Detail Berita


Dari Tujuh Jenis Hilirisasi Batubara, Pemerintah Baru Menjalankan DME dan Syngas


"Stockpile Batubara"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 23-11-2020

duniatambang.co.id - Saat ini pemerintah Indonesia begitu gencar untuk menggelar proyek hilirisasi batubara. Tujuannya, agar komoditas batubara memiliki nilai tambah lebih besar, sebelum akhirnya dijual ke pasar. Jokowi bahkan mengeluarkan perintah, agar nantinya tidak akan ada lagi batubara dalam bentuk mentah yang dijual. Sementara perusahaan batubara juga dituntut untuk mampu mengembangkan industri turunan dari komoditas batubara.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan bahwa saat ini setidaknya terdapat tujuh jenis proyek hilirisasi batubara yang bisa dikerjakan oleh perusahaan tambang batubara di Indonesia.

Sayangnya, dari sebanyak tujuh jenis proyek hilirisasi itu, hanya dua yang sudah mulai dikembangkan. Kedua proyek hilirisasi batubara itu diantaranya adalah proyek coal upgrading untuk meningkatkan kualitas dan mutu batubara dan juga proyek pembuatan briket.

Lima jenis proyek hilirisasi batubara lainnya sejauh ini masih belum tersentuh. Lima jenis itu adalah :

  • Gasifikasi batubara permukaan
  • Gasifikasi batubara bawah tanah
  • Pencairan batubara
  • Produksi kokas
  • Coal Slurry atau Coal Water Mixture

Untuk pembuatan produk briket dengan memanfaatkan pengolahan batubara, sudah ada dua perusahaan yang menjalankan, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan juga PT Thriveni. Proyek briket tersebut dikabarkan telah menelan biaya investasi mencapai Rp200 miliar dan sudah dikomersialkan untuk saat ini.

Sementara untuk proyek gasifikasi batubara tengah dikembangkan oleh PT Bukit Asam Tbk dengan mengolahnya menjadi DME. Kemudian ada Kaltim Prima Coal dan juga Adaro Indonesia yang mengolah batubara menjadi produk methanol. Selanjutnya ada juga PT Arutmin Indonesia dengan produk Syngas yang saat ini dalam tahap finalisasi kajian, dan Berau Coal yang mengolah batubara menjadi produk DME serta Hidrogen yang masih dalam tahap melakukan kajian awal.

Pihak Kementerian ESDM menjelaskan bahwa ada banyak tantangan yang menjadi kendala cukup besar dalam mewujudkan proyek hilirisasi batubara ini. Untuk gasifikasi batubara menjadi DME misalnya, tantangan terbesarnya ada pada biaya investasi yang sangat mahal dan harga dari produk DME nantinya juga harus mampu bersaing dengan produk LPG yang ada saat ini.

Di sisi lain, proyek hilirisasi batubara untuk diolah menjadi Syngas juga tak luput dari adanya kendala. Selama ini masih belum ada teknologi mutakhir yang mendukung, sehingga Syngas masih dianggap memberikan citra kurang baik terhadap lingkungan sekitar.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor  : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !