Detail Berita


APBI Usul Maksimal Tarif Royalti Batu Bara Sebesar 20 Persen


"Batubara"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 22-02-2021

duniatambang.co.id - Asosiasi Pertambangan Batu Bara (APBI) memberikan usulan bahwa tarif royalti dari komoditas batu bara untuk bisa dinaikkan dari yang sebelumnya sebesar 13,5 persen menjadi 14 persen atau maksimal sampai dengan 20 persen. Hal ini terkait dari rencana pemerintah yang akan membuat aturan baru soal perpajakan di sektor usaha komoditas batu bara. Salah satu isi aturan itu adalah untuk mengatur besaran royalti atau dana hasil produksi batu bara (DHPB).

Lebih lanjut, target utama dari penerapan aturan pemerintah tersebut adalah para pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B). Nantinya izin usahanya akan diperpanjang menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Pihak APBI pun kemudian mengeluarkan usulan kenaikan tarif sebesar 14 persen sampai 20 persen.

Pihak APBI mengatakan para anggotanya telah menyepakati adanya pemberlakuan tarif royalti progresif atau berjenjang. Angkanya pun disebut telah disesuaikan dengan tingkatan harga batu bara tertentu yang juga tetap mempertimbangkan pada perkembangan harga batu bara yang saat ini fluktuatif.

APBI juga menyatakan bahwa sebaiknya besaran nilai royalti itu bisa melihat pada terjadinya peningkatan penerimaan negara dan juga kondisi yang dialami oleh para perusahaan batu bara, khususnya ketika terjadi penurunan harga komoditas batu bara. Sebab menurut mereka, jika besaran nilai royalti itu terlalu besar, juga akan membuat perusahaan mengalami kesulitan. Misalnya dalam rangka menutup biaya produksi ataupun menyediakan royalti itu sendiri.

Sebagai informasi, para pemegang IUPK perpanjangan adalah mereka para perusahaan tambang yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun lamanya, bahkan di antaranya sudah lebih dari 30 tahun. Perusahaan-perusahaan tambang itu pun memiliki tiga karakteristik.

Pertama adalah soal sebaran cadangan batu bara yang mulai terbatas yang kemudian mempersulit pemilihan lokasi tambang yang dianggap ekonomis. Kemudian adalah lokasi cadangan yang ditemukan berada sangat jauh dan dalam yang membuat biaya produksinya pun membengkak. Dan terakhir yakni lokasi dari pembuangan lapisan tanah penutup yang berada sangat jauh dan tentunya juga berpengaruh pada biaya produksi pada akhirnya.

Dari ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa resiko usaha yang ditanggung para pemegang IUPK sebenarnya sangat tinggi. Tingginya royalti akan membuat cadangan yang semula ekonomis, menjadi tidak ekonomis lagi dan akhirnya membuat jumlah besaran cadangan menurun.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor  : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !