image

"Emas Batangan"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 30 November 2020 / 0 Komentar

Mineral Emas 

Bagaimana Masa Depan Emas?

duniatambang.co.id - Harga komoditas emas dalam beberapa periode terakhir cenderung mengalami lonjakan ke level baru, yang mungkin memang disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang terus tertekan. Bahkan harga emas ini akan terus memecahkan rekor dari yang pernah tercatat sebelumnya, secara kontinyu. Apakah bisa demikian, dan apa yang membuat logam mulia ini begitu istimewa?

Mungkin ini adalah sebuah hal yang menarik, namun penggunaan emas pada awalnya adalah untuk diubah menjadi pernak-pernik mahal seperti perhiasan, ikonografi, dan hiasan pemakaman. Kemudian pada tahun 3000 SM, orang-orang mulai menggunakannya untuk kegiatan perdagangan, dan pada tahun 600 SM emas menjadi komponen penting sebagai mata uang pertama masyarakat.

Hingga lebih dari beberapa ribu tahun berikutnya, lebih dari 90 persen emas yang ditambang setiap tahunnya, masih digunakan untuk perhiasan, bullion dan koin, yang dengan kata lain menjadi barang koleksi yang sangat berharga.

Data yang didapat, secara global rincian penggunaan emas pada tahun 2019 lalu adalah :

  • Perhiasan : 48.5 persen
  • Investasi : 29.19 persen
  • Bank sentral : 14.84 persen
  • Teknologi : 7.48 persen

Dari data tersebut menunjukkan bahwa sangat sedikit penggunaan emas untuk kegiatan industri, meskipun nantinya hal ini akan berubah seiring teknologi yang terus menemukan cara baru untuk memanfaatkan keberadaan emas.

Namun meski demikian, emas masih tetap menjadi dasar investasi komoditas industri. Emas setiap tahunnya diproduksi untuk menciptakan produk investasi, akan tetapi tidak pernah cukup untuk membanjiri pasar, atau memungkinkan produksi secara massal.

Ada sejumlah hal yang membuat emas begitu istimewa, di antaranya adalah:

  1. Emas itu langka. Cadangan emas di bumi sangat terbatas, dan kita telah mengambil sebagian besar darinya. Hal ini kemudian menjadikan nilai emas terus naik, sementara permintaan terus bertambah. Kini banyak yang mulai menggali di tempat sampah, guna mencari keberadaan emas yang terselip dalam sejumlah perangkat elektronik.
  2. Kegiatan penambangan emas mirip seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Meski dengan adanya bantuan detektor logam dan teknologi paling canggih, tidak bisa dipungkiri jika memproduksi emas hingga menjadi barang jadi, membutuhkan biaya operasional yang sangat mahal.
  3. Emas memiliki nilai guna sangat tinggi, serbaguna dan tahan lama. Seringkali emas disebut sebagai raja logam. Emas memiliki nilai atom 79, dan nomor atom ini mengacu pada jumlah proton dalam inti atom yang ada pada suatu zat. Semakin tinggi angkanya, maka semakin padat atau berat kandungan logam tersebut. Kemudian emas juga memiliki daya tahan yang kuat, khususnya terhadap korosi dan oksidasi. Itulah mengapa emas sering ditemukan dalam artefak di situs kuno, dan tetap terlihat mengkilat dan fresh, seperti baru pertama kali diproduksi.
  4. Emas menjadi konduktor terbaik untuk panas dan listrik, dengan nilai industri yang sangat tinggi. Emas berada di peringkat ketiga sebagai konduktor terbaik, berada di bawah perak dan tembaga. Meski berada di peringkat ketiga, kembali lagi emas dengan daya tahan terbaik, jauh lebih unggul saat menghadapi masalah korosi dan oksidasi tadi dibandingkan perak dan tembaga.
  5. Padat dan mudah dibentuk. Dengan nomor atom yang tinggi itu, kandungan logam pada emas sangat padat. Namun di sisi lain juga mudah untuk dibentuk. Satu gram emas bisa dijadikan 165 meter kawat non-korosif, tahan lama. Hal ini di bidang industri akan sangat menguntungkan sekali.
  6. Bersama dengan perak dan tembaga, emas digolongkan sebagai logam koin, karena sejarah panjang peruntukannya dalam dunia perdagangan. Koin emas selalu dianggap sebagai denominasi mata uang tertinggi. Meskipun saat ini alat pertukaran menggunakan uang, namun selalu harga dari uang tersebut pada akhirnya tetap ditopang oleh keberadaan emas.

Warren Buffett, seorang pengusaha ternama dunia seringkali menggunakan frasa Bandwagon Effect, untuk menggambarkan sebuah momentum layaknya bola salju yang terjadi di saat banyak orang mulai membeli sebuah komoditas dalam jumlah besar. Semakin banyak membeli, maka akan semakin besar menciptakan permintaan, yang kemudian akan menjadikan harganya melambung.

Dengan kondisi yang ada saat ini di mana ekonomi global yang terpuruk akibat pandemi, para investor kemudian secara berbondong membeli emas sebagai aset investasi. Keunggulan emas seperti yang dijelaskan di atas, menjadi faktor utamanya dan dengan ditambah bandwagon effect, maka permintaan emas yang meningkat dan berujung pada kenaikan harga emas, tidak bisa terelakkan lagi.

Lalu apakah masa kejayaan emas tersebut telah terjadi? Setelah mencapai rekor tertinggi pada pertengahan bulan Agustus kemarin, harga emas kemudian terkoreksi dan cenderung fluktuatif di bulan-bulan berikutnya.

Meski cenderung mulai menurun, para ahli percaya jika siklus ini akan terus berlanjut, setidaknya selama suku bunga global tetap sangat rendah, mata uang mengalami pelemahan, pemerintah terus mencetak uang dan mendanai paket stimulus secara besar-besaran.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar