Detail Berita


Litbang ESDM Teliti Anoda Baterai dari Batubara


"Batubara"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 12-01-2021

duniatambang.co.id - Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan penelitian batubara untuk menjadi grafit sintetik. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung hilirisasi batubara di Indonesia.

Hilirisasi batubara yang banyak dikenal selama ini adalah likuifaksi dan gasifikasi. Namun, kali ini Litbang ESDM melakukan terobosan baru. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan nilai jual produk hilirisasi batubara.

Penelitian yang dilakukan oleh Kelompok dan Pengembangan (KP3) Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara ini yaitu pembuatan prekusor karbon dari residu distilasi batubara sebagai material penyimpanan energi.

Slamet Handoko Koordinator KP3 Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara mengatakan, grafit merupakan bahan baku utama anoda baterai yang biasanya digunakan pada baterai peralatan elektronik seperti telepon genggam, laptop dan kendaraan listrik. Grafit  mampu membuat pengisian menjadi lebih cepat.

Grafit merupakan mineral native element dengan komposisi C (karbon) yang memiliki banyak karakteristik yang unik. Grafit adalah satu-satunya mineral bukan logam yang mampu menghantarkan listrik.

Grafit terbentuk ketika batuan organik yang kaya karbon menjadi sasaran panas dan tekanan tinggi baik di kerak bumi maupun pada mantel bumi. Grafit mempunyai kegunaan yang beragam. Dengan adanya penelitian dari Litbang ESDM ini sangat membantu pengembagan hilirisasi batubara.

Sambung Slamet, selama ini sebagian besar produsen utama grafit Adalah China dan Brazil.

“Saat ini, sekitar 83% persen pasokan grafit alam dunia berasal dari China dan Brazil. Namun tidak semua grafit alam dapat digunakan sebagai anoda baterai karena alasan kemurnian dan kualitas ukuran kristal”, katanya.

Menurut Slamet, batubara kalori rendah yang melimpah di Indonesia berpotensi untuk diubah menjadi grafit sintetik. Namun, biaya produksi grafit sintetik lebih mahal sepuluh kali lipat daripada grafit alam.

Menurut Slamet, prospek pasar grafit sintetik sangat menjanjikan. Grafit akan menjadi bahan galian yang akan diburu di masa depan karena permintaan baterai yang terus meningkat.

Slamet menambahkan, penelitian grafit sintetik perlu dilakukan untuk mengantisipasi ledakan permintaan grafit di masa mendatang. Ditambah, Indonesia belum memiliki tambang grafit alam yang ekonomis.

 

Penulis : Mayang Sari

Editor  : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !