Detail Berita


Semburan Lumpur Bleduk Kesongo: Belajar dari Fenomena Kebumian untuk Mitigasi Bencana


"Semburan Lumpur Bleduk Kesongo"
Sumber gambar: tekno.tempo.co


Tanggal terbit: 14-09-2020

  

duniatambang.co.id - Fenomena alam selalu menjadi perbincangan publik. Media massa, diperkuat media on-line, selalu muncul paling awal terkait fenomena alam.  Demikian juga pemberitaan fenomena Bleduk Kesongo yang meletup pada 27 Agustus 2020. IAGI sebagai lembaga asosiasi profesi geologi ingin memberikan penjelasan secara utuh, agar fenomena alam Bleduk Kesongo tidak hadir sebagai informasi yang terpisah-pisah.

Informasi geologis dan geografis, beserta kondisi historis kebumian perlu disampaikan ke masyarakat. Baik sebagai hal yang berpotensi positif bagi inventori sumber daya, maupun langkah-langkah mitigasi terhadap fenomena alam yang berpotensi menjadi bencana. Hal ini sangat diperlukan agar menjadi edukasi bagi masyarakat.

Mengenal Fenomena Bledek Kesongo

Kejadian semburan lumpur di Blora (Kesongo) dan Sidoarjo (Lusi), memiliki kenampakan yang mirip yaitu menyemburnya lumpur dari dalam bumi (bawah permukaan) akibat lapisan batuan dekat permukaan, yang karena suatu sebab, tidak kuat menahan tekanan pada lapisan batuan di bawahnya yang memiliki tekanan luap (overpressured). Namun secara karakter menurut Dr.Ir. M. Burhannudinnur, M.Sc. IPM. yang adalah Wakil Ketua Umum IAGI sekaligus Ketua ASPRODITEGI (Asosiasi Program Studi Teknik Geologi) menyebutkan dalam penelitiannya (Burhannudinnur, 2013) bahwa Gunung Lumpur Kesongo dan Gunung Lumpur Lusi memiliki beberapa perbedaan. Gunung Lumpur Kesongo (dikenal pula sebagai Bledug Kesongo) merupakan gunung lumpur yang berasosiasi dengan sesar/ patahan yang secara struktur berada di puncak antiklin berarah barat timur, sedangkan Gunung Lumpur Lusi berasosiasi dengan struktur diapir atau mud diapir. Ketebalan batuan sedimen dari Gunung Lumpur Kesongo berkisar sekitar 1.000 m – 3.000 m, sedangkan Gunung Lumpur Lusi memiliki ketebalan lebih besar dari 3.000 m.

Gunung Lumpur Kesongo tergolong tidak aktif namun kejadian semburan pada pekan lalu terjadi secara tiba-tiba dan intermitten. Meskipun tidak aktif, Bledug Kesongo pernah beberapa kali erupsi antara lain pada tahun 2006-2008, kemudian pada Maret 2013 selama kurang lebih 5-7 hari dan terakhir 27 Agustus 2020. Material lumpur tersebut berasal dari Formasi Tawun, yang menyembur dengan membawa gas methane, CO2, N2. Bledug Kesongo terletak dekat dengan lapangan Minyak Gabus dengan sumur-sumur tua jaman Belanda. Area ini bermorfologi perbukitan landau dena luas area morfologi pai (puncak kubah) kurang lebih 1,25x1.25 km2. Beda tinggi dengan relief sekelilingnya berkisar 20-30 m. Diameter luar morfologi kubah mencapai 2,5 km. Di puncak kubah terdapat kawah landai dengan bekas pai dari gunung lumpur. Geometri sistem gunung lumpur pada Bledug Kesongo dapat di definisikan dengan baik melalui data seismic. Beberapa rekahan dapat dikenali dengan jelas sebagai kekar dan sesar naik, dengan arah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara. Jejak pai diikuti perubahan warna melingkar lumpur dari dalam keluar berwarna abu-abu gelap, abu-abu terang, merah kecoklatan, sampai coklat muda pada bagian paling luar. Pola lingkaran warna diduga mempunyai hubungan dengan sejarah pengendapan lumpur dan periode letusannya.

Formasi Tawun (lapisan berwarna hijau) menebal di bagian tengah. Geometri Formasi Tawun menebal ke arah utara dan menipis ke arah selatan dan puncak Formasi Tawun membentuk tinggian atau struktur anticlinal. Sedangkan bagian bawahnya membentuk struktur sinklinal. Hal ini mengindikasikan adanya gejala kontraksional setelah Formasi Tawun diendapkan.

“Secara regional, Formasi Tawun di daerah Kradenan mempunyai laju sedimentasi yang paling tinggi diantara formasi lainnya berkisar antara 200-400 m/jt. Formasi lainnya berkisar 25-290 m/jt. Harga rasio strain di Kradenan relatif tinggi” ungkap Burhannudinnur. Hal tersebut menunjukkan bahwa daerah Kradenan mempunyai struktur yang sangat terdeformasi dengan rasio strain yang besar, pada tektonik kontraksional. Data ini sejalan dengan hasil penelitian terbarunya pada tahun 2020.

Identifikasi potensi sistem gunung lumpur di Formasi Tawun digambarkan oleh penelitian terakhirnya pada Gambar 4. Hal tersebut digambarkan melalui integrasi dari analisis rasio strain, laju sedimentasi dan litostatik atau tegangan vertikal daerah Kradenan yang menginformasikan lokasi zona tekanan luap di bawah permukaan yang berpotensi menjadi gunung lumpur.  Potensi gunung lumpur dapat dilihat pada Gambar 5 dengan zonasi warna biru. Zona tersebut menunjukkan projeksi zona “overpressured shale” pada Formasi Tawun di permukaan. Peta ini dapat digunakan untuk mitigasi resiko geoahazard dalam pekerjaan eksplorasi dan eksploitasi migas.

Mitigasi Yang Harus Dilakukan

Dari sisi fenomena geologi yang terjadi, menghentikan semburan, bukan langkah yang mudah yang dapat dilakukan, mengingat kondisi permukaan dan bawah permukaan. Namun, dari monitoring fenomena semburan secara rutin, pemetaan detail, bisa jadi memberikan referensi langkah teknis dan arah untuk menghentikan semburan lumpur.

Dampak utama fenomena Bleduk Kesongo, adalah semburan lumpur panas dan mengandung gas yang kalau tidak ditangani dapat merugikan lingkungan di sekitar wilayah semberan.  Dengan kondisi tersebut, hal yang harus diperhatikan, dipetakan dan dicatat secara detail, sebagai berikut :

a. Volume lumpur :  besarnya volume lumpur, posisi titik semburan dan pola naik turunnya semburan sangat perlu dipetakan dan dicatat secara detail.

b. Karakteristik lumpur : kandungan air, salinitas (jika ada), suhu lumpur, kandungan gas dan logam berat terkandung. Dengan pencatatan tersebut, akan dapat diketahui apakah lumpur tersebut akan mengarah pada semburan bahan beracun atau tidak. Ini sangat penting untuk menilai keamanan semburan dan akibatnya pada pemukiman masyarakat sekitar semburan terjadi.

c. Dampak lumpur tehadap sosial, ekonomi. Saat ini, bisa jadi fenomena Bleduk Kesongo tidak terlalu mengakibatkan gangguan atau dampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar semburan. Namun antisipasi besaran semburan, akumulasi volume semburan dan suhu lumpur bisa jadi akan mengakibatkan rusaknya lingkungan fisik yang dapat dirasakan masyarakat.

d.. Dampak Psikologis.  Pengamatan akan dampak psikologis menjadi sangat diperlukan. Bisa jadi atas asumsi yang salah dan bayangan akan dampak besar fenomena alam lainnya (seperti lumpur Lusi) dapat menjadi pikiran yang terus muncul dan melekat di sebagain anggota masyarakat sekitar semburan. Dengan sosialisasi fenomena, penjelasan keteknikan yang rasional dan mudah dimengerti, perlu terus dilakukan untuk mengurangi dampak psikologis.

Dengan sosialisasi fenomena yang terjadi, penjelasan kepada msayarakat sekitar semburan lumpur maka mitigasi atas Beduk Kesongo menjadi dapat dipersiapkan dengan baik. Sebaliknya, antisipasi mitigasi teknis dan dampak sosial dan ekonomi, perlu dilakukan secara terintegrasi, dan harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Asosiasi profesi dan juga lembaga lainnya yang terkait dengan fenomena alam sangat dapat membantu dalam hal ini. (*)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !