Detail Berita


AP3I Sebut Tembaga Lebih Cocok Untuk Komponen Pendukung Baterai Kendaraan Listrik


"Mobil Listrik Tesla"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 23-09-2020

duniatambang.co.id - Asosiasi Perusahaan Industri dan Pemurnian Indonesia (AP3I) memberikan tanggapannya atas rencana pemerintah yang bakal menjadikan tembaga sebagai alternatif bahan pembuat baterai kendaraan listrik. Menurut pihaknya, hal tersebut perlu mendapatkan pertimbangan dan perencanaan yang matang.

AP3I mengatakan bahwa setiap karakteristik yang dimiliki tiap mineral itu memiliki perbedaan masing-masing, termasuk juga tembaga. Rencana untuk menjadikan tembaga sebagai sumber alternatif bahan baku baterai perlu kajian yang lebih mendalam.

Menurut pihaknya, tembaga lebih cocok untuk dijadikan sebagai komponen pendukung, dibandingkan dijadikan bahan baku utama seperti nikel ataupun kobalt. Lebih lanjut, ada proses pemurnian tembaga jauh lebih sulit ketimbang kobalt atau nikel.

Bijih tembaga memiliki unsur senyawa H2SO4 atau biasa disebut asam sulfat. Di mana, senyawa itu melekat sangat erat dengan tembaga murni sehingga diperlukan pembakaran secara optimal di smelter untuk melepaskannya.

Sementara asam sulfat sendiri biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk. Untuk industri baterai kendaraan listrik, asam sulfat yang ada di bijih tembaga lebih cocok digunakan sebagai bahan pelapis zat nikel dan juga kobalt, yang kemudian digunakan sebagai baterai lithium atau juga baterai kendaraan listrik.

Melihat dari kondisi ini, bagi AP3I adalah hal yang wajar jika kemudian pemerintah berambisi membangun smelter di tembaga di kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah. Nantinya smelter tembaga itu akan mengolah tembaga untuk dijadikan bahan komponen pendukung baterai kendaraan listrik. Apalagi, kawasan itu adalah kawasan industri pengolahan yang lokasinya paling dekat dengan pusat sumber tembaga yang ada di Timika, Papua.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sebelumnya mengemukakan ambisi pemerintah yang pada tahun 2024 sudah bisa memproduksi baterai kendaraan listrik tipe 811. Pihak pemerintah pun akan bekerjasama dengan dua perusahaan asal Cina untuk mewujudkannya.

Rencananya pihak pemerintah bakal membangun smelter tembaga di Halmahera selatan, dengan mengambil bahan baku dari Timika. Smelter itu nantinya diharapkan tidak hanya untuk memproduksi baterai kendaraan listrik saja, tetapi juga komponen lain seperti kabel, pipa dan juga asam sulfat.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !