Loading...
image

"Tanaman Eceng Gondok"
Sumber gambar: gurupendidikan.co.id

Dunia Tambang / 13 November 2020 / 0 Komentar

Mineral 

Menilik Peran Fitoremediasi Sebagai Upaya Menurunkan Kadar Logam Berat Tambang

duniatambang.co.id - Persoalan pertambangan rakyat yang sebagian besar ilegal semakin marak di pelosok tanah air. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2018 menyatakan bahwa sekitar 25 persen dari 8683 titik yang diduga penambangan ilegal di Indonesia merupakan penambangan emas. Selain beroperasi tanpa izin, Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) juga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada kesehatan, salah satunya pencemaran lingkungan berupa kontaminasi logam berat merkuri pada kegiatan PETI tersebut.

Merkuri adalah logam berat berwarna perak keputih-putihan dan berfasa liquid pada suhu ruangan. Merkuri merupakan salah satu logam berat yang banyak ditemukan sebagai bahan pencemar lingkungan dan sangat berbahaya karena sifatnya yang beracun dan dapat merusak ekosistem air. Dalam industri pertambangan sebagian besar keberadaan merkuri digunakan dalam proses amalgamasi untuk mengekstraksi emas, meskipun sebenarnya proses konvensional ini sudah dilarang karena selain mengakibatkan pencemaran lingkungan, recovery dari ekstraksi emas yang dihasilkan relatif lebih rendah.

Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampurkan bijih emas dengan merkuri (Hg). Dalam proses ini akan terbentuk ikatan senyawa antara emas, perak, dan merkuri yang biasa dikenal sebagai amalgam (Au–Hg). Amalgam inilah yang berguna untuk dapat mengekstraksi emas dalam butiran kasar dari batuan yang telah ditambang. Setelah ekstraksi emas didapat, limbah dari proses amalgamasi tersebut dibuang ke laut, sungai, atau tanah yang nantinya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Salah satu upaya untuk dapat menurunkan kadar logam berat merkuri adalah dengan memanfaatkan metode fitoremediasi. Fitoremediasi adalah suatu pengembangan metode terbaru dalam teknik pengolahan limbah dengan memanfaatkan tumbuhan dan mikroorganisme untuk meminimalisasi dan mendetoksifikasi bahan pencemar. Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah organik, anorganik, maupun unsur logam seperti As, Cd, Cr, Hg, Pb, Zn, Ni dan Cu baik dalam bentuk padat, cair dan gas. Menurut Priyanto dan Prayitno (2007), penyerapan dan akumulasi logam berat oleh tanaman dapat dibagi menjadi tiga proses yang sinambung sebagai berikut.

1. Penyerapan oleh akar

Agar tanaman dapat menyerap logam, maka logam harus dibawa ke dalam larutan di sekitar akar dengan beberapa cara bergantung pada spesies tanaman. Senyawa-senyawa yang larut dalam air biasanya diambil oleh akar bersama air, sedangkan senyawa-senyawa hidrofobik diserap oleh permukaan akar.

2. Translokasi logam dari akar ke bagian tanaman lain.

Setelah logam menembus endodermis akar, logam atau senyawa asing lain mengikuti aliran transpirasi ke bagian atas tanaman melalui jaringan pengangkut ke bagian tanaman lainnya.

3. Lokalisasi logam pada sel dan jaringan.

Hal ini bertujuan untuk menjaga agar logam tidak menghambat metabolism tanaman. Sebagai upaya untuk mencegah peracunan logam terhadap sel, tanaman mempunyai mekanisme detoksifikasi, misalnya dengan menimbun logam didalam organ tertentu seperti akar.

Beberapa penelitian yang telah menerapkan metode fitoremediasi sebagai upaya menurunkan kadar logam berat tambang antara lain:

1. Bioremediasi Merkuri (Hg) dengan Tumbuhan Air pada Limbah Tambang Emas Rakyat Dimembe Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara

Penelitian ini menggunakan kangkung air sebagai fitoremediator dengan hasil berupa kadar merkuri pada limbah pengolahan yang semula 9,035 mg/l turun menjadi 0,314 mg/l pada hari ke-30.

2. Fitoremediasi Sebagai Alternatif Pengurangan Limbah Merkuri Akibat Penambangan Emas Tradisional di Ekosistem Sungai Tulabolo Kabupaten Bone Bolango.

Penelitian ini menggunakan tumbuhan paku pakis, keladi tikus, dan batang hijau sebagai fitoremediator dengan hasil berupa kadar merkuri pada lingkungan setempat yang semula 609,22 ppm turun menjadi 12,40 ppm.

3. Pemanfaatan Purun Tikus (Eleochalis dulcis) untuk Menurunkan Kadar Merkuri (Hg) pada Air Bekas Penambangan Emas Rakyat.

Penelitian ini menggunakan tumbuhan Eleochalis dulcis sebanyak tiga kilogram sebagai fitoremediator dengan hasil berupa kadar merkuri turun sebanyak 99,84% pada hari ke-15.

Menurut US Environmental Protection Agency, metode fitoremediasi mempunyai beberapa kelebihan yaitu dapat dilakukan dengan teknologi in-situ, tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan, dapat diterima oleh masyarakat awam, modal proses relatif kecil, dan biaya yang dibutuhkan relatif kecil. Akan tetapi metode ini juga mempunyai beberapa kelemahan seperti proses pembersihan yang diperlukan relatif lama, logam yang terakumulasi pada tanaman dapat memasuki rantai makanan apabila tanaman tersebut termakan oleh mahluk hidup, keefektifannya dipengaruhi musim, dan apabila konsentrasi kontaminan tinggi dapat menyebabkan fitotoksik serta dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

 

Penulis : Iqlima Nur Annisa

Editor  : Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar