Detail Berita


Mengenal Jenis-Jenis Bahan Peledak Tambang


"Peledakan di area tambang"
Sumber gambar: think stock


Tanggal terbit: 15-09-2020

duniatambang.co.id - Umat manusia sudah menggunakan bahan peledak sejak dulu kala. Catatan sejarah paling jauh menemukan jika penggunaan bahan peledak sudah terjadi sejak abad ke-9 di Tiongkok. Bangsa Tiongkok membuat bahan peledak pertama dengan campuran saltpetre (potassium nitrat), sulfur dan arang. Campuran tersebut kemudian dikenal dengan nama black powder alias bubuk mesiu, yang hingga pertengahan abad ke-19 menjadi satu-satunya jenis bahan peledak yang digunakan oleh manusia, baik untuk kembang api, senjata api, artileri berat, maupun untuk kepentingan sipil seperti konstruksi bangunan dan tentu saja, urusan pertambangan.

Teknologi pembuatan bahan peledak baru mulai berkembang pesat sejak era revolusi industri. Pada masa inilah, peran bahan peledak di bidang militer dan bidang sipil menjadi terpisah, walau kemudian bahan peledak yang dipergunakan di bidang militer juga masih sering dipakai untuk kepentingan sipil, seperti peruntuhan bangunan beton dan peledakan tambang. Salah satu contoh bahan peledak yang kerap digunakan adalah ANFO (Ammonium Nitrate Fuel Oil), campuran bahan peledak cair yang paling umum digunakan dalam berbagai jenis peledak, dari kembang api hingga senjata militer.

Bahan peledak pada dasarnya adalah senyawa kimia yang bekerja lewat sebuah reaksi. Terdapat dua jenis reaksi kimia yang umumnya ditimbulkan bahan peledak, yaitu reaksi deflagrasi dan reaksi detonasi. Kedua jenis reaksi yang berbeda tersebut menentukan skala kekuatan ledakan bahan peledak tersebut.

Low-order Explosives” atau bahan peledak berdaya ringan bekerja lewat reaksi deflagrasi. Reaksi ini biasanya menghasilkan banyak gas residu dan pembakaran materialnya terjadi dalam kecepatan sub-sonik, sehingga tidak menghasilkan gelombang kejut yang dapat menimbulkan kerusakan fisik bagi lingkungan yang berada jauh dari radius ledakannya. Contoh bahan peledak berdaya ringan adalah bubuk mesiu.

Bubuk mesiu bisa disebut sebagai purwarupa dari bahan peledak modern yang ada di masa sekarang. Hingga kini, bubuk mesiu masih dipergunakan sebagai bahan pembuatan kembang api atau percon. Beberapa negara di dunia juga masih menggunakan material ini untuk peledakan  tambang karena harganya yang lebih terjangkau daripada high-order explosives.

Di sisi lain, high-order explosives alias bahan berdaya ledak tinggi adalah bahan peledak yang menghasilkan reaksi detonasi. Pada reaksi ini, bahan peledak menghasilkan gas bertemperatur dan bertekanan tinggi yang terdorong menyebar dengan kecepatan supersonik, atau lebih cepat dari suara. Ledakan dari bahan ini menghasilkan gelombang kejut yang dapat menimbulkan kerusakan fisik dalam radius jangkauan gelombangnya. Contoh bahan peledak high-order explosives yang paling populer adalah dinamit.

Sementara dari segi kemampuan daya ledaknya, bahan peledak kemudian dapat dibagi lagi menjadi tiga subkategori: peledak primer, peledak sekunder dan peledak tersier. Bahan peledak primer dan sekunder tergolong kepada high-order explosives, dan memerlukan pemicu untuk memantik ledakan berdaya besar.

Bahan peledak primer sangat sensitif terhadap panas, gesekan, benturan dan aliran listrik statis. Contoh bahan peledak primer yang digunakan di pertambangan adalah Merkuri Fulminat dan PETN (Penta Erythritol Tetra Nitrate).

Bahan peledak sekunder juga cenderung sensitif terhadap panas dan akan terbakar dalam reaksi detonasi jika diledakkan dalam jumlah besar. Contoh bahan peledak sekunder adalah dinamit. Uniknya, dinamit dalam jumlah yang lebih besar akan menghasilkan ledakan yang lebih masif jika diledakkan bersama di satu lokasi, dibandingkan jika dinamit tersebut diledakkan satu per satu pada waktu yang berbeda.

Terakhir, bahan peledak tersier adalah bahan peledak berdaya ledak rendah. Contohnya adalah amonium nitrat. Dalam beberapa keadaan tertentu, bahan satu ini kerap tidak digolongkan sebagai bahan peledak karena dibutuhkan energi ekstra untuk memicu reaksi detonasi dari bahan peledak satu ini. Meski demikian, potensi ledakan bahan peledak satu ini juga cukup berbahaya.

Kecelakaan industri di seluruh dunia yang berhubungan dengan bahan peledak biasanya melibatkan amonium nitrat di dalamnya, seperti kecelakaan ledakan di Pabrik AZF Toulouse, Perancis pada tahun 2001. Kasus terbaru adalah ledakan pabrik kembang api di tepian kota Beirut, Libanon pada Agustus 2020 lalu. Jika diledakkan dalam jumlah besar, bahan peledak tersier dapat terbakar dalam reaksi detonasi, sama seperti bahan peledak sekunder dan tersier. Gelombang kejut dari ledakan ini saja sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan pada kaca jendela, atap bahkan rangka bangunan dalam radius ledakannya.

Reaksi kimia bahan peledak dapat terjadi tanpa perantara oksigen. Dengan kata lain, bahan peledak tidak membutuhkan oksigen untuk menghasilkan reaksi deflagrasi atau detonasi, berbeda dengan reaksi pembakaran biasa yang membutuhkan keberadaan oksigen pada lingkungan sekitarnya. Reaksi ini dapat timbul karena pencampuran bahan kimia seperti serbuk alumunium dengan potassium, atau serbuk magnesium dengan amonium nitrat, yang satu sama lainnya dapat memicu reaksi pembakaran, baik berupa deflagrasi maupun detonasi.

Industri pertambangan biasanya memanfaatkan bahan peledak untuk mengekstrak bijih dari dalam tambang atau untuk menemukan kandungan bahan tambang di dalam tanah. Selain di industri pertambangan, bahan peledak juga digunakan untuk membangun jalur pipa, jalan dan mendirikan fondasi struktur bangunan seperti jembatan. Lembaga antariksa juga memanfaatkan bahan peledak untuk mendorong roket melawan daya tarik gravitasi bumi hingga dapat meluncur ke luar angkasa.

Salah satu metode peledakan pada tambang yang paling sering digunakan adalah metode drill and blast. Metode ini digunakan untuk memecah lapisan batu dan membuat celah yang dapat digunakan untuk mengangkut barang galian tambang dari dalam bebatuan tersebut ke lokasi pengolahannya. Sesuai namanya, metode ini melibatkan teknologi pengeboran batu. Lubang yang dibor pada batu kemudian ditanamkan bahan peledak dalam jumlah tertentu untuk memperlebar lubang, atau membuka rekahan pada lapisan batu tersebut.

Volume bahan peledak yang digunakan akan sangat tergantung pada berbagai faktor, seperti jenis bebatuan yang diledakkan dan tingkat kekerasannya. Perusahaan tambang biasanya berusaha menggunakan sesedikit mungkin bahan peledak, selain demi mencegah kerusakan ekosistem, juga untuk menghemat biaya dan energi.

 

Penulis : Ahmad Redho Nugraha

Editor   : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !