Detail Berita


Seberapa Penting Mineral Kritis?


"Ilustrasi mineral intan "
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 29-01-2021

duniatambang.co.id - Perubahan zaman kian terjadi dan berganti dimulai dari zaman batu, lalu zaman perunggu, zaman besi, zaman silicon, dan kini sampailah pada zaman modern. Zaman modern membawa pada inovasi teknologi tinggi berbasis energi bersih dan terbarukan.

Pada zaman modern ini membutuhkan mineral kritis untuk menunjang inovasi teknologi. Pada dasarnya mineral kritis (critical raw materials) adalah sekelompok mineral masa depan yang dapat digunakan untuk inovasi teknologi berbasis energi bersih dan terbarukan. Akan tetapi mineral ini dikatakan kritis karena ketersediaan jumlahnya yang kian hari semakin terbatas. Hal ini disebabkan karena selain keterdapatannya yang memang terbatas juga di bumi, terdapat juga faktor lain seperti banyaknya permintaan, persaingan geopolitik, masalah kebijakan perdagangan, dan fungsi dari mineral kritis juga tak bisa digantikan dengan mineral lain.

Maka dari itu, peran mineral kritis adalah penting untuk pembuatan barang tertentu yang merupakan bagian dari inovasi teknologi, seperti dalam pembuatan ponsel, monitor layar datar, dan mobil listrik. Tidak hanya sebatas pada kebutuhan teknologi informasi dan kebutuhan kendaraan listrik saja, mineral kritis juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan teknologi kesehatan, energi bersih dan terbarukan seperti turbin angin dan panel surya, dan bahkan industri pertahanan.

Adapun mineral kritis yang digolongkan oleh beberapa negara seperti AS, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa adalah sebagai berikut: logam tanah jarang (LTJ) / rare-earth elements (REE), gallium (Ga), indium (In), tungsten (W), platinum (Pt), palladium (Pd), kobalt (Co), niobium (Nb), magnesium (Mg), molybdenum (Mo), antimoni (Sb), lithium (Li), vanadium (V), nikel (Ni), tantalum (Ta), tellurium (Te), kromium (Cr) dan mangan (Mn).

Sebagai contoh, Direktorat Jenderal EBTKE telah menggunakan litium (Li) untuk teknologi baterai terutama untuk keperluan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan kendaraan listrik. Untuk kendaraan listrik penggunaan teknologi baterai ini dapat dikategorikan lagi menjadi berbasis NCA (Nickel Cobalt Aluminium Oxide) yang telah digunakan oleh produsen mobil Tesla, NMC (Nickel Manganese Cobalt Oxide) dan LFP (Lithium Ferro Phosphate). Dalam proyeksi penerapannya, diperlukan kapasitas baterai sebesar 113,8 GWh atau setara 758.963 juta ton material lithium ion untuk kendaraan listrik dan sebesar 3.9 GWh atau setara dengan 26.225 ton lithium ion untuk PLTS tahun 2030.

 

Penulis : Iqlima Nur Annisa

Editor  : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !