Detail Berita


Metode Mudah Pengolahan Limbah Air Asam Tambang


"Limbah Tambang"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 28-08-2020

duniatambag.co.id - Limbah air asam tambang merupakan salah satu permasalahan yang cukup sulit diatasi pada kegiatan pertambangan. Limbah ini terbentuk dari proses oksidasi mineral-mineral sulfida yang kemudian terekspos pada lingkungan sekitar yang kemudian membentuk air tambang yang memiliki sifat asam.

Adapun air asam tambang ini biasanya memiliki kadar pH <5. Jika terpapar ke aliran sungai atau sumber air di sekitar area pertambangan, maka makhluk hidup di area itu bisa mati dan ekosistem pun rusak.

Oleh karena itu, perusahaan tambang dituntut untuk dapat melakukan pengolahan limbah air asam ini sebagai dampak dari aktivitas pertambangan yang telah dilakukan. Selama ini proses pengolahan air asam tambang yang dilakukan perusahaan-perusahaan tambang adalah dengan memanfaatkan kapur tohor.

Biaya dalam proses pengolahan menggunakan kapur tohor ini rupanya membutuhkan biaya yang sangat banyak. Dalam sebulan perusahaan bisa mengeluarkan dana sebesar Rp200 juta sampai dengan Rp1 miliar untuk melakukan pengolahan.

Namun ada solusi yang lebih murah dan efektif untuk melakukan pengolahan limbah air asam tambang ini, yakni dengan cara natural. Proses yang bisa dilakukan adalah dengan membuat hutan rawa di daerah yang dijadikan tempat pengolahan limbah tersebut. Metode pengolahan limbah air asam dengan memanfaatkan hutan rawa ini sudah dilakukan oleh PT Jorong Barutama Greston di Kalimantan Selatan.

Proses pembuatan hutan rawa ini rupanya bisa dilakukan dengan sangat sederhana. Metodenya hampir mirip dengan membuat sediment pond. Yang membedakan adalah penggunaan isi di dalam kolam tersebut yang berupa bahan organik seperti tandan sawit ataupun bahan kompos lainnya. Kemudian ditanami dengan tanaman air seperti rumput tifa atau yang lainnya.

Lebih lanjut, kandungan bahan-bahan organik itu mampu menyerap logam berat sebagai limbah dan bagian dari air asam tambang. Nantinya juga bisa tumbuh mikro organisme yang mampu menjadi pereduksi sulfat. Sehingga kemudian logam berat itu mengendap atau juga menguap.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !