Detail Berita


Sejarah Uang Logam di Indonesia dan Kaitannya dengan Bahan Tambang


"Uang Logam Indonesia"
Sumber gambar: pxhere.com


Tanggal terbit: 27-10-2020

duniatambang.co.id - Uang logam atau biasa juga disebut koin sudah dikenal lama oleh dunia sejak sekitar 600 SM. Karena sudah lama ditemukan, uang logam mempunyai cerita sejarah yang menarik dan multifungsi terutama di Indonesia. Hal menarik baru terjadi beberapa waktu dahulu, yakni beberapa uang logam kuno dapat dijual kembali hingga ratusan juta rupiah. Hal tersebut sangat wajar karena uang logam kuno memiliki nilai historis dan bahan baku pembuatnya sangat bernilai, yakni berasal dari beberapa bahan tambang. Ulasan sejarah uang logam dan bahan tambang sebagai bahan utamanya di Indonesia akan dibahas untuk mengenal lebih dalam fakta uang logam.

 Uang logam di Indonesia dimulai sejak 800-1600 Masehi. Saat itu, uang logam masih menggunakan koin emas/perak dan hanya sekadar digunakan untuk alat tukar. Kemudian, seiring berjalannya waktu koin emas/perak sebagai alat tukar ditinggalkan karena tidak seluruh barang punya nilai sama dan kesepakatan semakin sulit diperoleh oleh kedua belah pihak. Untuk menyikapi hal tersebut, kolonial Belanda mengeluarkan uang logam bernilai ½ - 1 duit sekitar tahun 1700an. Perkembangan uang logam terus muncul dari kolonial Belanda hingga tahun 1945. Pada tahun tersebut menjadi tahun terakhir penerbitan uang logam dari Belanda dengan nominal ½ sen. Setelah pemerintah Belanda, Indonesia memproduksi uang logamnya sendiri, tetapi masih menggunakan mata uang sen hingga tahun 1962 dengan nominal 1 sen. Mata uang rupiah baru muncul di uang logam sekitar tahun 1970 dengan nominal Rp 2 hingga terakhir di tahun 2016 dengan nominal Rp 1000. Jika kita lihat perkembangan sejarah uang logam dari dulu hingga sekarang, desain yang digunakan unik dan beragam. Konon kebanyakan negara membuat desain gambar uang logam berdasarkan pada kearifan lokal daerahnya.

Berkaitan dengan desain, uang logam juga memiliki sejarah perkembangan bahan utama pembuatannya, yaitu bahan tambang. Bahan utama membuat uang logam selalu berubah seiring waktu. Pada awal sejarahnya, mata uang Indonesia menggunakan bahan baku emas dan perak sebagai koin alat tukar. Namun, saat ini bahan utama emas hanya digunakan untuk membuat uang logam khusus Bank Indonesia bukan sebagai alat transaksi. Nominal uang lain juga berasal dari bahan tambang logam berbeda, seperti uang logam 50 sen tahun 1959 berasal dari tembaga. Pada umumnya uang logam yang dicetak setelah tahun tersebut berasal dari alumunium, seperti Rp 2, Rp, 5, Rp 25, dan Rp 100. Beberapa uang logam terbuat dari bahan tambang khusus, seperti uang logam nominal Rp 1000 terbitan tahun 1993 yang bergambar kelapa sawit berasal dari Nikel dan Alumunium Perunggu. Kemudian, nominal uang logam Rp 500 terbitan tahun 1997 berasal dari Alumunium Perunggu dan nominal uang logam Rp 100 terbitan tahun 1978 berasal dari Tembaga Nikel. Seluruh uang logam tersebut dicetak oleh perusahaan PERURI (Percetakan Uang Republik Indonesia).

Uang logam mungkin bagi sebagian orang tidak bernilai karena hanya membuat penuh dompet dan sering diabaikan. Namun, keberadaan uang logam sangat tidak akan lekang oleh waktu karena mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Selain itu, bahan tambang selalu digunakan untuk bahan utamanya.

 

Penulis : Muhammad Alzaid Ponka

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !