Detail Berita


Kebangkitan Harga Saham PT Bumi Resources (BUMI) September 2020


"Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk. Saptari Hoedjaja (Kanan), Didampingi Direktur Dileep Srivastava (Kiri) "
Sumber gambar: bisnis.com


Tanggal terbit: 17-09-2020

duniatambang.co.id – Bursa saham kembali dibuat geger pada Selasa kemarin (15/9/2020) setelah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil bangkit dari level terendahnya, yakni Rp. 50/saham menjadi Rp. 51/saham pada perdagangan awal di sesi I.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, sepanjang perdagangan kemarin, saham BUMI juga bergerak ke level tertinggi harian yakni Rp. 54/saham, kendati pada akhir perdagangan sesi II, saham perusahaan tambang Grup Bakrie ini ditutup masih di level Rp. 50/saham.

Nilai transaksi saham BUMI mencapai Rp. 41,29 miliar dengan volume perdagangan 806,10 juta saham, dan catatan net sell asing kemarin sebesar Rp. 3,24 miliar. Sedangkan kapitalisasi pasar BUMI mencapai Rp. 3,37 triliun, lebih rendah dari anak usahanya yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan market cap sebesar Rp. 4,76 triliun.

Saham BRMS bahkan mencatatkan penguatan tertinggi di BEI kemarin, atau memimpin top gainers dengan kenaikan hingga 21,82% di posisi Rp. 67/saham. Padahal, dalam sepekan terakhir, saham BRMS melesat 24%, tetapi dalam sebulan terakhir naik 34% dan year to date atau tahun berjalan saham BRMS melesat 28,85%. Sebagai perbandingan, pada Kamis (03/09/2020), saham BUMI juga sempat melesat hingga 16% menuju level Rp. 58/saham sebelum akhirnya ditutup naik 4% di level Rp. 52/saham.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunanan Luar Biasa (RUPSLB)

Salah satu sentimen pasar bagi saham BUMI ialah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Luar Biasa (RUPSLB) ketiga pada Rabu ini (16/09/2020). Sebelumnya RUPSLB Kedua yang dilakukan pada 23 Juli 2020, tetapi untuk mata acara kedua dalam RUPSLB Kedua tidak memenuhi persyaratan kuorum kehadiran.

RUPSLB ketiga ini akan berlangsung di Ballroom JS Luwansa Hotel, Jakarta. Dalam RUPSLB ini akan membahas perubahan dan penetapan kembali susunan Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan. Agenda ini dilakukan terkait adanya pengunduran diri Presiden Komisaris. Saat ini Presiden Komisaris Bumi Resources dijabat oleh Nalinkant Amratlal Rathod.

 

Kenaikan Harga Saham BUMI

Manajemen BUMI menilai naiknya harga saham perusahaan lantaran para pelaku pasar berhasil merespons positif kenaikan harga batu bara yang berdampak positif bagi emiten batu bara seperti BUMI.

Dileep menilai sentimen terhadap perusahaan umumnya netral ke positif, hal ini terbukti dari pergerakan saham BUMI yang akhirnya naik setelah berbulan-bulan berada di posisi Rp. 50/saham.

Menurutnya beberapa spekulasi dari cerita positif akhir-akhir ini bagi grup BUMI berdampak positif, misalnya saja prospek emas dari anak usahanya BRMS.

Selain itu perusahaan juga kemungkinan segera mendapatkan status IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) dan menjadi harapan positif dan juga RUPSLB yang akan berlangsung pada Rabu ini, (16/9/2020).

Meski demikian Dileep mengatakan tidak banyak ketidakpastian ke depannya. "Secara keseluruhan, prospek BUMI dalam jangka menengah terlihat menarik. Terutama dengan menstabilkan produksi batu bara pada 100 juta ton per tahun, menurunkan biaya, pascaprospek IUPK dari win-win refinancing dengan biaya lebih rendah.", katanya.

Dileep mengatakan harga saham perusahaan saat ini telah sangat di bawah harga untuk beberapa waktu, terutama dengan kondisi global dan sektor batu bara yang tertekan dan dia mengharapkan dengan memperoleh status IUPK saham BUMI dapat naik setelah pandemi dan harga batu bara membaik.

Rencana Investasi Kedepannya

Kemampuan investasi di masa mendatang termasuk gasifikasi, kemungkinan pembangkit listrik lainnya di anak usaha perseroan, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), mendorong output (produksi) yang lebih tinggi dari Darma Henwa, termasuk tambang Grup Bakrie, meningkatkan nilai termasuk kemitraan strategis.

"Kemudian kami dapat mempercepat pembayaran kembali hutang, mengoptimalkan struktur permodalan kami dan meningkatkan serta menciptakan nilai tambah. Kami yakin prospek jangka menengah untuk sektor batu bara dalam jangka menengah cerah, terutama di Asia," ujar Dileep.

Pekan lalu, harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) meroket 7,44% secara point-to-point. Pada perdagangan Selasa kemarin harga mulai membaik kendati masih di bawah US$ 60/ton, tepatnya di US$ 53,8/ton.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !