Loading...
image

"Penambangan nikel"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 18 January 2021 / 0 Komentar

Mineral 

Pemerintah Tegaskan Batas Ekspor Hasil Tambang Mentah Sampai Juni 2023

duniatambang.co.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan soal batas waktu izin ekspor bijih mineral yang hanya diperbolehkan sampai dengan bulan Juni 2023 saja. Lebih dari tanggal tersebut, maka pengusaha tambang tidak lagi diizinkan untuk menjual hasil tambang dalam bentuk mentah untuk ekspor.

Adapun pihaknya menerangkan bahwa aturan itu sudah sesuai dengan UU No 3 Tahun 2020 yang mengatur tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009 Pasal 170 A tentang Pertambangan Minerba.

Dalam aturan itu dijelaskan bahwa pemerintah telah memberikan batas waktu selama tiga tahun, terhitung sejak Undang-Undang itu diterbitkan, pengusaha tambang tidak boleh menjual hasil tambang mereka ke luar negeri, sebelum dilakukan pemurnian melalui fasilitas smelter di dalam negeri.

Ini berarti bahwa sampai dengan bulan Juni 2023, perusahaan tambang masih diperbolehkan untuk melakukan ekspor hasil tambang dalam bentuk mentah. Baru setelah tanggal tersebut, mereka yang masih melakukan ekspor dalam bentuk mentah, akan mendapatkan sanksi hukum.

Terkait ketersediaan smelter untuk fasilitas pengolahan hasil tambang mentah itu, pihak Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa pada tahun lalu, hanya ada satu fasilitas smelter yang telah selesai dibangun. Sehingga total sampai sekarang ini sudah ada 19 unit smelter yang terbangun.

Pemerintah pun telah menargetkan bahwa akan ada empat smelter baru yang terbangun di tahun 2021 ini. Kemudian jumlahnya akan menjadi sebanyak 28 smelter untuk tahun 2022, dan di tahun 2023 jumlahnya ditargetkan sudah mencapai 53 smelter. Dari proyek pembangunan smelter tersebut, pemerintah mencatat bahwa nilai investasi ditaksir sebesar USD21,59 juta.

Rincian dari total nilai investasi smelter itu terdiri dari, smelter nikel sebesar USD8 juta, smelter bauksit sebesar USD8,64 juta, smelter besi sebesar USD193,9 ribu, tembaga sebesar USD4,69 juta, mangan sebesar USD23,9 ribu, dan timbal serta seng mencapai USD28,8 ribu.

Dari rincian yang diungkap pemerintah tersebut, realisasinya baru mencapai USD12,06 miliar terhitung hingga semester pertama tahun 2020. Lebih lanjut, untuk empat smelter yang ditargetkan pada tahun 2021 ini, meliputi tiga smelter nikel dan satu lagi adalah smelter timbal.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor  : Faris Primayudha

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar