Detail Berita


Eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) Indonesia, Siapkah Kita?



Tanggal terbit: 24-06-2019

duniatambang.co.id – Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) melakukan suatu diskusi menarik tentang “The Indonesia REE Update: Where We Are at and Where to” yang sekaligus menjadi agenda halal bihalal anggota yang berlangsung di connectinc.id (20/06/2019). Adapun narasumber yang hadir pada agenda tersebut diantaranya Ade Kadarusman, P.hD. (AKA Geosains Consulting), Dr. Noor Cahyo (P3GL dan BATAN), M. Awaludin (Badan Geologi), dan Hadi Sundoyo, S.T., MBA (PT. Timah).

 

Mengutip dari data produksi LTJ di tahun 2018, China merupakan negara yang memiliki produksi LTJ tertinggi di dunia yaitu 120,000 mt yang disusul oleh Australia (20,000 mt) dan United States (15,000 mt). Hal tersebut terjadi karena kebutuhan LTJ berbanding lurus dengan kebutuhan produksi teknologi pada negara-negara maju tersebut. Isu yang terjadi saat ini yaitu China vs USA sedang melakukan perang dagang, dimana salah satu faktornya adalah rantai pasok dalam kebutuhan LTJ (Baca juga: https://duniatambang.co.id/Berita/read/124/)

 

Sedangkan, pada tahun 2018 Pemerintah melalui Kementrian Perindustrian telah menerbitkan Kepmen Perindustrian No 236 tahun 2018 Pembentukan Tim Pengembangan Industri Berbasis Logam Tanah Jarang, yang bertujuan untuk melakukan Inventarisasi dan Eksplorasi Sumberdaya dan Cadangan LTJ dengan beranggotakan dari 7 (tujuh) Instansi meliputi (Pusat Geologi Kelautan, Pusat Teknologi Bahan dan Galian Nuklir,  Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Pusat Survei Geologi, ESDM Prop. Kepulauan Bangka Belitung, PT. Timah, dan Deputi Teknologi dan Informasi Energi BPPT).

 

Menyambut Kepmen tersebut, tim POKJA (Kelompok Kerja) dibentuk dengan arahan untuk melakukan integrasi dengan POKJA lainnya dalam menyiapkan karakteristik dan kedudukan potensi endapan LTJ, kemudian memanfaatkan potensi mineral ikutan yang ditemukan. Bukti konkrit yang terjadi pada saat ini adalah pada IUP PT Timah dimana perusahaan plat merah tersebut memiliki LTJ dengan kandungan yang cukup tinggi meliputi monasit = 25,7 gr/m3 , xenotime = 3 gr/m3 , dan zircon 17,5 gr/m3, tetapi belum ada pemanfaatan secara maksimal dari pengolahan tersebut selain dari komoditi utamanya. Maka dari itu, Harapannya, dengan pembentukan tim POKJA tersebut bisa menjadi bekal dalam memanfaatkan LTJ sebagai pemenuhan teknologi maju meliputi komponen elektronik maupun bahan baku nuklir.

 

Pada kurun waktu 10 tahun terakhir, sebenarnya isu dari pengelolaan LTJ telah disusun oleh pemerintah yang berguna untuk memanfaatkan hasil dari LTJ secara maksimal untuk meningkatkan PNBP, karena hingga saat ini belum ada payung hukum secara pasti dimana negara memiliki potensi besar untuk kehilangan pendapatan dari sektor tersebut. Pemerintah telah menyiapkan beberapa peraturan yang mengatur dari pemanfaatan LTJ yang dituangkan dalam PP No 23 tahun 2010 yaitu monasit diklasifikasikan sebagai mineral mengandung radioaktif sehingga pengelolaannya melibatkan BATAN dan BAPETEN, kemudian pada Permen ESDM No 1 tahun 2014 dimana LTJ (disebut REOH) sudah dinilai sebagai komoditas dengan syarat lebih dari 99%, dan dilanjutkan dengan permen ESDM No 5 tahun 2017 dimana mewajibkan pemilik IUP melakukan pengolahan dan pemurnian terhadap mineral ikutan.

 

Sebenarnya, dengan arah pengolahan yang telah dimuat dari POKJA dengan segala peraturan dan ketentuan yang melekat didalamnya. Indonesia sudah bisa membangun industry hilir pengolahan/ pemurnian monasit. Dimana perlu diusulkan petunjuk teknis tata cara pengajuan dan pengolahan dan pemurnian dari konsentrat monasit yang diperoleh sebagai mineral ikutan timah dengan memperlihatkan kewenangan instansi terkait yang sudah diatur dalam UU.

 

(HUF)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !