Loading...
image

"Ilustrasi jaringan komunikasi global"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 1 December 2020 / 0 Komentar

Teknologi 

Teknologi Ini Mampu Petakan Air Bawah Tanah di Bekas Lahan Tambang

duniatambang.co.id - Sebuah teknologi terbaru yang memanfaatkan teknologi pencitraan radar satelit untuk menangkap pengukuran dengan skala milimeter dari perubahan ketinggian suatu medan, bisa membantu pihak berwenang guna mengelola masalah keselamatan publik dan lingkungan di area tambang batu bara yang baru ditinggalkan.

Alat tersebut dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Nottingham dan pengukurannya bisa digunakan untuk memantau dan memperkirakan tingkat air bawah tanah serta perubahan kondisi geologi jauh di bawah permukaan bumi di bekas area pertambangan.

Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Remote Sensing of Environment, para peneliti menjelaskan bahwa ketika tambang bawah tanah ditutup, air tanah yang sebelumnya dipompa ke permukaan agar kegiatan tambang menjadi aman, akan dibiarkan naik lagi sampai dikembalikan tingkat alaminya, dalam sebuah proses yang dinamakan rebound.

Hal ini berarti, pihak yang melakukan penambangan yang melakukan proses rebound, baik itu perusahaan publik maupun perusahaan swasta, membutuhkan informasi mendetail untuk tingkat rebound tersebut. Kemudian mereka bisa mengetahui dengan pasti kapan waktunya untuk bersantai atau kapan waktunya meningkatkan kekuatan pemompaan guna mengontrol tingkat air tanah dan menghindari aliran dan pembuangan yang tidak terduga.

Tim di Nottingham menggunakan teknik Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) yang canggih, yang disebut Intermittent Small Baseline Subset (ISBAS) untuk memberikan informasi terperinci. Teknik itu memanfaatkan lapisan citra satelit dari lokasi yang sama yang diambil setiap beberapa hari atau minggu tertentu, yang membuatnya mungkin untuk mengambil perubahan topografi sekecil apapun dari waktu ke waktu.

Mereka pun telah melakukan uji coba proyek tersebut di sebuah area bekas tambang batubara di Nottinghamshire, yang ditinggalkan pada tahun 2015 lalu, ketika tambang bawah tanah terakhir, Thoresby Colliery ditutup.

Uniknya, teknologi ISBAS dan InSAR mampu menghitung pengukuran deformasi lahan baik di daerah perkotaan maupun daerah terpencil sekalipun. Hal ini tentunya sangat bermanfaat saat memetakan bekas area tambang yang seringkali berada di wilayah yang terpelosok dan akses yang tidak memadai.

Kepadatan pengukuran semacam itu berarti bisa sangat memungkinkan untuk mengembangkan metode yang hemat biaya dan sederhana untuk memodelkan rebound air dalam tanah dari perubahan pergerakan permukaan.

Uji coba itu juga menemukan keterkaitan yang pasti antara pengukuran gerakan tanah dan kenaikan permukaan air tambang. Seringkali penurunan atau pengangkatan tanah terjadi sebagai akibat dari perubahan air di dalam tanah, di mana lapisannya bertindak selayaknya sebuah spons, mengembang saat terisi air dan menyusut ketika dikeringkan.

Dengan cakupan spasial yang sangat lengkap dari data InSAR, para peneliti bisa mengisi celah pengukuran antara lubang bor untuk memetakan perubahan permukaan air tambang di seluruh area tambang batubara.

Model ini memperhitungkan geologi dan kedalaman air tanah untuk menentukan tingkat rebound yang sebenarnya, dan membantu mengidentifikasi di mana masalah yang terkait dengan rebound kemungkinan akan terjadi.

Temuan InSAR ini bisa dijadikan sebagai rujukan utama informasi tambahan tentang perubahan air tanah yang menambah pengukuran lubang bor. Artinya, pemantauan dapat dilakukan dari jarak jauh, sehingga tidak memerlukan banyak tenaga kerja.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor  : Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar