Detail Berita


Industri Tambang Masih Menduduki Peringkat 4 Terbawah dalam Digitalisasi?


"Dokumentasi Webinar The Future of Industry Through Technology Development"
Sumber gambar: Dokumen Dunia Tambang/MDI


Tanggal terbit: 02-03-2021

duniatambang.co.id – Perkembangan teknologi pada era digital atau yang sering digaung-gaungkan sebagai Revolusi Industri 4.0, kebanyakan industri mulai terintegrasi dengan teknologi digital, termasuk di industri tambang. Hal ini terkonfirmasi jelas melalui webinar yang berjudul “The Future of Mining Industry through Technological Development”, yang diselenggarakan oleh Dunia Tambang dan Micromine pada Rabu (24/02).

Acara ini menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka dari berbagai institusi, yang terdiri dari Sri Raharjo sebagai Professional Independent, Mulya Ramadhany dari Micromine SEA (Southeast Asia), serta Umar Rivaldy Pulukadang dari Dunia Tambang. Para hadirin diajak untuk mendengarkan dan berdiskusi mengenai perkembangan teknologi di industri pertambangan, mulai dari sejarah hingga prediksinya.

Digitalisasi dalam industri pertambangan tidak hanya sekedar mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih semata. Sejak beberapa dekade lalu hingga saat ini, tambang selalu dihadapi berbagai isu dan tantangan, seperti akses terhadap energi untuk menunjang operasi pertambangan, keselamatan kerja, hingga isu lingkungan. Menurut Professional Independent Sri Raharjo, isu-isu ini mendorong aktor industri tambang untuk mengedepankan konsep “smart mines”, yang menginkorporasi unsur seperti kecerdasan buatan dan internet of things (IoT), sehingga mampu mengoptimalkan tidak hanya produksi bahan tambang, tetapi juga berdampak positif pada masyarakat dan lingkungan. Penerapan smart mines dapat terlihat dengan otomasi yang memiliki kelebihan seperti meningkatkan keamanan & efektifitas tambang, mampu dioperasikan jarak jauh, dan dapat berjalan secara otonom.

Menurut Sri, digitalisasi tambang di Indonesia sendiri sudah diterapkan dan dibuktikan dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga hybrid sistem micro-grid, pengendalian instrumen jarak-jauh, pemanfaatan GPS dan drone dalam pengawasan area tambang, Fleet Management System, hingga dalam aspek atribut pakaian pekerja tambang demi meningkatkan keselamatan kerja.  

Membicarakan digitalisasi dalam dunia tambang pun tidak terlepas dari penggunaan perangkat lunak yang tepat guna. Pitram, salah satu produk perangkat lunak dari Micromine, hadir sebagai aplikasi fleet management dan sistem kontrol pertambangan yang mampu memberikan pengukuran real time. Pitram memiliki beberapa komponen seperti shift planner, manajemen material tambang, hingga pada fitur reporting & dashboard untuk membantu mencapai target produksi. Pitram dikembangkan tidak hanya berangkat dari faktor automasi saha, tetapi dari faktor ekonomi seperti kenaikan harga komoditas tambang. Manajer Operasional Micromine SEA Mulya Ramadhany menunjukkan kelebihan yang dimiliki Pitram seperti pemodelan tambang secara tiga dimensi, machine guidance, hingga melindungi data. Mulya percaya bahwa Pitram mampu menjadi jembatan antara teknologi dan manusia dalam pertambangan.

Membahas mengenai masa depan digitalisasi tambang pun rasanya harus disertai dengan menilik sejarah industri pertambangan. Chief Operational Dunia Tambang, Umar Rivaldy, menuturkan bahwa secara garis besar pertambangan terbagi menadi empat tipe, yakni tipe kuno, konvensional, semi-modern, dan modern. “Di Indonesia, 5399 perusahaan tambang masih beroperasi secara konvensional sedangkan baru 193 yang menjalankan tambang modern” ujar Umar. Di skala global pun, industri tambang masih menempati peringkat 4 dari bawah dalam aspek digitalisasi.

Dari fakta-fakta tersebut, urgensi digitalisasi dirasa masih tinggi. Umar juga menekankan potensi kesalahan dalam alur operasi dan produksi bahan tambang yang umumnya masih dijalankan di Indonesia. Secara konvensional umumnya pencatatan alur transportasi material tambang masih dilakukan secara manual atau belum terintegrasi dengan keseluruhan data, sehingga sangat bergantung pada tenaga manusia dan memungkinkan adanya kesalahan pencatatan. Kesalahan yang awalnya kecil ini dapat bermuara ke kerugian yang signifikan. Dari kekhawatiran ini, aplikasi Dunia Tambang Business dihadirkan untuk menanggulangi kesalahan yang dapat muncul pada alur transportasi material tambang. Dunia Tambang Business menawarkan fitur seperti pelaporan checker dan pengawasan distribusi material real time sehingga keputusan dapat lebih mudah diambil terhadap data yang masuk.

Dari pemaparan ketiga pemateri dalam webinar ini, dapat dilihat bahwa secara garis besar industri pertambangan telah memasuki era digitalisasi dan terbukti dengan banyaknya aspek pertambangan yang mendapat berkah positif digitalisasi, tidak hanya dalam instrumentasi tambang namun dalam distribusi, pengambilan keputusan berbasis data, hingga keselamatan & kesehatan pekerja. Sekalipun begitu, industri tambang, khususnya di Indonesia, masih menghadapi pekerjaan rumah besar supaya digitalisasi dapat diterapkan secara luas dan merata hingga ke masyarakat.

 

 

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !