Detail Berita


Mengenal Batu Bacan sebagai Batu Permata di Indonesia


"CIncin Batu Bacan sebagai Perhiasan"
Sumber gambar: pinterest.com


Tanggal terbit: 13-10-2020

duniatambang.co.id - Komoditas batu permata menjadi daya tarik sendiri untuk orang Indonesia karena keindahan warna dan teksturnya. Komoditas yang merupakan bahan galian golongan C ini (UU No. 11 Tahun 1967) mempunyai nilai ekonomi tersendiri. Batu bacan adalah salah satu batu permata yang 10 tahun ke belakang sempat mengkilau keberadaanya hingga ke luar negeri. Hal menarik jika kita bisa coba menelusuri asal usul dan pembentukan batu bacan ini.

Batu bacan dikenal dengan istilah ilmiah Chrysocolla in Chalcedony atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu krisokola kuarsa. Batu bacan berasal dari Pulau Kasiruta yang ditempuh sejauh 3-4 jam dari Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku. Karena tampilan dan warna batuan yang memukau, batu bacan sering dicari orang sebagai perhiasan cincin dan dijual dengan harga yang cukup tinggi (gambar 1).

Batu bacan/krisokola identik berwarna hijau kebiruan ini disebabkan oleh proses perubahan mineral unsur tembaga (Au) porfiri. Pembentukan endapan porfiri berhubungan dengan proses hidrotermal. Endapan ini dibawa oleh larutan air bersuhu tinggi dan diendapkan di bawah permukaan. Endapan porfiri ini biasanya membentuk endapan logam Au dan berhubungan sistem stockwork (gambar 2). Stockwork adalah suatu kondisi mineral terakumulasi di atas intrusi batuan beku dan membentuk sistem kompleks vein/urat yang banyak dan acak. Lokasi vein/urat tersebut membuat bijih endapan porfiri terbentuk. Biasanya pada endapan inilah krisokola secara bersamaan dapat terbentuk.

Ciri-ciri penemuan bacan di lapangan berupa urat-urat atau veins yang bersamaan/ didominasi dengan batuan basaltik (vein type chrysocolla) (gambar 3). Pada bersamaan juga terjadi pembentukaan mineral azurite, malachite, dan cuprite. Penemuan batu bacan biasanya terdapat di dalam goa-goa dan persebarannya mengikuti urat yang ditemukan. Setelah ditemukan, batuan tersebut dipoles dan dibentuk sesuai yang diinginkan.

Kini, keberadaan batu bacan memang tidak seramai saat 10 tahun silam. Selain itu, kita mungkin ingat saat Presiden Republik Indonesia yang keenam Susilo Bambang Yudhoyono memberi kenanng-kenangan berupa batu bacan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam Konferensi Asia Afrika ke-60 di Jakarta. Hal tersebut membuat tren batu bacan sangat diperhatikan di Indonesia. Namun, pamor batu bacan di luar negeri masih tinggi peminatnya, sehingga peran pemerintah dan masyarakat dibutuhkan untuk promosi batu permata ini.

 

Penulis : Muhammad Alzaid Ponka

Editor   : Umar RP.

 

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !