Detail Berita


Billitonite, Batuan Tektit Langka Khas Pulau Belitung


"Batu Satam"
Sumber gambar: meteorite-times.com


Tanggal terbit: 14-09-2020

duniatambang.co.id - Pulau Belitong atau Belitung dikenal kaya akan timah dan hasil tambang lain seperti thorium, galena, zirkonium dan kuarsa, tanah Pulau Belitong atau Belitung juga memiliki kekayaan lokal yang tidak kalah menarik: billitonite, alias batu satam.

Batu satam sudah lama dikenal sebagai produk alam khas Pulau Belitung. Pelancong yang bertandang ke Belitung biasanya menjadikan batu satam sebagai cinderamata untuk dibawa pulang, baik dalam bentuk batu utuh atau dalam bentuk perhiasan seperti cincin dan kalung. Berbagai bumbu cerita pun kerap menghiasi kisah batu satam ini, mulai dari kemampuannya memberikan efek positif bagi kesehatan hingga pembawa khasiat klenik bagi pemiliknya.

Dengan mengesampingkan semua mitos terkait batu satam, sebenarnya batu bertampilan unik ini sudah memiliki keunikannya sendiri dari segi komposisi dan asal-usulnya.

Mengenal Billitonite

Meski kerap digunakan sebagai hiasan pada mata cincin dan perhiasan logam lainnya, satam sebenarnya berbeda dengan batu akik pada umumnya. Jika batu akik biasanya dikumpulkan dari dasar perairan atau dari dalam tanah, kemudian dibelah, dipotong dan diasah hingga seukuran mata cincin, maka tidak demikian dengan satam atau billitonite. Billitonite biasanya  ditemukan di alam Belitung dalam bentuk sudah menyerupai batu cincin: bundar, oval, menyerupai telur, dalam berbagai ukuran mulai dari sebesar biji pasir hingga seukuran bola golf. Billitonite yang dijadikan hiasan batu cincin adalah billitonite yang ditemukan dalam wujud kecil. Billitonite dalam ukuran besar tidak bisa diasah dan diperkecil ukurannya seperti batu akik, karena terkstur batu ini yang pourous alias berpori dan tidak bisa dibentuk.

Billitonite sangat mudah dikenali dari bentuk terluarnya. Warnanya hitam mengkilat, seperti permukaan kaca yang gelap. Billitonite banyak ditemukan di lubang bekas galian tambang, di  wilayah perairan, di antara bebatuan dan pasir pantai atau bahkan di dasar laut. Permukaannya tidak licin, melainkan kasar, berpori dan penuh guratan. Beberapa batu satam memiliki guratan yang artistik dan terkadang menyerupai kaligrafi dalam bahasa Arab. Semakin unik bentuknya dan semakin banyak guratannya, maka semakin mahal pula harga batu satam tersebut di pasaran.

Walau memiliki nilai jual tinggi, billitonite bukan tergolong logam berharga ataupun batu mulia. Billitonite tergolong bebatuan tektit. Tektit, yang diambil dari bahasa Yunani, “t?któs” yang berarti “meleleh” adalah senyawa kaca berwujud kerikil yang terbentuk akibat benturan antara material luar angkasa dengan permukaan bumi dalam temperatur yang sangat tinggi. Sebutan tektit pertama kali dicetuskan oleh Franz Eduard Suess, seorang geolog asal Austria. Tektit biasanya ditemukan dalam bentuk alaminya, yaitu kerikil bulat yang memiliki berbagai ukuran, mulai dari skala milimeter (miktrotektit) hingga sentimeter.

Batuan tektit yang ditemukan di seluruh dunia biasanya memiliki ciri-ciri yang serupa, seperti komposisinya yang sejenis, kandungan airnya yang sangat rendah dan kayanya kandungan mineral lekatelirit di dalamnya. Selain itu, tektit biasanya tidak memiliki kandungan kristal mikrolit dan tidak memiliki kekerabatan kimiawi dengan bebatuan lokal tempat ia ditemukan.

Mengapa Dinamai Billitonite?

Batu satam Belitung disebut billitonite karena mengacu padatempat ditemukannya, yaitu Pulau Belitung. Di belahan dunia yang lain, tektit juga dinamai dengan merujuk kepada tempat mereka ditemukan, seperti Australite yang ditemukan di Australia , Moldavite yang ditemukan di Republik Ceko dan Ivorite yang ditemukan di Pantai Gading.

Saat ini terdapat empat wilayah sebaran bebatuan tektit di permukaan bumi yang dicatat oleh para geolog: Australasia, Eropa Tengah, Pantai Gading dan Amerika Utara. Bebatuan tektit tersebut memiliki kemiripan satu sama lain, baik dari sisi fisikal, kimiawi maupun usia bebatuan, dan tiga di antara empat wilayah persebaran batu tektit tersebut memiliki hubungan langsung dengan keberadaan kawah hasil benturan meteorit di lokasi penemuannya.

Uniknya, tidak semua bebatuan tektit yang ditemukan di seluruh dunia memiliki warna hitam mengkilap seperti billitonite. Moldavite, contohnya. Batu tektit yang ditemukan di wilayah Republik Ceko ini memiliki warna hijau, sama seperti georgiaite yang ditemukan di negara bagian Georgia, Amerika Serikat. Selain itu, ada pula badiasite dari Texas yang sebagiannya ditemukan dalam warna cokelat gelap.

Tektit memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan batuan kaca hasil erupsi vulkanik (obsidian). Perbedaannya terdapat pada karakteristiknya yang unik, yaitu minimnya kandungan mikrolit dan tingginya kandungan silikon (>65%) di dalamnya. Di samping itu, kandungan air di dalam tektit sangat minim (<0,02%), dan tektit kerap mengandung senyawa lekatelirit yang tidak dimiliki oleh bebatuan obsidian hasil erupsi vulkanik. Proses peleburan antara material luar angkasa dan permukaan tanah Belitung yang berpasir juga kerap membuat mineral lain seperti kuarsa, koesit dan zirkon ikut larut dan melebur di dalam billitonite maupun bebatuan tektit lainnya di seluruh dunia.

Nilai Ekonomi Batu Satam

Di pasar lokal, batu billitonite yang lebih sering disebut penduduk Belitung dengan nama  batu satam biasanya dijual dalam kisaran harga antara Rp. 170.000 hingga jutaan rupiah per butirnya. Nilai jual batu satam sangat bergantung dengan bentuk, ukuran dan teksturnya. Penjual batu satam lokal biasanya menggunakan bantuan senter untuk menerawang bentuk batu satam. Semakin unik bentuknya dan semakin banyak guratannya, maka semakin mahal harga jual batu satam.

Meski kerap diperdagangkan secara terbuka sebagai suvenir di Tanjung Pandan, Belitung, billitonite ternyata tergolong tektit yang sangat langka di pasar kolektor batuan langka dunia. Norm Lehrman, salah seorang geolog veteran dengan pengalaman lapangan 45 tahun adalah salah satu kolektor tektit langka dari seluruh dunia. Pada sebuah postingan blog-nya tahun 2016 lalu, dia menemukan satu billitonite yang dijual di pameran batu dan permata Tucson di AS. Itu adalah billitonite pertama yang pernah dia temukan di pameran tahunan yang selalu dia hadiri selama 17 tahun itu, serta merupakan salah satu koleksinya yang paling berharga hingga saat ini.

Warga lokal biasanya mengumpulkan batu satam dari lubang-lubang bekas galian timah di Belitung, mengingat batuan tektit ini biasanya bercampur di dalam endapan pasir dan logam tambang. Namun karena moratorium penambangan timah di Provinsi Bangka-Belitung, batu satam kini menjadi lebih sulit diperoleh. Beberapa pencari batu satam mengalihkan pencarian mereka ke wilayah perairan laut Belitung. Mereka menyelam ke dasar perairan untuk mencari dan memilah batu satam di antara endapan pasir dan bebatuan lainnya di laut.

Batu satam terbesar yang pernah ditemukan di Belitung, bahkan mungkin termasuk batuan tektit terbesar yang pernah ditemukan di seluruh dunia, saat ini diletakkan di atas tugu Monumen Batu Satam di simpang lima, pusat Kota Tanjung Pandan, Belitung. Billitonite satu ini tidak dapat dijadikan perhiasan atau koleksi, karena ukurannya yang bukan lagi dalam skala milimeter dan sentimeter. Meski demikian, monumen tersebut kini menjadi magnet baru bagi turis domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Belitung, terutama para kolektor batu yang tergila-gila pada billitonite.

 

Penulis : Ahmad Redho Nugraha

Editor   : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !