Detail Berita


Inilah 10 Risiko dan Peluang Bisnis untuk Sektor Pertambangan 2021


"Dump Truck di Site Penambangan"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 25-11-2020

duniatambang.co.id - Adanya pandemi COVID-19 di tahun ini begitu berdampak pada sektor pertambangan secara global, namun beberapa dampak diantaranya telah berhasil diatasi dengan sangat baik. Faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya sektor pertambangan dalam mengatasi dampak dari pandemi ini antara lain budaya keselamatan yang memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, adanya kolaborasi dengan pemerintah, sektor, pakar kesehatan dan masyarakat, serta menerapkan saran dari ahli untuk memastikan tanggapan yang konsisten dan efektif terhadap pandemi.

Beberapa tambang masih tetap beroperasi dan produktif selama pandemi, meskipun jumlah pekerja di lapangan menjadi relatif lebih sedikit. Namun kelangsungan untuk bisnis pada sektor tambang itu sendiri tetap harus dibayar mahal karena kini adanya biaya tambahan baru yang berasal dari prosedur, protokol, peralatan pengujian kesehatan, dan dukungan untuk tenaga kerja. Oleh karena itu, jelas terlihat bahwa saat memasuki tahun 2021, COVID-19 akan terus berdampak pada semua industri, termasuk sektor pertambangan. Dilansir dari Ernst & Young Global Limited, inilah 10 risiko dan peluang bisnis untuk sektor pertambangan di tahun 2021 mendatang.

1. Izin Operasi

Izin operasi tetap menjadi masalah nomor satu bagi para perusahaan pertambangan dengan 63% responden menandainya sebagai salah satu dari tiga risiko teratas. Dalam memperoleh izin operasi penambangan, perusahaan pertambangan perlu bekerja sama dengan pemerintah dan asosiasi lainnya supaya dapat diterima oleh masyarakat. Selain itu perlunya mengubah citra perusahaan menjadi lebih bernilai lagi supaya investor tertarik untuk ikut berinvestasi. Hal tersebut akan menjadi kunci untuk mendapatkan modal dan sumber pendanaan lainnya.

2. Risiko Dampak Tinggi

Pandemi ini dengan jelas menunjukkan pentingnya memahami dan meninjau risiko berdampak tinggi, terutama memahami dan meninjau hubungan yang signifikan antara kemampuan perusahaan untuk mengelola perusahaan dengan baik. Adanya pandemi ini meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan tentang bagaimana perusahaan harus mempersiapkan, mengelola, dan memantau semua kegiatan yang mempunyai risiko dengan dampak yang tinggi.

3. Produktivitas dan Kenaikan Biaya

Adanya kompleksitas penambangan yang meningkat dan harga komoditas yang turun semenjak pandemi disebabkan oleh pasokan yang terganggu dan ketidakpastian ekonomi terhadap permintaan, sehingga kenaikan biaya dan produktivitas masih belum bisa terpantau dengan baik. Dalam jangka panjang, diharapkan perusahaan pertambangan dapat mengatasi masalah ini secara efektif dengan memperhatikan biaya dan produktivitas dari hulu hingga hilir.

4. Dekarbonisasi

Dekarbonisasi menjadi isu yang meningkat setelah adanya pandemi karena salah satu tuntutannya yaitu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), yang mana hal ini masih menjadi masalah lingkungan terbesar bagi perusahaan pertambangan. Kini banyak perusahaan pertambangan kembali mengatur ulang operasi penambangan, meningkatkan fokus pada masalah lingkungan, keselamatan dan tata kelola, guna memberi keunggulan kompetitif dalam memperebutkan modal.

5. Geopolitik

Survei para eksekutif pertambangan menunjukkan bahwa isu geopolitik yang diharapkan berdampak paling besar adalah perubahan peran Amerika Serikat dalam sistem internasional, stabilitas Uni Eropa, dan hubungan Amerika Serikat-Cina. Penilaian ini mencerminkan pergeseran keseimbangan kekuatan di antara ekonomi terbesar di dunia, yang mana Amerika Serikat sedang memposisikan dirinya dari perspektif kepemimpinan, sementara Cina memainkan peran yang lebih besar dalam geopolitik. Sementara itu, Uni Eropa sedang mencari proyeksi kekuatannya sendiri yang lebih kohesif. Saat blok-blok yang baru muncul mengkonsolidasikan kekuatan mereka, hubungan di antara blok-blok tersebut dengan Uni Eropa bisa menjadi tidak stabil. Hal ini mengubah banyak dinamika bagi perusahaan pertambangan, yang mana akan adanya tren ke arah proteksionisme ekonomi untuk mendukung produsen domestik dengan memastikan bahwa negara tuan rumah akan menerima bagian yang adil dari kekayaan sumber dayanya.

6. Capital Agenda

Selama krisis akibat pandemi, para perusahaan pertambangan telah mengoptimalkan likuiditas dengan mengelola kas secara ketat, memprioritaskan pengoperasian aset inti, dan mengurangi atau memotong belanja modal yang tidak penting atau non-inti.  

7. Tenaga Kerja

Selama pandemi perusahaan pertambangan tetap berkomitmen untuk menjaga keselamatan pekerja, membantu melindungi kesehatan pekerja, dan mengurangi risiko saat bekerja. Perusahaan telah menyadari bahwa percepatan adopsi kerja jarak jauh dan tim virtual berpotensi lebih besar untuk menjaga tim tetap aman dan produktif. Pandemi telah mendorong perubahan budaya perusahaan di sektor pertambangan dengan menciptakan peluang baru untuk transformasi tenaga kerja yang berkelanjutan.

8. Volatilitas

Salah satu dampak lainnya akibat pandemi adalah volatilitas. Pandemi secara signifikan telah mengganggu rantai pasokan dalam waktu dekat dan menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan seputar permintaan komoditas tambang. Oleh karena itu, perusahaan pertambangan harus dapat membuat keputusan jangka panjang yang berkelanjutan guna dapat menghadapi kembalinya volatilitas harga komoditas yang parah, ancaman substitusi, dan perubahan permintaan pelanggan.

9. Optimasi dan Digitalisasi Data

Dampak pandemi dapat memberi manfaat dalam hal teknologi untuk menunjang optimalisasi dan digitalisasi data, seperti otomatisasi data, Artificial Intelligece, dan blockchain guna membantu kelangsungan bisnis di sektor pertambangan.

10. Inovasi

Krisis yang diakibatkan oleh pandemi memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana melakukan pendekatan sumber daya ke pasar secara inovatif. Pandemi juga bertindak sebagai katalisator untuk mendukung kolaborasi yang lebih besar di seluruh perusahaan pertambangan karena dapat menciptakan suatu kerja sama untuk mengembangkan solusi yang kreatif dan gesit guna menghadapi masalah. Inovasi yang dimaksud seperti pengembangan produk atau teknologi baru, pengembangan insentif dari penerapan inovasi perangkat, dan lain-lain

 

Penulis : Iqlima Nur Annisa

Editor  : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !