Detail Berita


China Menjadi Negara Adidaya Penghasil Logam Tanah Jarang terbesar di dunia, Indonesia Kapan?



Tanggal terbit: 25-06-2019

duniatambang.co.id – Agenda perdana Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) pasca Idul Fitri mengadakan forum diskusi yang dihadiri lebih dari 100 orang geosaintis yang penasaran dengan potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia. Pertanyaan yang sering muncul adalah, kapan Indonesia bisa memulai produksinya sendiri. Mengutip dari presentasi yang disampaikan oleh M. Awaludin,  “Pemerintah melalui Badan Geologi telah melakukan penyiapan program kerja untuk mengkaji keekonomian dan evaluasi sumberdaya dan cadangan mineral ikutan timah yang ada di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau, kemudian terus meningkat untuk wilayah lainnya seperti Kalimantan Barat dalam Jalur Timah ASEAN (ASEAN Tin Belt), sehingga pada tahun 2021 diharapkan bisa memiliki skala prioritas (terpilih) yang terintegrasi dengan sistem Pokja dari berbagai instansi untuk mendukung proses hulu hingga hilir pada LTJ.

 

“Beberapa tahun lalu, LTJ dikategorikan sebagai strategic mineral dimana pemanfaatannya bisa untuk pengolahan industri elektronik dan tenaga nuklir yang umumnya digunakan pada negara-negara maju, tetapi saat ini LTJ menjadi hal yang sangat penting dan digolongkan menjadi critical mineral” Tutur Sukhyar,  yang turut hadir dalam acara “The Indonesia REE Update: Where We Are at and Where to” yang diadakan oleh MGEI pada 20/06/2019 di Jakarta.

 

Hal lain yang disampaikan oleh Sukhyar secara khusus yang sekaligus mantan Dirjen Minerba yang pensiun di tahun 2015 yaitu, di Indonesia memang belum ada yang mengatur tentang pengajuan izin untuk mendirikan IUP khusus LTJ, tetapi bagi beberapa perusahaan yang didalamnya IUP-nya memiliki potensi besar dalam kehadiran LTJ seperti di PT. Timah Tbk, dapat mengajukannya ke pemerintah untuk bisa menerbitkan IUP Khusus.

 

Sebelumnya, Ade Kadarusman yang merupakan ahli geologi mengutarakan 90 % produksi dan sumberdaya LTJ berada di China dan hal tersebut menjadi salah satu alasan kenapa Amerika sangat khawatir dengan ekstraksi LTJ yang ada di China, dimana China bisa memotong rantai pasok LTJ dan menjadi negara maju yang memiliki bahan baku teknologi canggih di dunia. Pada tahun 1960 – 1990 an Amerika memang sangat mendominasi dengan produksi LTJ, tetapi semenjak tahun 2000an China menjadi negara terbesar produsen LTJ.

 

Indonesia telah tertinggal sangat jauh dibanding China, dimana China telah melakukan riset puluhan tahun silam, sedangkan di Indonesia baru dimulai kembali dengan adanya Pokja di tahun 2018. Kemudian di ASEAN seperti di Vietnam yang telah memproduksi hingga tahap alloy. Perlu adanya stimulan khusus untuk memudahkan proses tahapan eksplorasi, ekstraksi dan pengolahan pada LTJ, dimana isu-isu seperti perizinan IUP LTJ, royalti, tumpang tindih oleh mekanisme pertambangan yang harus diselesaikan secara cepat, guna menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil LTJ untuk meningkatkan produksi bahan baku sebagai komponen peralatan elektronik canggih. (HUF)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !