Detail Berita


ESDM Sebut Proyek Nikel Mampu Serap 23 Ribu Tenaga Kerja


"Pembakaran dalam furnace"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 07-01-2021

duniatambang.co.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan bahwa keberadaan pembangunan smelter mampu membuka kesempatan penawaran lapangan pekerjaan baru untuk para lulusan baru. Jumlah tenaga kerja yang mampu diserap dalam proyek ini diperkirakan mencapai 23.202 tenaga kerja.

Jumlah sebanyak itu dirincikan menjadi lowongan untuk lulusan Teknik Pertambangan sekitar 9.804 orang, kemudian untuk lulusan Teknik Geologi sebanyak 8618 orang, Teknik Geofisika sebanyak 3.570 orang, serta Teknik Metalurgi, Material dan Kimia sebanyak 1.210 orang.

Pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan paparan peluang penyerapan tenaga kerja dari proyek smelter dan tambang nikel itu dalam sebuah Booklet Etalase Tambang 2020. Booklet tersebut berjudul Peluang Investasi Batubara Indonesia dan data yang diungkap berdasarkan dari hasil riset yang dilakukan Kemenristekdikti pada tahun 2019 lalu

Tidak hanya itu, dalam booklet tersebut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga menjelaskan soal besaran pabrik pengolahan batubara eksisting di Indonesia yang tercatat hingga akhir tahun 2020. Jumlah pabrik pengolahan itu mencapai 7 unit. Rinciannya, sebanyak 2 unit terdapat di wilayah Sumatera Selatan, kemudian 1 unit berada di daerah Lampung, 1 unit di daerah Kalimantan Tengah, 2 unit di Kalimantan Utara dan juga 1 unit di Sulawesi Tenggara.

Sedangkan terkait jumlah ketersediaan dan produksi di beberapa pabrik pengolahan itu jumlahnya juga memberikan potensi yang menarik. Misalnya pabrik pengolahan briket milik PT Thriveni yang ada di Banyuasin Sumatera Selatan yang memiliki feedstock sebesar 130.000 dan produksi per tahun bisa mencapai 79 ribu sampai dengan 85 ribu ton.

Pabrik pengolahan briket milik PT Bukit Asam yang berada di Tanjung Enim, Sumatera Selatan juga memiliki potensi. Pabrik itu memiliki feedstock sebanyak 30 ribu sampai dengan 40 ribu, di mana produksinya antara 10 ribu sampai dengan 20 ribu ton setiap tahunnya. Ditambah lagi yang ada di Tarahan Lampung yang jumlah feedstock-nya mencapai 12 ribu dan produksi mencapai 7 ribu ton per tahun.

Jumlah itu belum termasuk pabrik pengolahan yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, seperti pabrik briket yang mampu memproduksi briket mencapai 1 juta ton per tahun milik PT ZIG Resources Technology. Kemudian ada juga pabrik semi kokas milik PT Megah Energi Khatulistiwa yang mampu memproduksi 600 ribu ton per tahun.

Pihak ESDM juga melaporkan bahwa untuk di Indonesia, biaya produksi batubara-nya adalah yang paling rendah jika dibandingkan dengan negara eksportir batubara termal yang ada di pasar global. Biaya produksi itu diketahui sebesar USD41,5 per ton.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !