Detail Berita


Banyak Saham ARB Hari ini, Apa Penyebabnya?


"Ilustrasi pergerakan harga saham"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 29-01-2021

duniatambang.co.id – Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun drastis terkena auto reject bawah (ARB) selama lima 6 hari berturut-turut. Penurunan saham dalam sehari menyentuh 7% yang ditetapkan oleh sistem JATS BEI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (29/01) ditutup anjlok 2,12% ke level 5.979,38. Setidaknya lebih dari 12 saham yang terkena ARB, termasuk saham-saham blue chip, pertambangan, farmasi, dan BUMN konstruksi.

Sejumlah pelaku pasar mempertanyakan penyebab penurunan drastis saham hingga terkena ARB. Mereka heran kenapa Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak mengenakan status unusual market activity (UMA) pada saham-saham yang terkena ARB tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan BEI Kristian Sihar Manulang mengungkapkan, bahwa tindakan pengawasan UMA tidak bergantung pada adanya ARB ataupun auto reject atas (ARA). Dia menjelaskan, BEI memiliki standar parameter tertentu untuk melakukan pengawasan di perdagangan bursa efek.

Adapun parameter tersebut terdiri dari fluktuasi harga dan volume, frekuensi, order/pesanan, informasi penyelesaian transaksi, pola transaksi, dan informasi lain yang penting dan relevan. Semua parameter tersebut bisa saja terpenuhi semua ataupun tidak sehingga bisa diputuskan saham-saham bisa dikategorikan ke status UMA.

Berkaitan dengan banyaknya saham ARB pada hari ini, Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma mengatakan, penyebabnya adalah adanya margin call dalam transaksi margin. Selain itu Samuel menambahkan, saham ARB diperburuk oleh turunnya bursa regional.

Beberapa literatur pasar modal menjelaskan bahwa berinvestasi dengan margin berarti melakukan deposit pada akun sekuritas dan meminjam sisa uang dari sekuritas untuk melakukan investasi. Tetapi, ketika pasar bergerak melawan posisi, investor harus menambah setoran jika tidak akan terjadi jual paksa (force sell).

 

Penulis : Mayang Sari

Editor  : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !