Loading...
image

"Ilustrasi Energy Storage System"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 17 February 2021 / 0 Komentar

Energy ESS 

Begini Rencana Pengembangan Energy Storage System di Indonesia

duniatambang.co.id - Pemerintah Indonesia tengah meningkatkan upaya untuk menarik investor-investor dalam berinvestasi untuk meningkatkan ekonomi Indonesia. Salah satu perusahaan ternama asal Amerika Serikat yaitu Tesla, semakin serius untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Tesla adalah perusahaan yang sudah tidak diragukan lagi reputasinya dalam manufaktur teknologi berbasis energi bebas karbon, seperti mobil listrik dan baterai EV (electric vehicle).

Menurut Direktur Utama PT Pertamina Persero, Nicke Widyawati, perusahaan yang dibangun oleh Elon Musk ini lebih berminat untuk mengembangkan bisnis penyimpanan energi atau energy storage system (ESS).

ESS akan dimulai dengan membicarakan mengenai EBT (Energi Baru dan Terbarukan). Dalam beberapa tahun belakangan ini, permintaan dan perkembangan teknologi EBT di dunia terus bergerak ke arah positif. Tak terkecuali dengan Indonesia, pemerintah menargetkan kontribusi EBT dalam bauran energi mencapai 23% pada tahun 2025. Bahkan Agensi Internasional Energi Terbarukan (IRENA) memprediksi Indonesia mampu mencapai angka 31% di tahun 2030.

Untuk memenuhi target bauran energi, diperkirakan membutuhkan 16 miliar dolar AS per tahun. Selain faktor biaya, kelemahan dari teknologi EBT adalah intermitensi atau daya yang tidak dapat disuplai secara kontinu karena sifat dari sumber energi itu sendiri, sehingga membutuhkan teknologi yang mampu menyimpan daya secara efisien. Menurut analis senior GlobalData, Sneha Susan Elias, ESS merupakan solusi krusial dalam mengatasi aspek intermitensi dari EBT.

ESS dapat memanfaatkan beberapa prinsip, yang terdiri dari termal, elektromekanik, dan elektrokimia. ESS yang umum dikembangkan, termasuk yang digunakan Tesla, yakni berbasis elektrokimia dengan menggunakan baterai litium. Keuntungan dari ESS berbasis baterai litium, atau Battery ESS (BESS) memiliki dampak yang relatif kecil terhadap lingkungan dan dapat dibangun pada berbagai kondisi geografis. BESS juga memiliki densitas daya yang besar dengan rentang 1300 hingga 10000 Watt/m3, serta densitas energi sebesar 200 – 400 Wh/m3. Dalam sebuah studi pada tahun 2016, teknologi berbasis BESS menyumbang sekitar 95% terhadap sistem baterai berskala grid.

Salah satu proyek BESS terbesar di dunia yang telah diaplikasikan dalam skala komersial terletak di pembangkit listrik tenaga angin Hornsdale di Australia. Proyek BESS ini dimulai pada Desember 2017 dengan memakan biaya sekitar 90 milyar dollar AS. Proyek ini mampu menyediakan cadangan listrik sebesar 100 MW untuk 30000 rumah.

Menurut Nicke Widyawati, ESS memiliki pangsa pasar yang besar di Indonesia. Tesla melihat bahwa ESS merupakan potensi yang tepat untuk mengonservasi suplai daya dari PLTS-PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di Indonesia. Nicke juga menilai, terdapat dua industri yang potensial terkait pemanfaatan baterai litium. ESS merupakan salah satunya, selain untuk transportasi roda dua.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan KemenkoMarves, Septian Hario Seto, bisnis ESS ini selaras dengan pemanfaatan solar fotovoltaik yang dicanangkan pemerintah untuk wilayah terpencil. Wilayah tersebut notabene tidak terlalu membutuhkan transmisi listrik berskala besar, sehingga ESS dianggap mampu menopang kebutuhan listrik. Terutama mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, sehingga memiliki rintangan dalam distribusi listrik yang merata ke seluruh daerah. ESS pun, menurut Seto, dianggap lebih efektif dibandingkan membangun lebih banyak pembangkit listrik.

 

Penulis : Dzaky Irfansyah

Editor  : Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar