.co.id - Rangkaian webinar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (ASPINDO) bersama Exxon Mobil di hari ketiga, yakni pada tanggal 25 Februari 2021, mengangkat salah satu tema mengenai resilience dari sebuah perusahaan tambang di tengah-tengah berbagai resiko termasuk pandemic COVID-19. Sesi ini dibawakan oleh Rochman Alamsjah, General Manager for Plant Division PT Harmoni Panca Utama.

Resilience, atau ketahanan, merupakan sifat yang wajib dimiliki oleh setiap perusahaan, termasuk perusahaan tambang, supaya perusahaan dapat terus meraih tujuan, berkembang, dan berumur panjang. Ketahanan pada perusahaan tambang juga dianggap sangat penting dalam menghadapi resiko dan tantangan di industri pertambangan. Salah dua tantangan yang dianggap momok namun klasik bagi perusahaan tambang adalah kenaikan modal dan biaya produksi.

Faktor biaya menjadi salah satu cerminan dari rintangan yang dihadapi oleh perusahaan tambang untuk tetap bertahan. Umumnya, perusahaan menghadapi resiko-resiko dalam bentuk volatilitas (situasi yang berubah secara konstan menjadi tak teratur), kondisi tidak menentu, kompleksitas masalah, dan ambiguitas. Pandemi COVID-19 pun turut memperparah rintangan yang dihadapi perusahaan. Sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk mengoptimalkan komponen seperti peralatan, teknologi, dan asset untuk meningkatkan produksi. Peralatan tambang pun tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk perbaikan dan pemeliharaan, yang menuntut perusahaan tambang mampu beroperasi secara efisien.

Menurut Rochman, pada  PT Harmoni Panca Utama menggunakan program “anti-penuaan” pada mesin-mesin tambang sebagai strategi kunci pemeliharaan peralatan. Meskipun judulnya, program ini tidak semata hanya berfokus pada peralatan yang dimiliki HPU, tetapi bagaimana antar komponen seperti sumber daya manusia (SDM), proses, dan teknologi bisa bersinergi dalam program tersebut.

Manusia sebagai penggerak perusahaan yang mampu berpikir dan berempati membutuhkan mental yang kuat, kompetensi yang dibutuhkan, serta bergerak dalam siklus organisasi yang telah dirancang. Akan tetapi, secara alamiah manusia memiliki keterbatasan sehingga dibutuhkan teknologi dengan sistem yang terintegrasi serta pengoperasian yang lebih cepat dan efektif. Sekalipun dengan SDM yang mumpuni dan teknologi terkini, kedua aspek tersebut tidak dapat berjalan begitu saja tanpa suatu proses yang mengikat.

HPU sendiri menggunakan lima prinsip pemeliharaan yang tersusun dari budaya & disiplin pemeliharaan, proses pemeliharaan rutin, adopsi teknologi, penjagaan kondisi operasional, serta adanya inovasi atau peningkatan. Proses pemeliharaan, ujar Rochman, merupakan hal yang cukup sulit dilakukan. Rochman mengatakan bahwa mesin selayaknya tidak memandang umur. Ia mencontohkan HPU yang memiliki mesin berumur 42 tahun dan masih berjalan dengan baik. Kunci dari perangkat yang awet ini adalah melakukan inspeksi secara detail di setiap komponen alat, melakukan pengukuran dan perbandingan, hingga melakukan analisis trend terhadap kualitas suatu alat. Bahkan HPU sudah menginkorporasi kode QR untuk inspeksi, sehingga mesin dapat terhubung dengan gawai dan lebih mudah dalam mendeteksi kerusakan.

Dari segi teknologi, HPU telah mengadopsi beberapa fitur demi akurasi dalam pemeliharaan alat seperti sistem pemantauan performa kendaraan tambang, sistem manajemen informasi vital, dan perangkat lunak analitik milik HPU untuk memasukkan data. Rochman menunjukkan contoh penerapan seperti mendeteksi pergerakan dalam mesin dengan sistem magnetik untuk diagnosa alat, filter paper reading analysis untuk mengetahui kontaminasi dalam mesin dengan perbesaran hingga 1000x, analisis boroskop yang menggunakan kamera untuk mendeteksi masalah dalam mesin secara visual, serta proses pengambilan sampel dalam mesin untuk mendeteksi kerusakan.

Pemeliharaan pun akan percuma jika operasi industri tidak berbasis pada pemeliharaan dan pengawasan kualitas. Hal- hal yang setidaknya wajib ada untuk pengawasan kualitas alat yang baik meliputi standarisasi, peran aktif dari bagian pengembangan dan penelitian, serta tatanan perusahaan yang terorganisir.

 

Penulis : Muhammad Dzaky Irfansyah

Editor  : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !