Detail Berita


Diprediksi Penuhi Demand Dunia 2093, Pembangunan Smelter REE Hasil Penambangan Timah Kian Digalakkan



Tanggal terbit: 26-06-2019

duniatambang.co.id - Dengan meningkatnya kebutuhan Rare Earth Element (REE) atau logam tanah jarang di dunia, Indonesia menjadi bagian dari rantai pasok untuk menyediakan logam tanah jarang bagi pasar dalam negeri maupun global. Terutama dengan meningkatnya produksi kendaraan listrik, OPEC memprediksi pada tahun 2040 produksi mobil listrik mencapai sekitar 250 juta unit sehingga kebutuhan logam tanah jarang ini akan semakin tinggi.

 

Untuk mendapatkan logam tanah jarang dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu mendapatkan dari hulu  dan dari pengolahan slag. Dari hulu dapat dilakukan dengan penambangan timah dengan kadar yang lebih besar dan biaya lebih murah. Sedangkan, dari pengolahan slag, kadar logam tanah jarang yang didapatkan relatif rendah dan biaya lebih tinggi.

 

Dalam kajian KESDM pada tahun 2017, bahwa logam tanah jarang dari  pengolahan slag, terdapat 6 unsur dengan kadar yang tertinggi adalah Cerium (16.400 ppm), Yttrium (13.900 ppm), Lanthanum (7.470 ppm), Neodymium (6.470 ppm), Dysprosium (2.210 ppm), dan Praseodymium (1.810 ppm).

 

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, logam tanah jarang merupakan produk samping dari penambangan timah. Hasil penelitian BATAN, potensi logam tanah jarang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diestimasikan sebesar 7.000.000 ton. Adapun mineral-mineral yang mempunyai nilai ekonomis, yaitu ilmenit (32,43%), zircon (16,65%), kasiterit (12,59%) dan monasit (11,76%).

 

Dengan banyaknya potensi logam tanah jarang pada penambangan timah, PT Timah Tbk (TINS) akan merealisasikan proyek pengembangan monasit. Saat ini TINS sedang merampungkan studi kelayakan dan desain pabrik proyek mineral tanah jarang jenis monasit TINS mengembangkan teknologi pemisahan antara bijih timah dan logam tanah jarang di Tanjung Ular Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pembangunan teknologi ini guna meningkatkan kadar logam tanah jarang agar bernilai jual tinggi.

Proses untuk mendapatkan produk logam tanah jarang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu metode basa dengan melarutkan konsentrat monasit dalam larutan alkali dan metode asam dengan melarutkan konsentrat monasit dalam larutan asam.  Tahapan untuk mendapatkan produk logam tanah jarang meliputi penambangan, kominusi, peningkatan kadar, dan ekstraksi.

 

Dalam simulasi kajian KESDM tahun 2017, jika kapasitas smelter pengolahan slag 3000 ton per tahun, maka akan dapat memenuhi demand dunia hingga 1,13% pada tahun 2045. Jika kapasitas smelter 10.000 ton per tahun dapat memenuhi demand dunia sekitar 4,23% pada tahun 2056. Dan jika kapasitas smelter dibangun sebesar 3000-6000 ton per tahun dan mulai beroperasi pada tahun 2019, dapat beroperasi hingga tahun 2093 sehingga mampu memenuhi demand dunia sekitar 1,13% pada tahun 2045 dan 2,65% pada tahun 2093. Diperkirakan demand dunia terhadap logam tanah jarang 360 ribu ton pada tahun 2045 dan 696 ribu ton pada tahun 2093.

 

Perolehan logam tanah jarang akan jauh lebih besar jika dilakukan dari sejak hulu penambangan timah. Untuk itu, KESDM terus menggiatkan usaha-usaha untuk meningkatkan nilai tambah logam tanah jarang sehingga pada  2045 Indonesia dapat menjadi pesaing berat China dalam memenuhi demand dunia terhadap logam tanah jarang.

 

(MS)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !